Meningkatnya epidemi HIV di antara pria muda yang berhubungan seks dengan pria (LSL) di Indonesia

Survei Terpadu Biologis dan Perilaku pada kelompok remaja pengguna jarum suntik, perempuan pekerja seks, laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, dan transgender

Dewi lives and works in a Timika brothel
UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sorotan

Saat ini, epidemi HIV di Indonesia terkonsentrasi di antara kelompok populasi kunci. Selain dua provinsi di Indonesia bagian timur dengan  prevalensi 2.4% (termasuk dalam kategori generalized epidemic), prevalensi HIV pada orang dewasa telah stabil di sekitar 0,4%, dan infeksi baru telah menurun sepertiganya dalam dekade terakhir. Di antara populasi kunci, dimana penularan di antara perempuan pekerja seks dan pengguna jarum suntik cenderung stabil atau menurun, prevalensi HIV di antara LSL meningkat setidaknya tiga kali lipat dalam dekade terakhir - dari 5,3% pada 2007 menjadi 17,9% pada 2019.

Sementara negara-negara di Asia dan Pasifik telah mengalami penurunan infeksi HIV selama satu dekade terakhir. Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) menyumbang hampir sepertiga dari infeksi baru di wilayah tersebut, dengan beberapa negara menghadapi prevalensi yang tinggi dan tren yang meningkat.

Di Indonesia, meskipun survei nasional sebelumnya menunjukkan peningkatan prevalensi di antara LSL antara tahun 2011 dan 2019 - penilaian ini menggunakan metode convenience sampling dan penilaian terbaru tidak memisahkan kelompok tersebut berdasarkan usia (kelompok usia muda dan kelompok usia dewasa).

Untuk mengatasi kesenjangan informasi tersebut, UNICEF bekerjasama dengan UNPAD dan Kementerian Kesehatan, telah melakukan studi menggunakan metode Respondent Driven Sampling untuk pertama kalinya terhadap kelompok LSL remaja di salah satu perkotaan di Indonesia. Prevalensi HIV yang ditemukan adalah 30% atau 6 kali lipat lebih tinggi dari prevalensi rata-rata di regional dan termasuk yang tertinggi yang dilaporkan di dunia. Terlebih dengan adanya latarbelakang prevalensi HIV pada orang dewasa yang hanya 0,4%.

Dengan sedikitnya faktor risiko individu yang telah teridentifikasi, aspek-aspek lingkungan / struktural termasuk stigma, diskriminasi dan eksklusivitas, kemungkinan besar telah mendorong perilaku berisiko tersebut menjadi lebih terselubung (tersembunyi) dan mempersulit penyediaan layanan HIV dan LSM untuk menjangkau populasi ini. Di Indonesia saat ini, tingkat toleransi dan keterbukaan dalam diskusi publik tentang masalah LGBT masih rendah; tindakan keras apparat terhadap pria gay masih sering ditemukan; adanya peraturan/hukum yang berkaitan dengan gay; dan hanya sedikit gay yang mengungkapkan identitas seksual mereka kepada keluarga mereka.

Dengan menurunnya prevalensi HIV di antara kelompok populasi kunci lainnya, tampak bahwa kondisi pada kelompok LSL muda menjadi  pendorong meningkatnya epidemi HIV di Indonesia. Dalam studi ini, kami menganalisa berbagai intervensi kesehatan, sosial dan hukum yang menjadi prioritas yang memerlukan tindakan segera.

 


Dokumen hanya tersedia dalam Bahasa Inggris

Penulis
UNICEF, UNPAD, dan Kementerian Kesehatan
Tanggal penerbitan
Bahasa
Inggris

Unduh laporan

(PDF, 1,14 MB) (PDF, 543,71 KB)