Ayah Juara: Menghapus Hambatan Gender untuk Imunisasi di Papua
Pendekatan Baru Mendukung Ayah untuk Mendefinisikan Ulang Tanggung Jawab Perawatan Anak
- English
- Bahasa Indonesia
Pada suatu sore yang tenang di perbukitan Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, David Saiba berdiri di depan sekelompok ayah yang berkumpul di aula Gereja Simon Hungku. Ia merupakan tokoh masyarakat yang dihormati. David menjadi fasilitator dalam diskusi yang membicarakan isu yang tidak dianggap sebagai tanggung jawab ayah, yaitu imunisasi.
“Dahulu saya pikir hal-hal terkait kesehatan bukanlah urusan ayah,” kata David. “Namun, saya belajar bahwa sebagai ayah, kita memiliki peran penting dalam melindungi anak-anak. Ini bukan hanya tentang memberi nafkah, melainkan juga kesehatan dan masa depan mereka.”
Kegiatan yang dilakukan David tersebut merupakan upaya UNICEF di Papua untuk mengatasi terjadinya bias gender dalam proses pelaksanaan imunisasi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu. Di Indonesia, norma tradisional seringkali menyerahkan seluruh tanggung jawab perawatan anak kepada ibu, yang menjadikan minimnya peran ayah dalam mengambil keputusan penting terkait kesehatan anak.
"Saya belajar bahwa sebagai ayah, kita memiliki peran penting dalam melindungi anak-anak."
Penelitian global menunjukkan adanya hubungan kuat antara ketidaksetaraan gender dan rendahnya tingkat imunisasi. Begitu pula hasil analisis gender terhadap hambatan vaksinasi oleh UNICEF pada 2024 yang menguraikan bagaimana mengakarnya norma gender serta ketidakseimbangan kekuasaan membentuk pola imunisasi, memberikan beban yang tidak proporsional kepada perempuan dan anak perempuan sebagai pengasuh ataupun pasien.
Hasil studi tersebut merekomendasikan strategi khusus, termasuk secara aktif melibatkan pria dan anak laki-laki dalam advokasi vaksinasi, bekerja sama dengan pemimpin agama dan masyarakat untuk membantah kesalahpahaman, mengadopsi kebijakan yang responsif gender, dan memperkuat pelatihan tenaga kesehatan untuk memastikan perawatan yang inklusif, penuh rasa hormat, dan adil.
Kelompok Ayah Juara: Pendekatan Baru
Dengan tingkat imunisasi Papua yang masih rendah, UNICEF bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan untuk membangun Kelompok Ayah Juara. Komunitas ini mendidik ayah tentang pentingnya imunisasi, komunikasi yang efektif, dan konsep berbagi tanggung jawab perawatan anak dalam keluarga.
“Biasanya para ibu bersedia untuk mengimunisasi anak, namun seringkali suami mereka tidak mengizinkan, kata Bidan Sarce Melphy yang kerap berinteraksi dengan keluarga di wilayah kerjanya. Edukasi Kelompok Ayah Juara dirancang untuk memastikan para peserta dapat memahami tiap sesi dengan mudah. Fasilitator menggunakan metode bercerita, bermain peran, serta lagu untuk menyederhanakan topik-topik kesehatan yang kompleks. Sesi diskusi interaktif dapat menciptakan rasa kebersamaan, mendorong para ayah agar terbuka tentang tantangan mereka dan merefleksikan peran dalam kehidupan anak-anaknya.
Tenaga kesehatan dan fasilitator coba merangkul para ayah melalui kegiatan keagamaan. Kelas ayah tersebut kerap diselenggarakan setelah pertemuan gereja, sehingga tercipta suasana nyaman dan akrab agar diskusi dapat menjadi terbuka.
“Kebanyakan orang tua menghabiskan waktu dengan berkebun, jadi aktivitas sehari-hari mereka berfokus pada kebun. Kesehatan anak seringkali tidak mendapat perhatian. Jika anak alami sakit parah, barulah dibawa ke puskesmas atau rumah sakit,” jelas David. “Pelatihan untuk ayah membantu mereka memahami pentingnya imunisasi dan memberi pemahaman untuk secara aktif mendukung kesehatan anak mereka.”
Bidan Sarce melihat potensi besar dari pendekatan ini.
“Sesi-sesi seperti ini adalah cara yang sangat baik untuk menjangkau ayah dan menyebarkan pesan melalui kegiatan gereja dan kelompok ayah.”
Sarce
Dampak dari inisiatif ini mulai tampak. Para ayah yang sebelumnya menganggap perawatan anak hanya merupakan tanggung jawab ibu, kini mulai mengambil peran yang lebih aktif. Ada yang mendampingi istri ke klinik untuk vaksinasi, ada pula yang mengingatkan jadwal imunisasi.
“Kami kini melihat lebih banyak ayah yang datang ke puskesmas,” kata Sarce. “Keterlibatan mereka berhasil menginspirasi keluarga lain untuk turut memprioritaskan imunisasi.”
Membangun Masyarakat yang Lebih Kuat
Kelompok Ayah Juara tak hanya mengubah perilaku individu, tetapi juga mendorong perubahan di tingkat warga. Sejumlah warga turut membantu tenaga kesehatan dalam menanggapi mitos dan kesalahpahaman tentang vaksin. Melalui kunjungan rumah dan pertemuan warga, mereka merangkul orang tua yang masih menolak vaksin, untuk menumbuhkan kesadaran akan kesehatan.
Meski masih di tahap awal, program ini memiliki potensi besar. Setelah enam bulan pelaksanaan, UNICEF akan memaparkan hasilnya kepada Kementerian Kesehatan, dengan tujuan untuk memperluas inovasi serupa ke wilayah lain di Indonesia. UNICEF bertujuan mengintegrasikan strategi imunisasi yang responsif gender ke dalam kebijakan kesehatan nasional untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.
“Jika berperan aktif dalam kesehatan anak, ini memungkinkan ayah untuk mengakses layanan kesehatan rutin dan tepat waktu,” jelas Firmansyah Kamummu, Staf Kesehatan UNICEF yang berbasis di Papua. “Inisiatif ini lebih dari sekadar vaksinasi. Ini tentang menghapus sekat gender untuk menciptakan keluarga sehat dan masyarakat kuat.”
>> Baca laporan terkait: Mengatasi Hambatan Gender dalam Imunisasi di Indonesia
Tonton cerita lengkap