Para Pegiat Muda Menggerakkan Perubahan di Seluruh Indonesia
Inisiatif Aksi yang Dipimpin Pemuda untuk Menangani Persoalan Remaja
- English
- Bahasa Indonesia
Di Kota Semarang, Jawa Tengah, ada kegembiraan yang nyata pada Hari Anak Sedunia saat 400 siswa memasuki aula sekolah untuk acara khusus yang diselenggarakan oleh Forum Anak Daerah Jawa Tengah (FAD Jateng).
Para pembicara yang penuh semangat itu bukanlah orang dewasa, namun anak muda yang mendedikasikan diri untuk meningkatkan kesadaran tentang kekerasan terhadap anak-anak dan remaja. Mereka berbicara kepada sesama mereka, dalam bahasa yang dapat dipahami oleh kalangan sebaya.
Perjalanan ini dimulai di Bangkok pada 2023, di mana empat remaja dilatih untuk menjadi Pejuang Advokasi Pemuda. Mereka belajar perencanaan dan pelaksanaan gerakan, termasuk mengidentifikasi kekuatan dan peran. Ini dilakukan melalui penelitian dan pengembangan rencana strategis. Seluruh keterampilan ini begitu penting dan mampu memberikan dampak yang luas dalam kerja advokasi.
Keterampilan untuk pemantauan aksi, pengelolaan risiko, memahami kebijakan dan berinteraksi secara efektif bersama para pengambil kebijakan; merupakan hal-hal yang mereka pelajari. Ketika kembali ke kota masing-masing, tiap kampiun diharap untuk melatih setidaknya 40 remaja lain di empat provinsi. Provinsi tersebut adalah Papua, Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Belajar tentang advokasi membuka mata saya tentang bagaimana anak muda seperti saya dapat memiliki suara nyata dalam pengambilan keputusan," kata Erwin Mahendra Eka Saputra, seorang Pejuang Advokasi Pemuda berusia 24 tahun dari Bandung, Jawa Barat. "Pelatihan ini membekali saya instrumen yang dapat diterapkan dan membantu saya untuk mengubah ide menjadi tindakan nyata."
"Sebagai pemuda adat, menjadi bagian dari pelatihan yang difasilitasi oleh orang muda untuk orang muda sangat menginspirasi," kata Vanessa Johanson Reba, seorang Pejuang Advokasi Pemuda berusia 23 tahun dari Papua. "Bersama-sama, kita dapat membuktikan bahwa inisiatif yang dipimpin pemuda dapat mendorong perubahan yang berarti sambil menghormati akar kita dan mengangkat suara kita."
Upaya ini adalah bagian dari inisiatif Aksi yang Dipimpin Pemuda global UNICEF, yang bertujuan untuk mengalihkan peran muda dari yang sebelumnya pasif menjadi agen perubahan dalam masyarakat mereka. Tujuannya adalah untuk mendorong peran anak muda agar dapat memimpin transformasi dan menghasilkan dampak berkelanjutan bagi lingkungannya.
Di Indonesia, inisiatif ini berfokus pada membangun kapasitas aktivis muda, mendanai rencana aksi yang dibuat oleh organisasi yang mereka pimpin, dan memberikan bimbingan kegiatan. Pada 2024 dengan dukungan teknis dari staf UNICEF, para Pejuang Advokasi Pemuda Indonesia memimpin program dengan sepuluh organisasi yang menerima sekitar Rp 80 juta dari UNICEF.
Salah satu organisasi tersebut adalah FAD Jateng. Ini merupakan jaringan Forum Anak nasional yang melakukan advokasi bagi persoalan anak dan remaja kepada pemerintah, agar pengambil kebijakan memprioritaskan hak-hak anak.
FAD Jateng melakukan advokasi dalam berbagai isu, salah satunya perundungan dan eksploitasi seksual yang meluas di kalangan remaja. Sepanjang 2024, FAD Jateng mengadakan rangkaian perjalanan advokasi di empat kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kegiatan bertajuk FANJATour ini berhasil menjangkau 750 anak dan remaja, termasuk 65 dengan disabilitas.
Tiap kegiatan berfokus pada edukasi tentang langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari eksploitasi dan kekerasan seksual daring. Termasuk mengidentifikasi ancaman, melindungi informasi pribadi, serta melaporkan konten mencurigakan dan perilaku berbahaya.
"Menurut saya, kegiatan ini sangat penting. Anak-anak saat ini sangat dekat dengan teknologi dan sangat rentan terhadap kekerasan seksual daring," kata Defan, remaja 19 tahun yang menghadiri salah satu sesi. "Dengan cara yang menyenangkan, kami diajarkan tentang masalah yang mungkin dianggap tabu untuk dibahas dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk melindungi diri. Saya berharap lebih banyak teman bisa mendapat kesempatan untuk belajar seperti ini!"
Selain FAD Jateng, sembilan organisasi lain juga telah melaksanakan kegiatan dalam beragam bentuk, seperti lokakarya, pelatihan, pembuatan podcast, dan sebagainya; dengan melibatkan lebih dari 9.000 remaja dengan sekitar 127.000 orang melalui kanal media sosial.
Kegiatan lain berupa edukasi kebersihan menstruasi di Bali dan pembuatan sabun ramah lingkungan di Manado, dirancang untuk meningkatkan kesadaran, kepemimpinan dan keterlibatan pemuda untuk berperan pada proses pengambilan kebijakan dalam isu-isu mendesak terkait kehidupan mereka.
"Melalui inisiatif ini, saya telah melihat bahwa proses memberdayakan anak muda dapat menghasilkan perubahan," kata Erwin. "Ke depan, saya ingin meningkatkan jumlah kampiun lintas generasi, termasuk pemuda dengan disabilitas dan dari daerah pedesaan untuk memastikan adanya kesempatan yang sama bagi semua untuk mendorong solusi masa depan yang tangguh."