Advokasi dalam Aksi: Yomi Menggunakan Suaranya untuk Penyandang Disabilitas
Advokat hak penyandang disabilitas mendorong fasilitas WASH yang lebih inklusif di puskesmas Kabupaten Kupang.
- English
- Bahasa Indonesia
Dengan mengenakan kemeja kotak-kotak favoritnya dan bertumpu pada kruk, Yomi menyapa pasien dan orang yang lewat di ruang tunggu Puskesmas Poto, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Banyak yang mengira ia sedang menunggu perawatan, tetapi kehadirannya memiliki tujuan yang jauh lebih besar – memperjuangkan inklusi.
Yomi tidak terlahir dengan disabilitas. Sebuah kecelakaan yang mengubah hidup memaksanya beradaptasi – pertama dengan kursi roda, lalu alat bantu jalan, kaki prostetik, dan kini kruk. Bukan karena itu ideal, melainkan karena dunia di sekelilingnya belum ramah aksesibilitas.
“Menjadi penyandang disabilitas bukanlah sebuah aib,” ujar Yomi. “Inilah potongan puzzle kehidupan yang saya peluk. Saya membangun jaringan, mendukung penguatan kapasitas, dan yang terpenting, saya mendidik serta memberdayakan penyandang disabilitas, di mana pun mereka berada.”
Yomi merupakan anggota GARAMIN (Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi), sebuah organisasi lokal non-pemerintah yang memperjuangkan hak penyandang disabilitas. Belakangan ini ia kerap mengunjungi puskesmas-puskesmas di daerah terpencil – terkadang harus menyeberangi sungai akibat jalan yang terputus – untuk berdialog dengan tenaga kesehatan dan masyarakat.
“Sebelumnya saya pernah ikut kegiatan seperti ini, tetapi selalu di dalam ruangan,” katanya. “Sekarang, saya melihat langsung dengan mata kepala sendiri. Saya berbicara dengan orang-orang. Saya bisa memahami betapa akses dasar masih sulit dijangkau oleh banyak pihak.”
UNICEF, dengan dukungan dari berbagai mitra termasuk Pemerintah Republik Korea, bekerja sama erat dengan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat sistem air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang tangguh terhadap perubahan iklim di fasilitas kesehatan di Indonesia.
Upaya ini mencakup peningkatan akses bagi penyandang disabilitas ke fasilitas kesehatan melalui layanan WASH yang lebih baik, serta pencegahan dan pengendalian infeksi, bahkan di tengah ancaman iklim. Alat WASH FIT (Water and Sanitation for Health Facility Improvement) dan PERIKSA (Penilaiaan Risiko Iklim) digunakan untuk memastikan penilaian partisipatif serta perencanaan aksi guna memperbaiki layanan WASH.
Ketika GARAMIN dilibatkan untuk menilai layanan WASH di 26 puskesmas di Kabupaten Kupang, Yomi terjun dengan penuh semangat.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa berbicara langsung dengan Wakil Bupati Kupang, dengan kepala dinas perencanaan dan kesehatan,” kenangnya, saat mempresentasikan hasil asesmen WASH. “Rasanya seperti mimpi, tapi itu nyata.”
Yomi tidak hanya menyampaikan masalah, ia juga menawarkan solusi. Dengan jelas dan penuh keyakinan, ia menegaskan pentingnya pelatihan tenaga kesehatan, peningkatan infrastruktur WASH, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan fasilitas, serta pengembangan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk situasi normal maupun darurat.
Yomi dan GARAMIN memiliki tujuan yang sama – memastikan fasilitas kesehatan menjadi lebih ramah akses, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan iklim. Visi mereka tegas: penyandang disabilitas harus dilibatkan dalam setiap tahap pengambilan keputusan, mulai dari musyawarah desa hingga perencanaan tingkat provinsi.
Advokasi Yomi melampaui laporan resmi. Dengan menggunakan media sosial sebagai alat perubahan, ia aktif mengampanyekan “NTT Inklusi 2030” – sebuah visi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif, di mana penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya berperan aktif dalam perencanaan pembangunan.
Yomi memahami bahwa inklusi bukan soal belas kasihan. Inklusi adalah tentang keadilan dan menciptakan ruang agar semua orang dapat hidup bermartabat. “NTT Inclusion 2030 bukanlah impian kosong,” ujarnya sambil tersenyum. “Kami sedang menenunnya, benang demi benang, dengan tangan yang tulus dan langkah kecil namun pasti.”