Lagu untuk Cegah Kanker Serviks
Melalui lagu, anak muda giat menggalang kesadaran tentang kanker serviks
- English
- Bahasa Indonesia
Dalam liriknya, lagu anak-anak Indonesia berjudul Gundul-Gundul Pacul mengajarkan tentang kerendahan hati dan bahaya sikap sombong. Lagu inilah yang dinyanyikan pada suatu hari di bulan Oktober oleh sebuah SD di Brebes, Jawa Tengah sebagai pengiring kampanye anti-kanker serviks. Sikap sombong di dalam lagu diartikan sebagai sikap menganggap diri kebal dari penyakit, khususnya kanker serviks.
Itu kanker serviks-viks
Buat ngeri
Itu kanker serviks-viks
Buat ngeri
Sudah banyak bunuh para perempuan
Jangan sampai ada lagi jadi korban
Cegah kanker serviks-viks
Itu mudah
Cegah kanker serviks-viks
Itu mudah
Suntik gratis kita dapat dua dosis
Duduk manis semuanya dapat gratis
Dengan bersemangat, para murid menyanyikan lagu yang liriknya telah mereka gubah. Saat itu, sebagian besar murid perempuan sedang mengantre untuk mendapatkan vaksin HPV di sebuah ruang kelas. Sekelompok anak lain, terdiri dari anak lelaki dan beberapa anak perempuan, berkumpul di ruangan sebelah: mereka bertepuk tangan, bernyanyi, dan bergerak mengikuti irama lagu yang kini membawa pesan penting. Salah satu di antara mereka adalah Ara. Berusia 15 tahun, Ara aktif mengusung kampanye terkait anak dan kerap memimpin yel-yel sambil memfasilitasi kegiatan edukasi pencegahan HPV bersama dengan anggota lain dari Forum Anak Brebes dan Jawa Tengah. Ara selalu penuh semangat dan sangat menyukai perannya. Tanpa ragu, ia menyebutkan alasan pentingnya kegiatan yang ia jalani: “HPV bisa menyebabkan penyakit seperti kanker serviks, dan ada vaksin yang bisa melindungi kita dari risiko kanker. Jadi, menurutku, edukasi vaksin sangat penting.”
Ara tidak pernah kekurangan ide. Minatnya beragam, seperti di bidang budaya, film, dan musik, hingga berprakarya dan berkegiatan di komunitas. Semua ini tampak saat Ara terlibat dalam Forum Anak. Seperti anak lain yang juga sedang mewujudkan potensinya, Ara pun masih memikirkan cita-cita pekerjaannya kelak. Katanya, “Aku masih mencoba memahami apa mimpiku. Yang pasti, aku sangat tertarik pada isu-isu sosial, jadi aku mungkin ingin bekerja di bidang advokasi masyarakat atau kesehatan masyarakat.”
Namun, Ara tak pernah ragu saat bicara tentang nilai-nilai yang ia anut. “Nantinya, aku ingin menjadi orang yang peduli dan suka menolong orang lain. Aku ingin menjadi sosok yang hangat untuk semua orang yang kutemui. Sebetulnya, cita-citaku sederhana: aku ingin bahagia dan membuat orang lain ikut bahagia,” ujarnya.
Itu Kanker Serviks, Viks, Buat Ngeri
Di Indonesia, upaya pencegahan kanker serviks berjalan dengan pesat. Menurut data Kementerian Kesehatan, per tahun 2024, cakupan vaksin HPV telah mencapai tingkat yang mengesankan, yakni 89,6% untuk dosis pertama dan 88,9% untuk dosis kedua. Namun, cakupan skrining masih terbatas. Padahal, kanker serviks adalah salah satu jenis kanker dengan angka kasus tertinggi di Indonesia. Per tahun 2021, baru sekitar 14,6% dari perempuan usia produktif yang melakukan skrining dengan lebih dari 31.000 kasus positif ditemukan antara tahun 2021 dan 2023. Skrining—beserta vaksin dan pengobatan—amat penting dalam upaya eliminasi kanker serviks. Bekerja sama dengan Gavi, UNICEF melaksanakan inisiatif HPV+ yang berfokus pada pencegahan melalui pemberian vaksin HPV serta layanan kesehatan pendukung. Selain vaksin, remaja putri dapat memanfaatkan beragam bentuk intervensi, seperti skrining kesehatan mental, pencegahan obesitas dan perilaku merokok, dan edukasi kebersihan menstruasi. Semua hal ini memiliki tujuan perlindungan melebihi pemberian vaksin.
Pada tahun 2025, Kementerian Kesehatan Indonesia merevisi kebijakan imunisasi HPV dari rekomendasi dua dosis menjadi satu dosis serta menargetkan anak-anak usia kelas lima SD atau sekitar 11 tahun. Anak lelaki pada usia yang sama akan mulai menjadi target penerima program pada tahun 2028. Sesi edukasi dari Ara memberikan gambaran masa depan: perlindungan tidak hanya ditujukan bagi anak perempuan, melainkan tanggung jawab semua orang.
Untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap vaksin, UNICEF juga melaksanakan inisiatif perubahan sosial dan perilaku, yang meliputi riset persepsi masyarakat seputar HPV, penyusunan dan uji coba modul Komunikasi Interpersonal yang sudah dikontekstualisasi, dan beberapa kegiatan pelatihan untuk tenaga kesehatan, guru, dan anak muda. Dengan cara-cara kreatif, seperti permainan tepuk tangan, adaptasi lagu, dan dialog dengan komunitas, kampanye UNICEF telah menjangkau lebih dari 30.000 orang—termasuk orang tua, remaja, guru, dan tokoh komunitas. Pesan-pesan yang sama juga disebarluaskan secara daring melalui platform digital Fundoo dan U-Report serta konten dari influencer nasional, antara lain aktris Ira Wibowo dan mitra muda Olivina Maskan.
Tujuannya pasti: Mengubah pengetahuan menjadi pemahaman dan pemahaman menjadi aksi mencegah HPV.
Cegah Kanker Serviks, Viks, Itu Mudah
Komitmen Ara terhadap isu kesehatan tidak lepas dari latar belakangnya. “Keluargaku bekerja di sektor kesehatan. Ayahku ahli gizi dan ibuku perawat. Jadi, aku sudah lama tahu tentang HPV,” katanya. Ara mewujudkan pengetahuannya menjadi aksi nyata setelah mengikuti pelatihan Komunikasi Antar Pribadi tentang vaksin HPV yang diselenggarakan Portkesmas, organisasi non-pemerintah yang berfokus pada pelibatan anak muda di kegiatan literasi dan advokasi kesehatan masyarakat, dan UNICEF. Ara pun mengajukan diri mengikuti pelatihan mewakili Forum Anak Brebes.
Aku belajar, imunisasi membuat kita lebih kuat dan kita harus fokus pada pencegahan infeksi HPV karena ini bukan soal sepele.
Pelatihan tersebut membuatnya lebih paham dampak berat dari kanker serviks sekaligus meluruskan kesalahpahaman tentang vaksin. “Setelah pelatihan, aku sekarang lebih paham tentang HPV. Aku belajar, imunisasi membuat kita lebih kuat dan kita harus fokus pada pencegahan infeksi HPV karena ini bukan soal sepele,” jelasnya. Ia juga berkenalan lagi dengan lagu anak-anak yang sudah digubah. “Metodenya seru, jadi penjelasan mudah dipahami,” katanya.
Jangan Sampai Ada Lagi Jadi Korban
Pelatihan seperti yang diikuti Ara tidak hanya memberikan pemahaman tentang vaksin HPV, tetapi juga membuat peserta muda berani berbicara, menjawab pertanyaan, dan menciptakan perbedaan di lingkungannya. Bagi Ara, pelatihan menguatkan tekadnya untuk lebih aktif dalam mengadvokasikan hak-hak anak terkait kesehatan, khususnya anak-anak di daerah terpencil atau perdesaan.
Ara melihat bahwa masalah ketidakpahaman atau misinformasi tentang imunisasi seringnya berasal dari kepercayaan dan bias yang sudah tidak relevan. “Aku ingin bilang, jangan percaya hoaks. Jangan percaya jika dikatakan vaksin atau imunisasi berbahaya, karena otoritas kesehatan sudah melakukan banyak penelitian yang memastikan vaksin aman untuk kita. Menurutku, kita harus belajar dan menjadi lebih sadar tentang kanker serviks, dan harus tahu ada layanan vaksin HPV gratis. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” jelasnya.
Di ruang pelatihan tersebut, perubahan tidak dimulai dari orasi megah, melainkan suara-suara kecil yang nyaring. Berkat kampanye imunisasi dari UNICEF, Gavi, serta mitra lain, makin banyak remaja seperti Ara yang mau bersuara. Di sebuah sekolah di Brebes, perubahan dimulai dari lagu. Di seluruh Indonesia, perubahan dimulai dengan mendengarkan suara seseorang seperti Ara.