Membangun Puskesmas Lebih Baik Bagi Anak-Anak Banyumas

Peningkatan kualitas, suplai air dan energi bagi Puskesmas

-
UNICEF Indonesia
29 Desember 2025

Fasilitas kesehatan seharusnya menjadi tempat perlindungan—sebuah ruang yang menawarkan kesembuhan dan rasa aman. Namun, bagi banyak anak di Jawa Tengah, bangunan yang seharusnya melindungi mereka justru menyimpan risiko kesehatan masyarakat yang serius: kurangnya layanan air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang memadai.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2020, satu dari sepuluh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Jawa Tengah belum memiliki akses air bersih yang memenuhi protokol keamanan standar. Sebagian besar Puskesmas memang memiliki fasilitas cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir, namun lokasinya seringkali hanya tersedia di dekat ruang persalinan atau di dekat toilet saja, tidak tersedia di kedua lokasi tersebut secara bersamaan.

Di sudut Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Puskesmas Sokaraja II menghadapi tantangan besar. Meskipun air mengalir, kualitasnya kurang layak. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa pasokan air mereka tercemar bakteri E. coli dan mengandung kadar besi yang tinggi—sebuah ancaman nyata bagi fasilitas yang menyediakan layanan persalinan dan melayani ribuan pasien, termasuk anak-anak.

Pada tahun 2024 saja, lebih dari 8.000 anak mendatangi Puskesmas Sokaraja II untuk berbagai kebutuhan medis—mulai dari imunisasi rutin hingga pemeriksaan gigi.

Dua pekerja kesehatan di Puskesmas Sukoraja II
UNICEF/Nugraha Dr. Cahyanita Sayekti (kiri) lega karena puskesmasnya kini telah memiliki mutu layanan yang lebih baik untuk semua pasien dan anak di Sukoraja

Kini, ceritanya berbeda. Anak-anak tidak lagi dihantui risiko kontaminasi air di Puskesmas Sokaraja II, salah satu dari 40 Puskesmas di Banyumas yang telah menerima manfaat dari peningkatan layanan WASH secara komprehensif melalui metode WASH FIT (Water and Sanitation for Health Facility Improvement Tool) - atau Kesling Plus.

Kesling Plus merupakan instrumen penilaian yang membantu fasilitas kesehatan memperbaiki layanan air, sanitasi, kebersihan, pembersihan lingkungan, serta pengelolaan limbah. UNICEF memperkenalkan Kesling Plus ke berbagai Puskesmas di Banyumas dan mendampingi sejumlah pusat kesehatan tersebut dalam melakukan perbaikan berdasarkan hasil penilaian dan rencana aksi yang disusun. Kolaborasi ini terwujud berkat dukungan pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, serta pendanaan dari Pemerintah Korea.

Di Puskesmas Sokaraja II, hasil penilaian tersebut menyoroti bahaya kualitas air yang buruk. Solusi yang diambil sangat tepat sasaran: pemasangan sistem filtrasi air dan penambahan tangki air (toren) atas untuk menjamin ketersediaan air bersih.

“Intervensi ini sangat krusial,” ujar dr. Cahyanita Sayekti, Kepala Puskesmas Sokaraja II yang akrab disapa dr. Nita. “Kualitas air di Puskesmas Sokaraja II telah berubah total. Hasil pemeriksaan laboratorium terbaru kami menunjukkan nol jejak bakteri E. coli. Karena kami menyediakan layanan persalinan yang membutuhkan higienitas mutlak, (jadi) ini adalah sebuah titik balik.”

Peningkatan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada air bersih. Puskesmas ini juga menerima mesin cuci industri, yang memastikan kain seprai dan linen yang digunakan untuk ibu hamil serta anak-anak yang sakit disterilkan secara efektif. Sebagian perbaikan fasilitas yang direkomendasikan dari penilaian risiko tersebut didanai secara mandiri oleh pihak Puskesmas. Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Puskesmas tersebut memiliki status khusus yang memberikan fleksibilitas dalam mengelola pendapatan dan sumber dayanya sendiri.

“Kami berharap Puskesmas kini menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tutur dr. Nita.

Kami siap dengan kebersihan dan sanitasi yang lebih baik. Skor penilaian kami menggunakan perangkat Kesling Plus meningkat dari 88 persen menjadi 95 persen, menandakan kenaikan nyata dalam mutu pelayanan.

Dr Nita

Beberapa kilometer jauhnya, Puskesmas Banyumas menghadapi risiko yang berbeda: kelangkaan pasokan air.

Menempati gedung cagar budaya yang megah—bekas bank peninggalan Belanda (Banjoemasche Bank) yang dibangun pada tahun 1775—fasilitas ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah lokal. Puskesmas ini juga menjadi pusat layanan yang sangat sibuk dan telah ditetapkan sebagai Puskesmas Ramah Anak, dengan kunjungan lebih dari 9.000 anak setiap tahunnya.

“Sumber air utama kami berasal dari perusahaan penyedia air setempat (PDAM),” jelas dr. Kuntoro, Kepala Puskesmas Banyumas. “Dulu ada saat-saat di mana air tiba-tiba mati total. Kami harus menghubungi PDAM dan memohon pengiriman tangki air hanya agar operasional kami tetap bisa berjalan.”

Setelah melalui analisa Kesling Plus, fasilitas ini sekarang menggunakan sumur bor baru—sumur dalam yang mengambil air dari sumber bawah tanah. Intervensi ini melipatgandakan cadangan air Puskesmas. “Sekarang saya merasa lebih tenang,” ujar dr. Kuntoro dengan nada lega. “Kami tidak lagi merasa khawatir harus meminta bantuan tangki air darurat.”

Renovasi di situs warisan budaya ini mencakup lebih dari sekadar pasokan air. Fasilitas ini sekarang memiliki toilet yang bersih, aman, ramah disabilitas, dan terpisah secara gender, lengkap dengan cermin serta paket kesehatan menstruasi. Selain itu, terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) baru, yang memodernisasi bangunan berusia berabad-abad tersebut agar memenuhi standar martabat dan perawatan saat ini.

Penilaian risiko Kesling Plus dapat mengidentifikasi pemicu masalah dan memberikan tanda peringatan dini bagi manajemen Puskesmas. Dipadukan dengan PERIKSA (Perangkat Penilaian Risiko Iklim Sanitasi dan Air Minum) —yang dikembangkan oleh UNICEF bersama Bappenas—Puskesmas juga dapat mengidentifikasi cara-cara untuk merancang sistem air dan sanitasi yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Kombinasi ini sangat krusial bagi Puskesmas Baturraden II. Terletak di bawah kaki Gunung Slamet, fasilitas ini rentan terhadap cuaca gunung yang tidak menentu. Hujan deras dan sambaran petir sering kali memutus jaringan listrik, membuat pusat kesehatan tersebut gelap gulita. Pemadaman listrik bisa berdampak fatal—terutama bagi lemari pendingin yang penuh dengan vaksin dan obat-obatan yang sensitif terhadap suhu.

“Pernah ada suatu masa di mana kami harus mengevakuasi vaksin-vaksin kami karena listrik mati selama sehari penuh,” kenang Kepala Puskesmas Baturraden II, Fajar Tri Asih, S.Kep., Ns., M.M., M.Kep. 

Panel surya
UNICEF/Nugraha Panel tenaga surya dan generator (genset) yang memberikan daya tambahan di Puskesmas Baturraden II

Setelah penilaian tersebut dilakukan, pihak Puskesmas menemukan sebuah solusi: memanfaatkan sistem panel surya hibrida off-grid berkapasitas 8,5 kWh. Dengan kemampuan memasok listrik untuk klinik hingga 36 jam tanpa sinar matahari, sistem ini menjamin fasilitas tetap beroperasi meskipun jaringan listrik PLN padam.

“Setelah terpasang, kami bisa menghemat tagihan listrik hingga 30 persen,” catat Fajar. Namun, nilai yang sesungguhnya bukan sekadar penghematan biaya, melainkan rasa aman karena mengetahui bahwa lampu dan lemari pendingin vaksin akan tetap menyala.

Pekerja kesehatan sedang menyapa pasien anak
UNICEF/Nugraha Berbekal pengalamannya sebagai perawat, Fajar memiliki pemahaman mendalam mengenai standar fasilitas kesehatan yang diperlukan untuk memberikan layanan WASH yang bermutu

Dari kontaminasi air di Sokaraja, kelangkaan di gedung bersejarah Puskesmas Banyumas, hingga pemadaman listrik di kaki Gunung Slamet, ketiga Puskesmas ini adalah bukti nyata. Bukti bahwa solusi lokal yang dipandu oleh perangkat asesmen yang tepat, dapat mengubah fasilitas yang rentan menjadi tangguh, serta memastikan setiap pasien—terutama setiap anak—memiliki akses terhadap layanan WASH yang aman dan layak mereka dapatkan.