Masa Depan Tanpa Kanker Serviks: Melindungi Anak Perempuan Indonesia Melalui Imunisasi HPV
Program Nasional Imunisasi Gratis untuk Siswa dan Remaja Perempuan yang Tidak Bersekolah
- English
- Bahasa Indonesia
Di sebuah perkampungan kecil di pinggiran Makassar, Sulawesi Selatan, Yuli Yanti yang berusia 47 tahun duduk bersama anak dan keponakannya, merenungkan berita mengejutkan yang mengubah hidup dan mengguncang keluarganya.
Ia mengingat gejala awal penyakit itu, berupa perdarahan hebat dan rasa sakit yang disertai dengan ketidakpastian selama berbulan-bulan. Pada tahun 2021, Yuli didiagnosis menderita kanker serviks. Sejak saat itu, hari-harinya penuh dengan jadwal berobat ke rumah sakit dengan berbagai pemeriksaan yang melelahkan.
"Saya harus menjalani 35 kali radiasi dan kemoterapi, itu sangat melelahkan. Tapi saya terus berjuang, bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk putri-putri saya." Yuli sekarang bertekad untuk memastikan agar setiap perempuan di dalam keluarga dan lingkungannya tidak mengalami penderitaan yang sama. "Saya tidak ingin putri atau keponakan saya mengalami ini. Kemoterapi dan mendatangi rumah sakit adalah mimpi buruk," kata Yuli.
Setelah tiga tahun berjuang melawan kanker, dia memahami pentingnya pencegahan. Ketika pemerintah memperkenalkan program vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) untuk remaja putri, Yuli memastikan untuk membawa anak dan keponakannya untuk divaksin.
"Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Saya melindungi mereka dari apa yang saya alami."
Pada Agustus 2023, Pemerintah Indonesia dengan dukungan UNICEF, meluncurkan program imunisasi HPV nasional untuk melindungi jutaan anak perempuan dari kanker serviks. Ini adalah penyebab utama kedua kematian akibat kanker di kalangan perempuan di Indonesia. Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi HPV, yang menjadi penyebab atas 95 persen kasus kematian.
Diuji coba pertama kali pada tahun 2021, program vaksinasi HPV menarget 20 kabupaten dan diperluas ke 112 kabupaten pada tahun 2022. Program ini memberikan imunisasi gratis untuk anak perempuan di kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar, juga untuk anak perempuan yang tidak bersekolah berusia 11 dan 12 tahun. Dengan lebih dari 18.000 kematian terkait kanker serviks setiap tahun di Indonesia, program imunisasi HPV memberikan solusi pencegahan yang berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa.
Bagi anak perempuan seperti Akhila Naura Azamrah, seorang siswa kelas lima di SD Negeri Sudirman IV Makassar, vaksin HPV memberikan ketenangan pikiran. "Suntikannya tidak terlalu sakit, hanya sedikit seperti gigitan semut," kata Akhila setelah menerima dosis pertamanya. "Penting untuk mendapatkan vaksin agar kita tidak sakit kanker serviks di masa depan,” sambungnya.
Teman sekelasnya, Azila Kinara Putri, menjelaskan perasaannya. "Awalnya, saya sedikit takut karena saya tidak tahu apa tujuannya. Tapi setelah vaksin, saya menyadari itu tidak terlalu menakutkan dan saya senang telah melakukannya."
Meski ada kemajuan, program imunisasi HPV masih mengalami tantangan. Tantangan itu berupa kebiasaan budaya, informasi yang salah, hingga ketersediaan rantai pasokan. Tantangan terbesar berada pada lingkungan pedesaan yang minim akses, terutama soal informasi. Masih banyak orang tua yang khawatir bahwa memberi vaksin kepada anak perempuan sebelum pubertas, akan mendorong anak untuk melakukan aktivitas seksual secara dini. Padahal ini adalah informasi salah, yang sayangnya mampu membuat resistensi di sejumlah wilayah.
Untuk mengatasi tantangan ini, UNICEF dan Kementerian Kesehatan berkolaborasi untuk mengembangkan kapasitas dan SDM para petugas kesehatan, guru dan pemuka agama agar dapat menjadi ujung tanduk dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya vaksinasi HPV.
Pendidikan tersebut termasuk pelatihan komunikasi interpersonal untuk pendidik. Sarwina, seorang guru di SD Negeri Sudirman IV telah mendapat pelatihan. "Kami belajar bagaimana menjelaskan manfaat vaksin HPV dengan cara yang tidak menakutkan," jelas Sarwina. "Kami menggunakan lagu, permainan, dan metode kreatif untuk membantu orang tua memahami mengapa vaksin ini sangat penting."
Upaya ini berhasil memberi dampak. "Awalnya orang tua takut, sebab berpikir vaksin ini bisa menyebabkan kemandulan. Tapi setelah sesi edukasi, mereka mulai melihat betapa pentingnya melindungi putri mereka dari kanker serviks. Sekarang, mereka datang untuk meminta vaksin," kata Sarwina dengan bangga.
Para pemuka agama juga telah memainkan peran penting dalam mengubah persepsi. Profesor Mustari Mustafa, Ketua Hubungan Internasional di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan, secara aktif turut mendukung vaksin HPV.
"Vaksin ini tentang pencegahan, ini tentang melindungi kesehatan anak perempuan kita, yang sejalan dengan nilai-nilai Islam," kata Profesor Mustafa.
"Sebagai pemuka agama, adalah tanggung jawab kita untuk mendidik masyarakat. Kita harus mendukung upaya pemerintah dan memastikan anak-anak kita terlindungi."
Di perkotaan seperti Jakarta, Surabaya dan Makassar, sekolah miliki peran penting untuk memastikan anak perempuan menerima vaksinasi sebagai bagian dari Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), yang dilaksanakan setiap Agustus dan November. Namun di pedesaan maupun areal kumuh perkotaan, bukan hal mudah untuk menjangkau anak perempuan yang tidak bersekolah akibat keterbatasan akses layanan.
Di Puskesmas Kaluku Bodoa di Kota Makassar, petugas kesehatan seperti Irmawati berkomitmen untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal. "Kami bekerja dengan relawan lokal untuk mencari anak perempuan yang tidak bersekolah dan memastikan mereka menerima vaksinasi HPV," kata Irmawati, Koordinator Kesehatan. "Awalnya ada penolakan sebab orang tua khawatir vaksin ini bisa menyebabkan kemandulan. Namun dengan sosialisasi yang terus dilakukan dengan dukungan UNICEF, kami telah mengubah pikiran mereka."
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga memainkan peran penting dalam keberhasilan program imunisasi HPV. UNICEF telah mendorong penguatan organisasi lokal untuk mendukung pemerintah dalam menjangkau daerah-daerah terpencil dan kurang tersentuh. Kolaborasi tersebut berhasil membangun kepercayaan dan memberdayakan pemangku kepentingan lokal untuk terus mengupayakan pemberian vaksin.
"Kami telah bekerja dengan Dinas Kesehatan Kabupaten untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat tentang vaksinasi anak perempuan," kata Rahman Nur Syam, Manajer Program di Yayasan Gaya Celebes (YGC), sebuah LSM lokal.
"Melalui pendidikan dan keterlibatan tokoh publik yang dipercaya masyarakat, kami berhasil menghilangkan kesalahpahaman tentang vaksin HPV dan melindungi lebih banyak anak perempuan."
Dengan menjangkau anak perempuan di dalam maupun di luar pendidikan formal, imunisasi HPV memiliki potensi besar untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan menghilangkan kanker serviks pada 2030. Program imunisasi HPV nasional telah diberikan kepada lebih dari 89 persen anak perempuan yang ditargetkan untuk dosis pertama pada tahun 2023. Pemerintah berencana melakukan imunisasi susulan untuk anak perempuan berusia 15 tahun pada tahun 2025 dan melakukan vaksinasi HPV untuk anak laki-laki pada tahun 2028.
Ketika merenungkan perjuangnnya untuk memperoleh kesehatan, Yuli Yanti menaruh asa besar.
“Andaikan saya tahu tentang vaksin ini ketika saya masih muda. Tapi sekarang, setidaknya saya tahu anak perempuan dan keponakan saya aman. Inilah cara kita bisa melindungi generasi berikutnya."
Tonton Cerita Lengkap