Kekuatan Pekerjaan Sosial dan Arti Kehadiran untuk Anak-anak
Membangun kepercayaan dan membantu anak untuk pulih
- English
- Bahasa Indonesia
Muhammad Fariz Wadji masih berada pada tahun-tahun awal kariernya sebagai pekerja sosial ketika sebuah kasus meninggalkan kesan yang tak terlupakan — seorang ayah yang telah melecehkan anak perempuannya sendiri dibebaskan tanpa menghadapi tuntutan apa pun. Bagi Fariz, peristiwa itu menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa kekerasan terhadap anak sering kali tersembunyi di balik tembok keluarga.
Menurut data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), lebih dari setengah — yakni 58,8 persen — kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan di Indonesia terjadi di rumah, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman.
Kasus di mana pelaku merupakan anggota keluarga inti sering kali menjadi yang paling sulit untuk ditangani. Keluarga biasanya mengendalikan dengan siapa anak berinteraksi, dan mereka mungkin khawatir akan rasa malu akibat stigma sosial. Bagi pekerja sosial seperti Fariz, hal terpenting adalah memastikan anak berada dalam kondisi aman — baik secara fisik maupun emosional.
Dengan gelar sarjana di bidang Pekerjaan Sosial Terapan dan Sertifikat Kompetensi Pekerja Sosial, Fariz merasakan tanggung jawab yang mendalam terhadap anak-anak yang membutuhkan dukungan.
“Begitu banyak dinamika yang muncul dalam upaya memberikan layanan bagi anak penyintas. Saya tidak boleh menyerah — seberat apa pun tantangannya, kesejahteraan anak akan selalu menjadi prioritas utama saya,” ujarnya.
Setelah hampir satu dekade bekerja dengan anak-anak, Fariz mengingat satu pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap kerentanan anak. Pada tahun 2018, ia ditugaskan oleh Kementerian Sosial untuk mendukung respons terhadap bencana alam besar di Sulawesi Tengah. Di sanalah ia melihat dengan jelas betapa kesejahteraan seorang anak sangat bergantung pada kekuatan dan dukungan dari lingkungan terdekat mereka — keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Fariz memanfaatkan pengalaman pribadinya maupun pengalaman orang lain untuk membimbingnya dalam menangani berbagai kasus yang kompleks. Ia memulai dengan membantu keluarga memahami situasi secara jelas agar mereka merasa cukup aman untuk menerima dukungan. Ia belajar bahwa pemulihan membutuhkan jaringan layanan yang komprehensif untuk membantu anak pulih sepenuhnya. Seiring waktu, ia juga memahami pentingnya membangun kepercayaan dengan anak — terutama anak perempuan — melalui pendekatan yang lebih sensitif dan responsif terhadap gender.
Fariz juga sangat memperhatikan cara ia menampilkan diri saat melakukan kunjungan ke rumah. Ia percaya bahwa segala hal — mulai dari cara pekerja sosial berbicara, berpakaian, hingga bahasa tubuh — dapat membantu anak merasa aman dan nyaman. Ia tahu bahwa kehadiran yang tenang, penuh hormat, dan meyakinkan dapat secara perlahan menumbuhkan kepercayaan anak bahkan sebelum kata-kata terucap.
“Dengan menciptakan rasa nyaman dan meminimalkan hal-hal yang dapat memicu ketakutan, kepercayaan akan tumbuh sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Lebih dari sekadar penampilan, Fariz berfokus untuk benar-benar hadir sepenuhnya. Ia berusaha peka terhadap suasana di ruangan, cara keluarga merespons, serta tanda-tanda halus yang ditunjukkan oleh anak. Semua hal ini membantunya membangun kepercayaan dengan anak dan seluruh anggota keluarga.
Melalui pelatihan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial dengan dukungan dari UNICEF, para pekerja sosial seperti Fariz kini lebih siap menghadapi tuntutan emosional dari pekerjaan mereka. Dari Desember 2024 hingga Oktober 2025, sebanyak 7.856 tenaga layanan sosial (terdiri dari 5.278 perempuan dan 2.578 laki-laki) telah mendapatkan pelatihan melalui berbagai kegiatan penguatan kapasitas terkait manajemen kasus, perlindungan daring, serta dukungan psikososial, termasuk dalam konteks tanggap darurat.
Merenungkan pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai pekerja sosial — dan juga sebagai seorang ayah — Fariz meyakini bahwa hal terpenting yang dibutuhkan anak adalah rasa nyaman dan aman bersama orang tuanya. Ketika rasa nyaman itu hilang, risiko kekerasan sering kali mulai muncul. Pemahaman inilah yang kini membentuk cara Fariz dalam mengasuh anak-anaknya sendiri.
“Sekarang ini, bukan lagi soal menghabiskan banyak waktu, tetapi tentang menciptakan momen yang bermakna,” jelasnya. “Yang dibutuhkan anak bukanlah nasihat yang terus-menerus, melainkan teladan yang baik — sosok yang bisa mereka jadikan panutan, bukan hanya seseorang yang memberi tahu apa yang harus dilakukan.”
Ia juga menyadari pentingnya peran masyarakat. “Komitmen yang mendalam untuk melindungi dan mengasuh anak adalah hal yang mendasar. Tanggung jawab ini bersifat bersama — menjaga anak berarti berinvestasi pada masa depan bangsa,” ujarnya.
Bagi Fariz, anak-anak ibarat pensil — penuh potensi dan siap menciptakan awal yang baru dengan setiap goresan. Kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Dan ketika keluarga, masyarakat, serta pekerja sosial melindungi mereka, anak-anak dapat dengan percaya diri menggambar masa depan mereka sendiri.