Bahaya Tersembunyi Wasting — dan Bagaimana PAUD di Kota Kupang Melindungi Anak-anak

Guru, tenaga kesehatan, dan orang tua bergandengan tangan melindungi anak-anak dari masalah gizi yang mengancam jiwa

-
UNICEF Indonesia
09 Februari 2026

Melvi yang berusia tujuh tahun dikenal di lingkungan tempat tinggalnya di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai anak yang cerdas dan penuh semangat. Namun, saat berusia empat tahun, ia didiagnosis mengalami gizi buruk—bentuk malnutrisi anak yang paling berbahaya—saat pemeriksaan rutin di sekolahnya. Deteksi dini tersebut menjadi titik balik yang sangat penting bagi Melvi,  untuk memulihkan dan mengembalikan masa kanak-kanaknya.

Melvi, 7, in front of her home in the Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 12 December 2025
UNICEF/2025/Chair Melvi, 7 tahun, di depan rumahnya di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 12 Desember 2025.

Ibunya, Merry, telah membesarkan Melvi dan kakak perempuannya seorang diri selama beberapa tahun. Saat  Melvi mulai bersekolah di TKN Kelapa Lima, sebuah PAUD negeri di Kota Kupang, Merry mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dibalik keceriaannya, Melvi kecil sering jatuh sakit. Lama-kelamaan, nafsu makannya menurun dan berat badannya terus berkurang. Ia pun mulai sering tidak masuk sekolah. Merry semakin cemas, tak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.

Ibu Erni Hailitik, Headmaster of TKN Kelapa Lima, tries to examine a student for signs of wasting, at the TKN Kelapa Lima Public Early Childhood Education (ECE) Centre, Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 9 December 2025
UNICEF/2025/Chair Ibu Erni Hailitik, Kepala Sekolah TKN Kelapa Lima, mencoba memeriksa seorang siswa untuk tanda-tanda wasting (kekurangan gizi akut), di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri TKN Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 9 Desember 2025.

Para guru di PAUD tempat Melvi belajar telah mendapatkan pelatihan untuk mengenali tanda-tanda awal wasting dan merujuk anak-anak berisiko wasting ke layanan kesehatan sebelum kondisi mereka menjadi parah, melalui program PAUD Peduli Wasting (Deteksi Dini  Wasting AnakBerbasis PAUD).

Melalui program ini, yang dipimpin oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kota Kupang dengan dukungan UNICEF, para guru dibekali ketrampilan menggunakan alat sederhana seperti pita Lingkar Lengan Atas (LiLA) untuk mengukur lingkar lengan atas anak. Mereka juga dilatih mengenali risiko sejak dini, seperti tubuh yang tampak sangat kurus atau pembengkakan pada kedua punggung kaki, serta segera merujuk anak ke pusat layanan kesehatan primer (Puskesmas) untuk mendapatkan perawatan dan dukungan lanjutan.

A father tries to put on a MUAC (Mid-upper arm circumference (MUAC) measuring tape at the TKN Kelapa Lima Public Early Childhood Education (ECE) Centre, Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 9 December 2025
UNICEF/2025/Chair Seorang ayah mencoba memasangkan pita ukur LiLA (Lingkar Lengan Atas) di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri TKN Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 9 Desember 2025.

Selain melatih guru dalam deteksi dan rujukan dini anak berisiko wasting, sesi pengasuhan bagi orang tua membantu keluarga memahami pertumbuhan anak yang sehat. Kegiatan ini mendorong pengukuran LiLA secara rutin bagi anak di bawah lima tahun di rumah serta memperkuat pentingnya mencari layanan kesehatan tepat waktu.

Yeni, nutritionist from Puskesmas Oesapa talks about wasting to parents at the TKN Kelapa Lima Public Early Childhood Education (ECE) Centre , Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 9 December 2025
UNICEF/2025/Chair Yeni, ahli gizi dari Puskesmas Oesapa, berbicara mengenai wasting (gizi buruk/kurang) kepada para orang tua di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri TKN Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 9 Desember 2025.

Karena Melvi tidak lagi rutin mengikuti kunjungan Posyandu setelah bersekolah di PAUD, kondisinya sangat mungkin luput dari perhatian. Namun, melalui skrining rutin di PAUD, kondisinya berhasil  terdeteksi secara dini. Intervensi yang tepat waktu ini memastikan Melvi menerima perawatan yang dibutuhkannya—tanpanya,  kondisi Melvi mungkin baru terdeteksi jauh lebih lambat.

“Saat mereka memeriksa Melvi (di PAUD), hasil pengukuran LiLA-nya berada di warna kuning, yang menunjukkan ia berisiko wasting,” kenang Merry. Yeni, seorang ahli gizi dari Puskesmas Oesapa, menyarankan Merry untuk membawa Melvi ke Puskesmas guna pemeriksaan lanjutan. Memahami pentingnya deteksi dini, Merry menyetujuinya tanpa ragu.

Setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh di Puskesmas Oesapa, Melvi didiagnosis mengalami gizi buruk dan segera diberikan perawatan rawat jalan di bawah pemantauan ketat Yeni dan tim asuhan gizi. Minggu demi minggu, Melvi dan ibunya kembali ke Puskesmas, dengan sabar mengikuti setiap tahapan pengobatan, sementara tubuh kecil Melvi perlahan mulai menguat.

Setiap kunjungan membawa harapan baru—hingga suatu hari, status gizi Melvi kembali normal dan hasil LiLA-nya akhirnya berubah menjadi hijau, tanda bahwa ia telah pulih dan tidak lagi mengalami wasting. Untuk menjaga capaian berharga ini, Yeni terus mendampingi ibu Melvi, mendorong pemanfaatan pangan lokal bergizi dan membimbingnya dengan sabar tentang cara menyiapkan makanan seimbang di rumah, agar Melvi tetap sehat, aktif, dan penuh semangat dalam meraih potensi terbaiknya.

Kini, Melvi telah menjadi anak yang berbeda. Nafsu makannya kembali, dan ia dengan gembira menyantap makanan favoritnya, termasuk telur yang dimasak ibunya di rumah. Ia jarang sakit dan memiliki energi untuk bermain, belajar, dan bereksplorasi seperti anak-anak seusianya. Melvi tidak lagi sering absen dari sekolah dan dengan antusias mengikuti kegiatan di kelas, semangat dan rasa percaya dirinya mencerminkan pemulihan yang stabil dari gizi buruk

Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting

Bekerja di Puskesmas, Yeni melihat secara langsung perbedaan antara anak-anak yang sehat dan mereka yang berisiko mengalami malnutrisi, khususnya gizi buruk. Ia prihatin karena banyak orang tua baru mencari pertolongan ketika anak sudah dalam kondisi sakit.

Anak-anak yang tampak sangat kurus bisa saja sudah masuk kategori gizi buruk. Namun, karena mereka masih aktif dan mampu bermain, orang tua sering kali tidak menyadari bahwa kondisi ini merupakan masalah serius. Keterlambatan dalam mencari layanan kesehatan ini sangat mengkhawatirkan, mengingat anak dengan gizi buruk memiliki risiko sakit dan kematian yang jauh lebih tinggi jika tidak segera ditangani.

Parents learn how to prepare healthy meal together at the TKN Kelapa Lima Public Early Childhood Education (ECE) Centre, Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 9 December 2025
UNICEF/2025/Chair Para orang tua belajar cara menyiapkan makanan sehat bersama-sama di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri TKN Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 9 Desember 2025.

Dalam setiap sesi pengasuhan, Yeni selalu menekankan pentingnya membawa anak untuk pemantauan tumbuh kembang secara rutin. “Kami sering merasa sedih ketika orang tua menunggu terlalu lama. Kami selalu bilang—kami adalah ahli gizi. Datanglah dan berkonsultasilah dengan kami di Puskesmas,” ujarnya. Ia mendorong orang tua untuk mempercayai tenaga kesehatan yang dapat membantu memastikan anak-anak mendapatkan pola makan dan pengobatan yang tepat saat dibutuhkan.

“Sedih rasanya memikirkan Melvi harus menderita begitu lama sebelum sampai kepada kami,” kata Yeni dengan lembut. “Tapi saya bersyukur ia ditemukan saat kunjungan kami ke PAUD. Semakin cepat anak-anak ini ditemukan, semakin cepat pula mereka bisa kembali sehat.”

Meski Merry telah lama menyadari kondisi putrinya yang terus menurun, ia sempat kesulitan menerima diagnosis tersebut. “Saya tidak ingin percaya, karena anak saya terlihat baik-baik saja,” katanya. “Namun, sakit yang terus berulang, penurunan berat badan, dan hilangnya nafsu makan membuat saya mulai mempertanyakan.”

Merry and her daughter, Melvi, 7, in their home in the Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 12 December 2025
UNICEF/2025/Chair Merry dan putrinya, Melvi, 7 tahun, di rumah mereka di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 12 Desember 2025.

Pengalaman ini membuka mata Merry. “Saya belajar betapa pentingnya memahami apa yang seharusnya dimakan dan diminum anak, memastikan mereka tidak terlalu banyak mengonsumsi jajanan, dan selalu mencuci tangan sebelum makan,” tuturnya, mengingat pendampingan intensif dari Yeni. “Ini sangat membantu kami sebagai ibu, memberi pengetahuan untuk memahami kesehatan anak-anak kami.”

Kisah Melvi mencerminkan persoalan yang lebih luas di seluruh NTT, di mana wasting—salah satu bentuk kekurangan gizi anak yang paling berbahaya—masih menjadi masalah serius. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan, wasting dialami oleh 15,9 persen anak di seluruh provinsi NTT—angka tertinggi di Indonesia—dan 13,8 persen di Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi.

Wasting menyebabkan anak menjadi sangat kurus dan lemah, sehingga rentan terhadap penyakit dan infeksi. Anak gizi buruk  memiliki risiko kematian hingga 12 kali lebih tinggi dibandingkan anak dengan gizi baik.

Deteksi dini dan rujukan wasting sangat penting untuk mencegah kondisi ini dan menyelamatkan nyawa anak. Alat sederhana berbasis komunitas seperti pita LiLA, serta pendekatan skrining berbasis PAUD, digunakan untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko mengalami malnutrisi, termasuk wasting. Hal ini memungkinkan deteksi dan rujukan tepat waktu agar pengobatan dapat segera diberikan sebelum muncul komplikasi berat.

Solusi Berbasis Komunitas

UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan untuk memperkenalkan intervensi PAUD Peduli Wasting pada tahun 2022, sebagai bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk menyediakan layanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD-HI).

Selain melatih guru dalam deteksi dan rujukan dini anak berisiko wasting serta menyelenggarakan sesi pengasuhan, PAUD juga mempromosikan kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan kebun sekolah. Anak-anak, guru, dan orang tua menanam bahan pangan bersama dan memanfaatkan hasil panen untuk demonstrasi memasak. Pendekatan “dari kebun ke meja makan” ini memperkuat keterampilan gizi praktis dan mendorong keluarga menyediakan makanan yang beragam dan bergizi di rumah.

Saat ini, lebih dari 200 PAUD di Kota Kupang telah menerapkan program ini dengan dukungan seluruh 12 Puskesmas di wilayah tersebut. Sejak 2023, cakupan skrining menggunakan LiLA meningkat hingga hampir 89 persen untuk anak usia 6–59 bulan. Partisipasi dalam layanan Posyandu juga meningkat dari 50 persen menjadi lebih dari 90 persen, menunjukkan manfaat nyata dari sesi pengasuhan.

Orang tua pun menjadi lebih percaya diri dalam memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan dan secara sukarela membawa anak-anak mereka secara lebih rutin. Hasilnya, ratusan anak yang teridentifikasi mengalami gizi buruk dan sedang telah menerima tindak lanjut melalui sistem rujukan, berkat deteksi dini di PAUD.

Ibu Erni Hailitik, Headmaster of TKN Kelapa Lima, at the TKN Kelapa Lima Public Early Childhood Education (ECE) Centre, Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 11 December 2025
UNICEF/2025/Chair Ibu Erni Hailitik, Kepala Sekolah TKN Kelapa Lima, di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri TKN Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 11 Desember 2025.

Ibu Erni Hailitik, Kepala PAUD Negeri Kelapa Lima, menyaksikan langsung perubahan tersebut. “Melihat hasil program ini di sekolah kami sungguh membahagiakan. Anak-anak menjadi lebih ceria dan aktif, dan para orang tua kini memiliki keterampilan untuk memastikan anak-anak mereka mengonsumsi makanan yang tepat di rumah,” ujarnya.

Berdasarkan hasil yang menjanjikan dari pendekatan PAUD Peduli Wasting dalam melengkapi layanan Posyandu yang sudah ada dan menjangkau anak-anak yang sebelumnya mungkin terlewatkan, Dinas Kesehatan Kota Kupang berkomitmen untuk memperkuat dan memperluas pendekatan ini demi memastikan deteksi dini dan perawatan tepat waktu—agar semakin banyak anak seperti Melvi di Kota Kupang dapat tumbuh sehat dan berkembang optimal.

drg. Retnowati M.Kes, Head of the Kupang City Health Office, in her office at the Kupang City Health Office, Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 11 December 2025
UNICEF/2025/Chair drg. Retnowati M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, di ruang kerjanya di Kantor Dinas Kesehatan Kota Kupang, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 11 Desember 2025.

“Dinas Kesehatan berkomitmen terhadap program PAUD Peduli Wasting, karena eliminasi wasting merupakan faktor penting dalam menurunkan stunting,” jelas drg. Retnowati M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang.

(Center) Merry and her daughter (right), Melvi, 7, in their home in the Kupang Municipality, East Nusa Tenggara, on 12 December 2025
UNICEF/2025/Chair (Tengah) Merry dan putrinya (kanan), Melvi, 7 tahun, di rumah mereka di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 12 Desember 2025.

Merry dipenuhi rasa syukur—kepada Yeni, kepada program ini, dan kepada kemitraan dengan PAUD yang telah membantu putrinya pulih. Pesannya kepada para orang tua lain sederhana namun kuat:

“Jangan takut. Kita harus yakin dan percaya bahwa tenaga kesehatan ada untuk melakukan yang terbaik bagi kesehatan anak-anak kita.”