Di usia 23 tahun,, Shafa Syahrani, tampak seperti banyak anak muda Indonesia lainnya – cerdas, penuh rasa ingin tahu dan penuh mimpi. Ia tumbuh besar di Makassar dan menempuh pendidikan di Program Studi Gizi, Universitas Negeri Makassar. Shafa selalu tertarik dengan bagaimana makanan dapat memengaruhi kesehatan, tetapi semakin banyak ia belajar, semakin besar pula kegelisahannya..., UNICEF dan Novo Nordisk, untuk membantu pencegahan peningkatan beban akibat obesitas pada anak. "Saya tahu bahwa jika kampanye ini didukung oleh UNICEF, kami dapat menjangkau orang-orang yang tepat," kata Shafa, "Kami bisa membuat perubahan nyata!" Bersama dua pemimpin muda lainnya,, Bian, (20 tahun, dari Sukabumi) dan, Vanessa, (24 tahun, dari Papua), Shafa menjadi bagian dari Tim Riset Inti Fix My Food Indonesia. Misi mereka adalah untuk mengungkap bagaimana makanan tidak sehat dipasarkan kepada anak-anak dan apa yang dapat dilakukan untuk menghentikannya. Itu bukan tugas yang mudah. "Kami tidak punya buku panduan," jelas Shafa, "Kami harus mencari cara merekrut..., Investigasi yang Dipimpin oleh Anak Muda, Shafa dan tim merancang cara kreatif untuk mendokumentasikan realitas pangan anak muda. Mereka meluncurkan " Food Scavenger Hunt (Perburuan Makanan)" nasional, mengajak anak muda usia 14-24 tahun untuk berbagi foto dan cerita tentang apa yang mereka lihat, makan, dan memengaruhi mereka untuk membeli setiap hari. Sebanyak 223 anak muda..., Dari Riset ke Advokasi , Dengan dukungan dari UNICEF Kantor Regional Asia Timur dan Pasifik dan Kantor UNICEF Indonesia, para peneliti muda ini mengubah temuan mereka menjadi advokasi. Setiap minggu, mentor UNICEF memberikan bimbingan untuk mengatasi tantangan, meningkatkan semangat mereka, dan merayakan pencapaian. Lalu tibalah saat yang dinanti. Pada tanggal 10 Juli..., 43%, anak muda mengaku memilih makanan karena tampilan atau aromanya., 27%, memilih opsi yang murah dan mengenyangkan., 13%, makan apa pun yang ada di sekitar., 11%, mengaku makan berlebihan karena promo porsi. Hanya, 8%, yang menyebutkan makanan tradisional, menghubungkannya dengan budaya, keluarga, dan rasa memiliki. "Ini adalah kesempatan yang hilang," kata Shafa kepada para pemangku kebijakan. "Makanan tradisional bisa menjadi solusi untuk menggantikan makanan yang tidak sehat, asalkan dibuat lebih terlihat, terjangkau, dan menarik. Dengan begitu, makanan..., Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, , Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggemakan seruannya, menekankan urgensi melindungi anak dan remaja dari pemasaran makanan yang tidak sehat, seperti promo "beli satu, gratis satu". Ia mengakui bahwa anak-anak sangat rentan terhadap strategi pemasaran persuasif dan menekankan perlunya pemerintah,..., Langkah ke Depan, Bagi Shafa, ini baru permulaan. Momentumnya terus terbangun. Dengan keterlibatan anak muda yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, dan kemitraan dengan pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta, ia yakin bahwa menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat itu mungkin. "Hati saya hancur melihat sesuatu yang begitu mendasar, yaitu...