Mengangkat Suara Sehat: Perjuangan Shafa untuk Keadilan Pangan

Shafa Syahrani, seorang pemuda Indonesia yang cerdas, terpesona oleh bagaimana makanan membentuk kesehatan. Namun, rasa ingin tahunya membawanya pada sebuah penemuan yang meresahkan.

UNICEF Indonesia
Shafa Syahrani berdiri di depan latar logo UNICEF
UNICEF Indonesia
03 Oktober 2025

Di usia 23 tahun, Shafa Syahrani tampak seperti banyak anak muda Indonesia lainnya – cerdas, penuh rasa ingin tahu dan penuh mimpi. Ia tumbuh besar di Makassar dan menempuh pendidikan di Program Studi Gizi, Universitas Negeri Makassar. Shafa selalu tertarik dengan bagaimana makanan dapat memengaruhi kesehatan, tetapi semakin banyak ia belajar, semakin besar pula kegelisahannya. 

"Sejak kecil, saya tidak benar-benar tahu makanan mana yang sehat," kenang Shafa. "Kami pikir susu kemasan itu baik karena namanya susu, tetapi ternyata penuh gula. Bahkan hari ini, begitu banyak anak muda yang tidak tahu apa yang benar-benar sehat." 

Bagi Shafa, ini bukan sekadar kekhawatiran pribadi. Ini adalah krisis yang terus berkembang. Di seluruh Asia Timur dan Pasifik, angka kelebihan berat badan dan obesitas meningkat di kalangan anak dan remaja.  Di Indonesia saja, hampir satu juta anak balita, satu dari lima anak usia sekolah 5-12 tahun, dan satu dari tujuh remaja mengalami kelebihan berat badan dan obesitas (Kemenkes, 2024).  

Di balik statistik ini terdapat realitas sederhana: makanan tidak sehat ada dimana-mana, murah dan seringkali menjadi satu-satunya pilihan. Makanan ini juga dipasarkan secara agresif tanpa menerapkan perlindungan etis yang seharusnya berlaku bagi produk yang ditujukan kepada anak-anak.  

"Junk food (makanan cepat saji) ada di mana-mana. Mudah ditemukan dan sulit untuk ditolak. Bahkan hadiah untuk anak-anak biasanya permen."

Shafa Syahrani

Alih-alih diam, Shafa memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia mendaftar bergabung dengan Fix My Food Indonesia, sebuah inisiatif yang dipimpin anak muda dengan dukungan UNICEF Kantor Regional Asia Timur dan Pasifik. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan para pemimpin muda untuk menantang lingkungan pangan yang tidak sehat dan menuntut perubahan, sebagai bagian dari kelangsungan kemitraan global antara UNICEF dan Novo Nordisk untuk membantu pencegahan peningkatan beban akibat obesitas pada anak. 

"Saya tahu bahwa jika kampanye ini didukung oleh UNICEF, kami dapat menjangkau orang-orang yang tepat," kata Shafa, "Kami bisa membuat perubahan nyata!" 

Bersama dua pemimpin muda lainnya, Bian (20 tahun, dari Sukabumi) dan Vanessa (24 tahun, dari Papua), Shafa menjadi bagian dari Tim Riset Inti Fix My Food Indonesia. Misi mereka adalah untuk mengungkap bagaimana makanan tidak sehat dipasarkan kepada anak-anak dan apa yang dapat dilakukan untuk menghentikannya. 

Shafa Syahrani berbicara di atas panggung
UNICEF Indonesia Shafa Syahrani, 23, berbicara di depan pemirsa, termasuk pemangku kebijakan

Itu bukan tugas yang mudah. 

"Kami tidak punya buku panduan," jelas Shafa, "Kami harus mencari cara merekrut sukarelawan, mengumpulkan cerita, dan menganalisis data. Banyak orang yang mundur. Tapi kami terus maju." 

Investigasi yang Dipimpin oleh Anak Muda 

Shafa dan tim merancang cara kreatif untuk mendokumentasikan realitas pangan anak muda. Mereka meluncurkan "Food Scavenger Hunt (Perburuan Makanan)" nasional, mengajak anak muda usia 14-24 tahun untuk berbagi foto dan cerita tentang apa yang mereka lihat, makan, dan memengaruhi mereka untuk membeli setiap hari.  

Sebanyak 223 anak muda Indonesia berpartisipasi. Dengan menggunakan ponsel mereka, mereka merekam makanan yang mereka makan, dan makanan yang murah, terlihat jelas, dan paling agresif dipasarkan. Cerita-cerita yang muncul memperlihatkan pola: jajanan gorengan dikonsumsi setiap hari karena merupakan pilihan termurah dan kurangnya kesadaran tentang apa yang dimaksud dengan makanan sehat atau tidak sehat. 

Shafa sendiri terkejut dengan temuannya. "Bahkan di keluarga saya sendiri, ibu saya melarang bahan tambahan tertentu, seperti aspartam, tetapi tidak menyadari seberapa banyak gula yang terkandung dalam minuman kemasan. Pendidikan tidak menjangkau semua orang secara merata." 

Dari Riset ke Advokasi 

Dengan dukungan dari UNICEF Kantor Regional Asia Timur dan Pasifik dan Kantor UNICEF Indonesia, para peneliti muda ini mengubah temuan mereka menjadi advokasi. Setiap minggu, mentor UNICEF memberikan bimbingan untuk mengatasi tantangan, meningkatkan semangat mereka, dan merayakan pencapaian. Lalu tibalah saat yang dinanti. 

Shafa is berbicara di atas panggung dilihat dari sudut pemirsa
UNICEF Indonesia Shafa percaya diri berbicara di depan pemirsa

Pada tanggal 10 Juli 2025, Shafa berdiri di hadapan perwakilan dari Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, mewakili suara ratusan anak muda Indonesia. Ia mempresentasikan temuan tim: 

  1. 43% anak muda mengaku memilih makanan karena tampilan atau aromanya.
  2. 27% memilih opsi yang murah dan mengenyangkan.
  3. 13% makan apa pun yang ada di sekitar.
  4. 11% mengaku makan berlebihan karena promo porsi.
  5. Hanya 8% yang menyebutkan makanan tradisional, menghubungkannya dengan budaya, keluarga, dan rasa memiliki. 

"Ini adalah kesempatan yang hilang," kata Shafa kepada para pemangku kebijakan. "Makanan tradisional bisa menjadi solusi untuk menggantikan makanan yang tidak sehat, asalkan dibuat lebih terlihat, terjangkau, dan menarik. Dengan begitu, makanan tradisional bisa mendorong pola makan yang lebih sehat jika dibuat lebih terlihat, terjangkau dan menarik. Dengan cara ini, makanan tradisional dapat mempromosikan pola makan yang lebih sehat."  

Pesan advokasinya jelas: atur pemasaran makanan yang tidak sehat, terutama iklan digital; buat pilihan yang lebih sehat terlihat di area ramai seperti zona kasir; perkuat literasi gizi dan media; serta wajibkan peringatan kesehatan pada iklan makanan yang menargetkan anak dan remaja.  

Bagi Shafa, momen itu terasa hampir seperti mimpi, "Saya tidak percaya. Kami ada di meja kebijakan. Dengan UNICEF di sisi kami, suara kami didengar," katanya.

Perempuan berbicara di atas panggung
UNICEF Indonesia Dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berbicara dalam diskusi panel bersama yang lainnya, termasuk dari UNICEF Indonesia.

Ucapan Shafa tidak hanya didengar, melainkan benar-benar menggema dan meninggalkan jejak. Dalam tanggapannya, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggemakan seruannya, menekankan urgensi melindungi anak dan remaja dari pemasaran makanan yang tidak sehat, seperti promo "beli satu, gratis satu".  

Ia mengakui bahwa anak-anak sangat rentan terhadap strategi pemasaran persuasif dan menekankan perlunya pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk bekerja sama untuk menjadikan makanan yang lebih sehat menjadi pilihan yang lebih mudah. 

Shafa tidak akan pernah melupakan kebanggaan di mata orang tuanya atau pesan singkat dari teman-temannya yang mengatakan: "Kamu membuat kami bangga." 

Langkah ke Depan 

Bagi Shafa, ini baru permulaan. Momentumnya terus terbangun. Dengan keterlibatan anak muda yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, dan kemitraan dengan pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta, ia yakin bahwa menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat itu mungkin.  

"Hati saya hancur melihat sesuatu yang begitu mendasar, yaitu apa yang kita makan, bisa menentukan apakah seorang anak tumbuh sehat atau sakit," katanya. "Itu sebabnya saya terus maju."  

Visinya sederhana namun kuat – generasi anak Indonesia yang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan tubuh mereka, didukung oleh sistem pangan yang membuat pilihan sehat terlihat, terjangkau, dan diinginkan.  

Dengan membekali para pemimpin muda dengan alat, pengetahuan, dan ruang untuk bertindak, UNICEF membantu memastikan bahwa kesehatan bukan lagi hak istimewa, tetapi hak yang dapat diakses setiap anak.  

Pelajari lebih lanjut tentang  gerakan Fix My Food dan bagaimana Anda dapat mendukung sistem pangan yang lebih sehat untuk anak di: https://www.unicef.org/eap/fix-my-food.