“Pejuang Iklim” Beraksi di Aceh

Siswa mengubah inovasi kesehatan dan lingkungan menjadi aksi nyata

UNICEF Indonesia
Diana shows how her water filter works
UNICEF/2025/Chair
28 Oktober 2025

Matahari siang memancar terik di halaman sebuah sekolah di Aceh. Debu beterbangan di bawah langkah para siswa yang berlarian sambil tertawa. Di dekat sumur sekolah, seorang siswi berlutut tenang, matanya fokus pada seember air keruh berwarna cokelat. Dialah Jamalidiana, atau akrab disapa Diana, sosok yang menarik perhatian teman-temannya.

Dengan menggunakan filter sederhana dari kerikil, pasir, dan arang, Diana menuangkan air kotor itu perlahan. Tetes demi tetes, air berubah menjadi jernih. Sejenak, suasana hening. Beberapa siswa menghela napas tak percaya.

“Selama musim kemarau, air kotor seperti ini jadi masalah utama kami,” ujar Diana lembut. “Kami butuh solusi nyata.”

Diana adalah pemimpin “Pejuang Iklim” (Climate Warriors), sebuah inisiatif muda yang lahir dari program Youth4Health Impact oleh Kementerian Kesehatan dan UNICEF. Program ini mendorong anak muda untuk menciptakan solusi inovatif yang melindungi hak mereka atas lingkungan yang bersih dan sehat.

Bersama timnya, Diana memperkenalkan tiga inovasi praktis dan berbiaya rendah di 12 SMP dan SMA di Aceh Besar yaitu filter air menggunakan bahan local untuk membuang sedimen, menanam rempah-rempah seperti jahe, lidah buaya, dan daur ulang serta pengolahan kompos. 

Motivasi Diana lahir dari kepeduliannya terhadap kesehatan lingkungan sekolah. “Saya sering melihat air kotor membuat teman dan guru sakit,” ujarnya. “Kalau ini terus dibiarkan, bisa berpengaruh ke prestasi mereka di sekolah.”

Dari ide kecil itu, kini lahir gerakan anak muda yang bersemangat menjaga bumi mereka. Para anggota Climate Warrior rutin berkeliling sekolah untuk mendemonstrasikan inovasi mereka. “Kami menyediakan alat, pelatihan, dan kesempatan bagi siswa untuk belajar langsung,” jelas Diana.

Hasilnya nyata. Di salah satu pesantren, sistem pengomposan yang mereka perkenalkan telah mengubah sisa makanan menjadi pupuk — bahkan kini dijual oleh kantin sekolah kepada warga sekitar.

Kepala sekolah Diana, Affilianda, menyaksikan sendiri dampak perubahan ini. “Banyak dari kami masih mengandalkan air sumur yang tidak selalu bersih,” ujarnya. "Filter air menawarkan solusi praktis untuk menghilangkan sedimen sebelum digunakan untuk penggunaan rumah tangga. Dan manfaatnya dirasakan hingga di luar sekolah. Anak-anak kami juga mengajar keluarga mereka, sehingga pengetahuan itu juga dapat digunakan di rumah dan lingkungan mereka."

Affilinda, headmaster of SMPN 1 Darul Imarah Junior High School
UNICEF/2025/Chair Affilinda, Kepala Sekolah SMPN 1 Darul Imarah, bekerja di kantornya

Filter air menawarkan solusi praktis untuk menghilangkan sedimen sebelum digunakan untuk penggunaan rumah tangga. Dan manfaatnya dirasakan hingga di luar sekolah.

Affilinda

Upaya ini juga mendukung program nasional Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang menumbuhkan kesadaran lingkungan di sekolah-sekolah.

“Anak muda adalah agen perubahan,” kata Jamaansyah, Petugas Penjangkauan Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup Aceh. “Dua tahun terakhir, antusiasme sekolah luar biasa. Ini bukti bahwa pendidikan lingkungan bisa membangun karakter generasi peduli bumi.”

Anak muda adalah agen perubahan.

Jamaansyah
Jamaansyah, Environmental Outreach Officer, in his office
UNICEF/2025/Chair Jamaansyah, Petugas Penjangkauan Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup Aceh, bekerja di ruangannya

Aceh tidak asing dengan dampak perubahan iklim, termasuk kenaikan suhu, banjir pesisir, dan kekeringan berkepanjangan yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan meningkatkan risiko bencana di masa mendatang. Di seluruh Indonesia, bahaya iklim dan lingkungan semakin berdampak pada anak-anak. Diperkirakan 28 juta anak terpapar banjir pesisir dan 15 juta anak terpapar gelombang panas.

Melalui Youth4Health Impact, UNICEF mendukung pemerintah untuk memberdayakan remaja, memungkinkan mereka untuk terlibat langsung dengan para pembuat kebijakan kesehatan lokal dan mengadvokasi perubahan yang mencerminkan kepedulian mereka.

Sejak tahun 2022, program ini telah melibatkan lebih dari 25.000 remaja di seluruh Indonesia dalam pencegahan risiko kesehatan tidak menular, dan menjangkau lebih dari 141.000 remaja melalui pendidikan sebaya di Aceh dan Bandung, menangani ancaman kesehatan kritis seperti merokok, polusi, dan kesehatan mental.

Diana and her mother
UNICEF/2025/Chair Diana dan ibunya di halaman sekolah SMPN 1 Darul Imarah

Meski bersemangat, Diana tidak selalu yakin pada dirinya.

“Ketika program saya gagal, atau presentasi saya tidak berjalan baik, saya sering ragu apakah saya cukup mampu,” tuturnya jujur.

Namun semangatnya tak pernah padam. “Kami ingin menggerakkan hati kaum muda agar peduli dan bertindak untuk lingkungan,” katanya penuh keyakinan. “Baik siswa laki-laki maupun perempuan memiliki peran penting — dan kami ingin mereka merasa mampu melakukannya.”

Impian Diana sederhana namun kuat: setiap sekolah di Indonesia memiliki akses air bersih.

“Kami memang masih muda,” katanya tersenyum, “tapi tindakan kecil kami bisa melindungi kesehatan, mendukung pembelajaran, dan menjaga masa depan bangsa.”.