Para Ayah Mengambil Peran dalam Imunisasi di Kota Kupang
Keterlibatan ayah membantu mengubah pandangan tradisional tentang pengasuhan anak dan imunisasi
- English
- Bahasa Indonesia
Pada suatu pagi di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Daniel Atawolo merapikan tas punggung putrinya yang berusia tiga tahun dan memastikan kartu imunisasinya tersimpan di dalam tas. Kini, membawa anak-anaknya ke Posyandu di kelurahannya untuk pemeriksaan kesehatan dan imunisasi telah menjadi rutinitas bagi Daniel. Namun, setahun sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan akan melakukannya sendiri.
“Dulu, istri saya yang selalu membawa anak-anak kami ke fasilitas kesehatan,” kenang Daniel. “Saya pikir tugas saya hanya mencari nafkah. Kesehatan anak adalah tanggung jawab istri saya. Saya tidak menyadari betapa pentingnya keterlibatan ayah.”
Pekerjaan Daniel memberinya keleluasaan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama istri dan keempat anak mereka. Namun, seperti banyak ayah lain di lingkungannya, sejak kecil ia terbiasa dengan anggapan bahwa pengasuhan anak dan pengambilan keputusan terkait kesehatan merupakan “urusan perempuan”.
Pandangan itu mulai berubah setelah ia diundang mengikuti sesi informasi mengenai hambatan gender dalam imunisasi, yang diselenggarakan oleh tenaga kesehatan di Posyandu setempat. “Saya terkejut ketika menerima undangan itu,” tandasnya sambil tersenyum. “Saya bertanya kepada kader, ‘kenapa saya? Bukanya ini untuk para ibu?’ Namun, saya tetap mengikuti sesi informasi tersebut, dan cara pandang saya berubah.”
Dalam sesi tersebut, untuk pertama kalinya Daniel dan para ayah lainnya mempelajari jadwal imunisasi anak, pentingnya pemberian imunisasi tepat waktu, serta tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah dalam pengasuhan untuk mendukung kesehatan anak. Informasi ini masih jarang diterima secara langsung oleh para laki-laki di lingkungannya.
“Sebelumnya, saya tidak banyak mengetahui tentang imunisasi,” ujar Daniel. “Biasanya, informasi hanya diterima oleh para ibu di Posyandu. Namun, dalam sesi itu kami membahas bahwa ayah juga perlu berperan. Saya pun menyadari pentingnya peran kami dalam mendukung kesehatan anak.”
Sesi tersebut merupakan bagian dari inisiatif Keterlibatan Ayah dalam Imunisasi yang dilaksanakan sejak 2024 oleh Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), organisasi kemasyarakatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta organisasi keagamaan, dengan dukungan UNICEF.
Inisiatif ini bertujuan memperkuat peran ayah dalam mendukung kesehatan anak melalui pendekatan responsif gender. Kegiatannya mencakup peningkatan kapasitas bagi ayah, pengasuh, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama; penguatan kapasitas tenaga kesehatan untuk mengenali dan mengatasi hambatan gender; serta dukungan kepada Posyandu dalam mengembangkan strategi lokal agar pelayanan imunisasi semakin inklusif dan mudah diakses.
Dalam kurun waktu lebih dari satu tahun, lebih dari 140 ayah di Kota Kupang telah menjadi ayah ‘percontohan’ atau champion untuk imunisasi. Mereka mendukung imunisasi anak-anaknya sekaligus mengajak ayah lain di lingkungan mereka untuk melakukan hal yang sama.
Para champion menyampaikan informasi yang benar, membantu meluruskan kesalahpahaman, dan menjadi teladan positif. Mereka kerap berbagi pengalaman pribadi dalam mengatasi keraguan terhadap imunisasi.
Kini, Daniel berupaya mendampingi istrinya ke Posyandu dan membantu memantau jadwal imunisasi anak-anak mereka. Perubahan ini turut memperkuat hubungan dalam keluarganya.
“Istri saya mengatakan bahwa ia merasa lebih didukung,” ujarnya. “Ia punya lebih banyak waktu untuk beristirahat atau melakukan hal lain ketika saya membawa anak-anak ke Posyandu. Saya pun kini merasa lebih dekat dengan anak-anak.”
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh keluarganya. Setelah melihat Daniel membawa anak-anaknya ke Posyandu, beberapa tetangga mulai melakukan hal yang sama. “Awalnya mereka menggoda saya,” katanya sambil tertawa. “Mereka bertanya, ‘Mengapa kamu mengerjakan tugas ibu?’ Namun sekarang, semakin banyak ayah yang ikut terlibat. Hal ini mulai menjadi kebiasaan di lingkungan kami.”
Daniel terus mengajak ayah lain kapan pun ada kesempatan, termasuk melalui percakapan informal dalam pertemuan warga. “Lebih mudah membicarakan hal-hal seperti ini dalam suasana santai,” jelasnya. “Sekarang, bukan hanya saya yang membawa anak ke Posyandu. Banyak ayah lain juga datang. Hal ini sudah menjadi kebiasaan, dan kami tidak lagi merasa malu ketika ayah, bukan ibu, yang membawa anak.”
Meski masih ada ayah yang ragu untuk terlibat, Daniel percaya bahwa perubahan dapat tumbuh dari satu percakapan ke percakapan berikutnya. “Pesan saya kepada para ayah adalah agar lebih aktif mendukung ibu,” katanya. “Mengasuh anak bukan hanya tugas ibu. Tanggung jawab itu harus kita bagi. Ketika kita melakukannya, keluarga menjadi lebih kuat dan anak-anak lebih sehat.”
Untuk mendukung keberlanjutan dampak, tenaga kesehatan akan mendapatkan pelatihan agar mampu mengenali dan membantu mengatasi hambatan gender yang menghalangi keluarga dalam mengakses pelayanan imunisasi. Dengan mengintegrasikan pemahaman tentang gender ke dalam lembaga pendidikan tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan platform pembelajaran pemerintah, pendekatan ini dapat diterapkan lebih luas secara nasional. Dengan demikian, keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan imunisasi dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga anak-anak dapat tumbuh lebih sehat.