Remaja Perempuan yang Menemukan “Kode”nya: Mengubah Cerita di Dunia Teknologi

Generasi Terampil memberdayakan remaja di Jawa Timur untuk mengubah batasan tentang STEM

-
UNICEF Indonesia
25 Mei 2026

Di Trenggalek, Jawa Timur, Vian yang berusia 18 tahun berani memimpikan masa depannya di bidang teknologi, sebuah bidang yang jarang dijelajahi oleh anak perempuan di desanya. Dibesarkan dalam kesederhanaan keluarga petani, Vian tidak memiliki kesempatan untuk belajar tentangteknologi secara professionalsaat di bangku SMA.

“Saya tidak punya guru atau mentor untuk membimbing saya,” ceritanya. “Saya mengandalkan wadah seperti YouTube dan sesekali mengobrol dengan teman saya. Awalnya, saya hanya iseng mencoba-coba. Karena kelihatannya keren, jadi saya mencoba untuk mendalami pemrograman, dan akhirnya saya menemukan hobi baru.”

Vian menghabiskan waktu berjam-jam bereksperimen denganlaptopnya, belajar melalui metode trial and error – mencoba lagi tiap menemukan kegagalan. Setiap bug (temuan kendala) pada perangkat lunak yang ia temui dan setiap kesalahan yang ia buat menjadi pelajaran penting. Kemudian datanglah titik balik: program Generasi Terampil diperkenalkan di SMA-nya di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Para peserta program Skills4Girls mempresentasikan proyek mereka kepada Dyah di laboratorium komputer SMAN 1 Karangan, Trenggalek, Jawa Timur, pada 23 September 2025.
UNICEF/2025/Chair

Didukung oleh UNICEF dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Generasi Terampil membekali remaja perempuan dengan keterampilan abad ke-21, termasuk didalamnya keterampilan digital, yang esensial agar dapat bersaing dan berkembang, baik untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi maupun mempersiapkan karier masa depan di duniakerja yang semakin kompetitif.

Para remaja memperoleh keterampilan melalui kegiatan pembelajaran dan bimbingan dari para guru serta mentor profesional di sektor swasta. Mereka juga dibimbing untuk bertransisi lebih baik dari dunia pendidikan ke dunia kerja, khususnya bagi para pelajarperempuan.

Selain mengikuti sesi ekstrakurikuler rutin terkait keterampilan digital, dengan dukungan dari para mentor, para siswa juga diajak untuk mengidentifikasi permasalahan pada lingkungan dissekitarnya dan berpartisipasi dalam sesi ‘bootcamp’ intensif untuk mengembangkan ide solusi baik digital dan non-digital untuk mencoba menyelesaikan tantangan tersebut.

Melalui bootcamp tersebut, Vian belajar bagaimana mengubah ide menjadi suatu solusi yang berdampak nyata. Dalam proyek pendek pertamanya, timnya menghidupkan kembali klub Bahasa Inggris sekolah yang sempat kesulitan karena kurangnya peminat. Dengan menerapkan keterampilan digital yang ia peroleh, mereka membuat situs web untuk mempromosikan klub, meluncurkan profil Instagram, dan memasarkan klub secara kreatif di kalangan siswa. Hasilnya, jumlah anggota melonjak drastis.

Vian pun menjadi mentor sebaya, membimbing siswa yang lebih muda untuk mengembangkan proyek digital mereka sendiri. “Melalui program ini, saya menjadi lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri, terutama saat bekerja dengan teman sekelas laki-laki dari latar belakang yang berbeda,” ceritanya. “Sekarang saya bisa berdiri di depan mereka, memperkenalkan diri, dan berbagi ide tanpa ragu.”

Dyah, seorang guru di SMAN 1 Karangan, di lapangan sekolah SMAN 1 Karangan, Trenggalek, Jawa Timur, pada 23 September 2025.
UNICEF/2025/Chair Dyah, seorang guru di SMAN 1 Karangan, di lapangan sekolah SMAN 1 Karangan, Trenggalek, Jawa Timur, pada 23 September 2025.

Dengan dukungan dari gurunya, Ibu Diah, ia berkembang dari seorang siswi pemalu menjadi panutan bagi anak perempuan lainnya. “Sejak bergabung dengan program Generasi Terampil , saya melihat Vian berangsur-angsur menjadi lebih percaya diri,” kata Ibu Diah. “Ia telah menjadi inspirasi bagi kami semua, menunjukkan bahwa kesuksesan benar-benar membutuhkan ketekunan, dan menjadi seorang yang introvert bukan berarti Anda ditakdirkan untuk gagal.”

Generasi Terampil dimulai di DKI Jakarta pada tahun 2019 dan sejak itu telah diperluas ke Kota Semarang,Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Sulawesi Selatan, dan melibatkan lebih dari 22.000 remaja (63 persen perempuan) dari lebih dari 500 sekolah yang telah mengembangkan lebih dari 2.000 solusi digital.

Jawa Timur, dengan 5,8 juta remaja berusia 10–19 tahun, merupakan rumah bagi populasi remaja terbesar kedua di Indonesia—menjadikannya wilayah prioritas bagi program Skills4Girls. Sejak tahun 2022, program ini telah memberdayakan lebih dari 8.400 remaja (62 persen perempuan) di 154 sekolah. Delapan puluh lima persen remaja yang terlibat dalam program ini melaporkan peningkatan kepercayaan diri dan harga diri.

Suhartatik, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, tersenyum di ruang kerjanya, Surabaya, Jawa Timur.
UNICEF/2025/Chair Suhartatik, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, tersenyum di ruang kerjanya, Surabaya, Jawa Timur.

Berdasarkan kemajuan ini, pemerintah provinsi Jawa Timur mengintegrasikan program tersebut ke dalam inisiatif pengembangan keterampilan remaja yang sudah ada bagi siswa-siswa yang membutuhkan dukungan tersebut. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa anak perempuan dan laki-laki yang kurang beruntung, baik di lembaga pendidikan formal maupun non-formal, mendapatkan akses ke pelatihan keterampilan yang praktis dan inklusif.

Suhartatik, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA di Dinas Pendidikan Jawa Timur, memandang Generasi Terampil sebagai cetak biru perubahan. Timnya telah mengintegrasikan pendekatan program tersebut ke dalam program ekstrakurikuler provinsi untuk remaja di Jawa Timur

“Kami mendorong semua siswa untuk tetap termotivasi dan memperkuat dorongan batin mereka, sehingga mereka dapat berhasil, melanjutkan pendidikan tinggi, memperluas pengetahuan mereka, dan mungkin bahkan mengubah jalan hidup mereka,” kata Suhartatik.

Vian, berusia 18 tahun, bersama orang tuanya di rumah mereka, di Trenggalek, Jawa Timur, pada 24 September 2025.
UNICEF/2025/Chair Vian, berusia 18 tahun, bersama orang tuanya di rumah mereka, di Trenggalek, Jawa Timur, pada 24 September 2025.

Bagi Vian, masa depan itu sudah mulai terwujud. Ia menggunakan sertifikat keterampilan digitalnya untuk melamar ke salah satu universitas teknologi bergengsi di Indonesia— dan berhasil diterima tanpa biaya pendaftaran, membawa kebanggaan sekaligus keringanan finansial bagi keluarganya. “Sebelum mengikuti program ini, saya tidak pernah terpikir untuk kuliah. Kondisi keluarga saya cukup biasa saja, dan dulu saya berpikir bahwa setelah sekolah, saya akan langsung bekerja untuk mendukung kebutuhan ekonomi keluarga,” katanya.

“Saya ingat saat melihat jurusan yang saya ambil—Teknik Komputer—dan berpikir, ‘Semuanya laki-laki. Apakah perempuan seperti saya juga bisa benar-benar bisa melakukan ini?’” kenang Vian. Kegembiraannya sempat berubah menjadi keraguan. Namun, pertanyaan itu justru menjadi percikan yang memicu semangatnya untuk maju.

Vian saat sedang mengikuti ujian di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur pada 22 September 2025.
UNICEF/2025/Chair Vian saat sedang mengikuti ujian di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur pada 22 September 2025.

Kini Vian menghabiskan hari-harinya di ruang kelas perguruan tinggi untuk menguasai bahasa pemrograman komputer yang beragam. Ia bermimpi untuk membangun perangkat lunak yang memiliki dampak sosial yang nyata. Pesannya: “Kepada semua anak perempuanyang ingin mengejar karir atau melanjutkan studi di bidang teknologi seperti saya, jangan takut untuk mencoba. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi jangan pernah jadikan kekuranganmu sebagai alasan untuk tidak mencoba. Prosesnya mungkin memakan waktu, tetapi setiap orang akan sukses pada saatnya masing-masing,” ucapnya bangga.

-

Generasi Terampil merupakan program kerja sama UNICEF dan Pemerintah Indonesia untuk mendukung pengembangan keterampilan remaja, terutama remaja perempuan untuk berdaya dan mempersiapkan transisi mereka ke dunia kerja. Generasi Terampil merupakan bagian dari portfolio global Skills4Girls dari UNICEF.

Embedded video follows
UNICEF/2025/Chair