Misi Seorang Bidan untuk Menutup Kesenjangan Imunisasi di Garut, Jawa Barat

Tenaga Kesehatan Melawan Misinformasi dan Imunisasi yang Terlewat

-
UNICEF Indonesia
24 Oktober 2025

Setiap hari, Susi mengendarai motornya menyusuri jalan sempit di Desa Margamulya — sebuah komunitas terpencil yang sulit dijangkau, terletak di antara hutan lebat dan perbukitan curam di Garut, Jawa Barat. Tujuannya selalu sama: mengimunisasi sebanyak mungkin anak.

Susi mulai bekerja sebagai bidan desa lebih dari sepuluh tahun lalu. Sejak awal, ia menghadapi penolakan terhadap imunisasi dari masyarakat, yang sebagian besar masih kurang memahami manfaat imunisasi terhadap kesehatan. “Jumlah anak zero-dose (anak yang belum menerima satupun imunisasi rutin) sangat tinggi,” kenangnya. “Kami harus mendatangi rumah-rumah, berusaha mengejar imunisasi yang terlewat.”

Dr. Lely Yuliani, Kepala Dinas Kesehatan Garut, di kantornya di Garut, Jawa Barat, pada 17 Juni 2025.
UNICEF/UNI885043/Chair Dr. Lely Yuliani, Kepala Dinas Kesehatan Garut, di kantornya di Garut, Jawa Barat, pada 17 Juni 2025.

Selama bertahun-tahun, Susi dan rekan-rekan tenaga kesehatan terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Namun tantangan masih ada, termasuk misinformasi, kekhawatiran terhadap efek samping, dan kurangnya dukungan keluarga.

“Salah satu tantangan utama adalah kekhawatiran orang tua bahwa anak mereka akan sakit setelah diimunisasi,” kata dr. Leli Yuliani, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.

Nurjannah dan putrinya yang berusia 7 bulan, Araska, di depan rumah mereka di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885086/Chair Nurjannah dan putrinya yang berusia 7 bulan, Araska, di depan rumah mereka di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Contoh nyata dari tantangan ini terjadi pada Nurjanah. Ia menunda imunisasi anaknya yang sudah berusia tujuh bulan, Araska, meskipun tahu pentingnya imunisasi. “Saya bilang ke suami, kita tunda dulu imunisasinya, karena saya khawatir anak kami akan sakit seperti sebelumnya,” kenangnya.

Dadang, Kepala Puskesmas Cisompet, tersenyum di pusat kesehatan masyarakat di Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885052/Chair Dadang, Kepala Puskesmas Cisompet, tersenyum di pusat kesehatan masyarakat di Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

“Adanya hoaks yang beredar di masyarakat. Kurangnya pemahaman tentang kesehatan membuat banyak warga enggan datang ke Puskesmas atau Posyandu, bahkan saat anak mereka sakit,” ujar Dadang, Kepala Puskesmas Cisompet.

Rohimah dan putrinya yang berusia 10 bulan, Kalisah, duduk di depan Puskesmas Pembantu di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885056/Chair Rohimah dan putrinya yang berusia 10 bulan, Kalisah, duduk di depan Puskesmas Pembantu di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Penundaan imunisasi juga terjadi ketika anak sakit pada saat jadwal imunisasi, dan orang tua/pengasuh tidak tahu bahwa penting bagi anak untuk kembali segera mendapatkan jenis imunisasi yang terlewat, bila  anak telah sembuh.

Ai, seorang ibu dari desa, menunda imunisasi putrinya Khalisa karena sakit. Namun setelah Khalisa sembuh, Ai tidak kembali untuk mengejar imunisasi Khalisa yang terlewat. “Waktu itu Khalisa sakit, jadi tidak bisa imunisasi. Dia demam dan batuk,” jelas Ai sambil menggendong putrinya yang berusia 10 bulan.

Susi memberikan imunisasi kepada putri Nurjannah yang berusia 7 bulan, Araska, di rumah mereka di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885092/Chair Susi memberikan imunisasi kepada putri Nurjannah yang berusia 7 bulan, Araska, di rumah mereka di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Pengalaman seperti ini menyebabkan banyak anak melewatkan jadwal imunisasi yang sudah ditetapkan. Anak-anak zero-dose yang tidak menerima imunisasi sama sekali menjadi sangat rentan terhadap penyakit menular berbahaya dan wabah yang mematikan.

Kabupaten Garut termasuk dalam 10 besar kabupaten di Jawa Barat dengan jumlah anak zero-dose terbanyak yaitu 5.882 anak (Sumber: Kementerian Dalam Negeri). Secara nasional, jumlah anak zero-dose menurun dari 1.162.000 pada tahun 2021 menjadi 570.969 pada tahun 2022, namun kembali meningkat menjadi 748.000 pada tahun 2024 (Sumber: WUENIC).

Tanpa tindakan segera, angka capaian imunisasi bisa terus menurun dan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) bisa kembali muncul — menyebabkan kemunduran dari pencapaian yang telah diraih selama bertahun-tahun. UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan untuk menjangkau anak-anak zero-dose di sepuluh wilayah prioritas di Indonesia, dengan target penurunan sebesar 25 persen. Dukungan ini dimungkinkan berkat kontribusi dari mitra, termasuk Gavi dan Vaccine Alliance.

“Kami berupaya menurunkan angka kesakitan dan mencegah timbulnya wabah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kabupaten Garut. Mengurangi jumlah anak zero-dose sangat penting dan harus segera ditangani, karena jika tidak, risiko wabah akan sangat tinggi,” jelas dr. Leli.

Edwind, Koordinator Imunisasi di Puskesmas Cisompet, tersenyum di pusat kesehatan masyarakat di Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885053/Chair Edwind, Koordinator Imunisasi di Puskesmas Cisompet, tersenyum di pusat kesehatan masyarakat di Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Pada tahun 2024, untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat imunisasinya di Desa Margamulya, tenaga kesehatan di Puskesmas Cisompet meluncurkan BERAKSI (Berkabar Anak Kami Siap Imunisasi), sebuah pendekatan inovatif yang membantu bidan desa seperti Susi melacak anak-anak yang melewatkan jadwal imunisasi, sering kali karena sakit, dengan menggunakan WhatsApp dan pesan teks.

“Orang tua bisa dengan mudah memberi kabar kepada petugas kesehatan, termasuk bidan desa seperti Susi, saat anak mereka sudah sembuh, sehingga imunisasi dapat segera diberikan,” jelas Edwin, Koordinator Imunisasi Puskesmas Cisompet.

Petugas kesehatan dari Puskesmas Cisompet memeriksa warga di Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885084/Chair Petugas kesehatan dari Puskesmas Cisompet memeriksa warga di Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

UNICEF memperkuat upaya ini dengan mendukung pemerintah dalam melatih tenaga kesehatan seperti Susi dan Edwin. Pelatihan ini mencakup manajemen vaksin, perencanaan llayanan, dan komunikasi — suatu keterampilan yang telah diterapkan setiap hari oleh tenaga kesehatan di komunitas mereka.

Berkat BERAKSI dan pelatihan terarah bagi tenaga kesehatan, cakupan imunisasi di wilayah tersebut mengalami peningkatan yang bermakna. Pada Juni 2025, persentase anak yang menerima imunisasi dasar lengkap meningkat 10 persen dibandingkan Juni 2024.

Nurjannah dan putrinya yang berusia 7 bulan, Araska, di depan rumah mereka di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885088/Chair Nurjannah dan putrinya yang berusia 7 bulan, Araska, di depan rumah mereka di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Kembali di Kampung Cikadu, dusun di Desa Margamulya, para orang tua berbaris di tangga Posyandu Teratai, menunggu nama mereka dipanggil oleh Susi. Di antara mereka ada Nurjanah, yang menyaksikan dengan lega saat putranya Araska menerima imunisasi yang telah lama tertunda.

Nurjanah berharap pengalamannya bisa memberi harapan bagi orang tua lain di seluruh negeri. “Untuk semua ibu di luar sana, jangan takut imunisasi, karena manfaatnya jauh lebih besar daripada efek sampingnya. Imunisasi membantu anak tetap sehat,” ujarnya dengan bangga.

Susi memberikan imunisasi kepada Kalisah yang berusia 10 bulan di Puskesmas Pembantu di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885074/Chair Susi memberikan imunisasi kepada Kalisah yang berusia 10 bulan di Puskesmas Pembantu di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Ai juga merasa lega karena anaknya telah diimunisasi, berkat upaya proaktif dan kolaborasi dari Susi. “Rasanya tenang dan lancar, karena beliau [Susi] selalu memberi informasi dan kabar terbaru, membantu saya memahami bahwa anak saya sudah bisa diimunisasi,” kata Ai.

Susi memberikan imunisasi kepada Kalisah yang berusia 10 bulan di Puskesmas Pembantu di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.
UNICEF/UNI885075/Chair Susi memberikan imunisasi kepada Kalisah yang berusia 10 bulan di Puskesmas Pembantu di Desa Margamulya, Kampung Cikadu, Garut, Jawa Barat, pada 18 Juni 2025.

Susi tahu pekerjaannya belum selesai. Yang paling memotivasi dirinya adalah melihat masyarakat semakin memahami dan menerima imunisasi, dan menyadari bahwa imunisasi sangat penting untuk kesehatan dan masa depan anak-anak mereka.

“Dulu, masyarakat di sini sangat takut imunisasi. Sekarang, mereka mengerti dan menghargai pentingnya imunisasi,” ujarnya. “Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah menyambut kami dengan antusias dan aktif terlibat dalam program kami untuk meningkatkan kesehatan anak-anak.”

Embedded video follows
UNICEF/2025/Chair