Pahlawan Kesehatan Sumatera Utara Pelajari Keterampilan Manajemen Vaksin
Pelatihan manajemen vaksin memperkuat kapasitas petugas kesehatan untuk memastikan kualitas dan pemeliharaan vaksin yang optimal.
- English
- Bahasa Indonesia
Ratna Dewi Sinaga, 52 tahun, pengelola program imunisasi di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, telah mengabdikan hidupnya untuk anak-anak di kampung halamannya selama 17 tahun terakhir.
Ketika Ratna mengawali perannya di tahun 2006, ia menghadapi tantangan langsung saat pelaksanaan pekan imunisasi nasional pertama di Indonesia. Ditugaskan untuk mengimunisasi ribuan anak, ia merasa gentar namun tidak putus asa – didorong oleh rasa kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anak di desanya.
“Saya sangat sayang anak-anak, jadi saya tidak merasa terganggu sama sekali. Kalau soal imunisasi, saya siap dikirim ke mana saja,”
Meskipun memiliki komitmen yang kuat dalam mengadvokasi dan melaksanakan imunisasi bagi masyarakat Sumatera Utara, Ratna dan rekan-rekan petugas kesehatan lainnya tidak mendapat informasi memadai mengenai standar manajemen rantai dingin, terutama untuk menjaga kualitas vaksin.
Di akhir November 2023, Ratna termasuk di antara 100 peserta, termasuk tenaga kesehatan dan petugas pengelola gudang vaksin di Sumatera Utara, yang mengikuti pelatihan pengelolaan vaksin yang didukung UNICEF dan dilaksanakan bersama dengan Kementerian Kesehatan.
“Saya belajar tentang peralatan rantai dingin vaksin dan pentingnya menjaga kualitas vaksin, mulai dari produksi dan distribusi hingga tiba di titik layanan imunisasi untuk kemudian diberikan kepada anak-anak,” kata Ratna.
Ia juga belajar tentang pentingnya memiliki Prosedur Operasi Standar (SOP) untuk pengelolaan vaksin, termasuk memiliki rencana darurat – yang sangat penting bagi Indonesia, mengingat lokasinya di “cincin api” yang rawan bencana.
Reza Farhan, yang telah menjabat sebagai petugas pengelola gudang vaksin selama 12 tahun di dinas kesehatan provinsi, berharap pelatihan ini dapat membantu meningkatkan koordinasi antara dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam melaksanakan program imunisasi.
“Petugas imunisasi di daerah seringkali meminta vaksin dalam waktu mendesak, sedangkan proses birokrasinya bisa memakan waktu. Oleh karena itu, kita kewalahan, dan ini bisa menimbulkan risiko kesalahan yang besar. Saya berharap pelatihan ini dapat memotivasi kita untuk merencanakan distribusi vaksin dengan baik,” kata Reza.
Ratna pun semakin termotivasi untuk mengatasi kendala yang ada di depan. “Semakin banyak penyakit yang muncul, semakin kita memerlukan banyak vaksin baru. Hal ini tidak hanya membutuhkan pemahaman yang lebih baik dari masyarakat, tetapi juga menambah lebih banyak tantangan dalam menjaga kualitas vaksin. Ini menunjukkan betapa pentingnya pelatihan ini bagi kami,” katanya.
UNICEF Indonesia berterima kasih atas dukungan yang diterima dari individu dan donor lain termasuk Pemerintah Australia.