Suara Remaja Menuntun pada Pilihan yang Menyelamatkan Jiwa di Jawa Tengah
Konselor Sebaya Mengedukasi Remaja tentang Pentingnya Vaksinasi HPV
- English
- Bahasa Indonesia
Di kota pesisir Pekalongan, Jawa Tengah, dua remaja perempuan mengubah cara teman-teman sebayanya memandang kesehatan. Rara dan Hesty bukan dokter atau perawat, tetapi mereka menjadi suara penting dalam mengampanyekan sesuatu yang dapat menyelamatkan nyawa: vaksin Human Papillomavirus (HPV).
Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker ini menempati peringkat kedua sebagai penyebab kematian terkait kanker pada perempuan, dengan hampir 21.000 nyawa hilang setiap tahun. Sebagian besar kasus – sekitar 95 persen – disebabkan oleh virus HPV, yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
Namun banyak remaja putri belum mengetahuinya, sehingga mereka rentan. Di sinilah peran Rara dan Hesty menjadi sangat penting.
Pada usia 16 tahun, Rara menyadari bahwa teman-temannya jarang membicarakan kesehatan. Setelah mengalami masalah kesehatan dan berdiskusi dengan kakaknya yang seorang dokter, ia memutuskan untuk belajar lebih banyak dan akhirnya menjadi konselor sebaya di sekolah.
Kini ia meluangkan waktu untuk mendengarkan kekhawatiran teman-temannya dengan sabar dan merespons dengan empati. Ia menjelaskan tentang HPV dan topik kesehatan lainnya dengan bahasa sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa lain. Ketika pertanyaan di luar pengetahuannya, ia mengarahkan mereka kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
“Aku merasa penting untuk mencari tahu hal-hal yang belum kita ketahui, terutama soal kesehatan. Itu bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain,” ujar Rara. “Karena itu aku mencoba memanfaatkan peluang kecil yang bisa memberi dampak besar bagi diriku dan orang-orang di sekitarku.”
"Aku mencoba memanfaatkan peluang kecil yang bisa memberi dampak besar bagi diriku dan orang-orang di sekitarku.”
Di sebuah taman yang tenang dan terpencil, Hesty yang berusia 17 tahun, dan juga seorang konselor sebaya, memimpin percakapan dengan anak-anak perempuan yang lebih muda. Duduk di bawah matahari yang temaram, ia mendengarkan dengan saksama sambil mencatat apa yang mereka sampaikan.
Ia memahami bahwa banyak teman sebayanya belum memberi perhatian cukup pada kesehatan mental, fisik, maupun reproduksi mereka. “Sebagian remaja masih menganggap kesehatan itu sepele,” ujarnya. “Belum tentu mereka benar-benar memperhatikannya.”
Sebagai anggota Forum Anak Pekalongan, Hesty juga terlibat langsung dalam dialog dengan pemerintah daerah, memastikan suara anak muda didengar dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kesejahteraan mereka. “Aku belajar bagaimana menyuarakan pendapat dan tampil percaya diri di hadapan orang lain,” katanya. “Ini benar-benar mengubah cara aku memandang diriku.”
“Aku belajar bagaimana menyuarakan pendapat dan tampil percaya diri di hadapan orang lain.”
Upaya yang dilakukan Rara dan Hesty merupakan bagian dari Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR/AFHS), sebuah program nasional yang didirikan pada tahun 2003 oleh Kementerian Kesehatan dengan dukungan UNICEF, untuk menyediakan layanan komprehensif bagi remaja usia 10–19 tahun. Tujuannya adalah memperluas akses terhadap layanan kesehatan yang ramah remaja, membantu remaja putri hidup lebih sehat dan memahami lebih banyak tentang kesehatan reproduksi.
Di Pekalongan, UNICEF bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, untuk memasukkan vaksinasi HPV ke dalam layanan kesehatan yang diberikan melalui puskesmas.
Program ini memberdayakan remaja seperti Rara dan Hesty untuk menjadi agen perubahan—mengedukasi dan memengaruhi teman serta komunitas mereka tentang pentingnya vaksinasi, sekaligus mengadvokasi perubahan kebijakan kepada para pengambil keputusan.
Tenaga kesehatan setempat seperti dr. Dian Puspitasari, Kepala Puskesmas Jenggot, memahami bahwa konselor sebaya adalah kunci untuk menjangkau remaja putri. “Peran mereka sangat penting. Ketika mereka mendorong teman-temannya untuk terlibat, itulah yang kami harapkan,” jelasnya. “Tantangan terbesar adalah ketika remaja putri merasa mereka tidak membutuhkan [layanan kesehatan].”
Slamet Budianto, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, juga percaya bahwa melibatkan remaja membuat inisiatif ini lebih berkelanjutan. “Jika mereka diberi peran langsung, harapannya mereka memiliki rasa memiliki,” katanya. “Ketika kita melibatkan anak muda, program berjalan dengan lebih alami.”
Melalui PKPR, konselor sebaya seperti Rara dan Hesty memainkan peran penting dalam menjembatani kekurangan pengetahuan, mendorong dialog terbuka, dan menghubungkan remaja dengan tenaga kesehatan terpercaya. Pendekatan ini tidak hanya membantu remaja membuat keputusan kesehatan yang tepat, tetapi juga membangun kepercayaan dan rasa memiliki di masyarakat, sehingga vaksinasi HPV dipandang sebagai langkah penting untuk melindungi kesehatan dan masa depan remaja putri.
Untuk memastikan dampak yang berkelanjutan, puskesmas di Pekalongan mulai mengambil langkah agar partisipasi remaja menjadi bagian konsisten dari layanan kesehatan. Dr. Dian telah memasukkan konseling sebaya ke dalam strategi tahunan Puskesmas Jenggot.
Hesty kini mulai melihat perubahan di antara teman-temannya—keinginan yang semakin besar untuk hidup lebih sehat dan lebih siap menghadapi masa depan. Percakapannya membantu mereka menyadari bahwa merawat kesehatan adalah bagian dari meraih cita-cita.
“Harapanku, kita terus melindungi kesehatan perempuan dan anak perempuan, suara mereka, serta pemberdayaan mereka,” ujarnya. “Mereka sangat penting bagi masa depan kita bersama.”