Menjalani Hari-hari Bermakna sebagai Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA)

Melihat Ibu Ratna, tidak akan ada yang menduga bahwa dia baru melahirkan kurang dari enam bulan lalu, atau dia mengidap HIV.

Adinda Silitonga dan Rustini Floranita
Ibu Ratna menyapa murid-murid
UNICEF/2019/Fauzan
28 November 2019

“Selamat pagi anak-anak!” Ratna menyapa murid-muridnya dari depan kelas.

Guru berusia 36 tahun tersebut terlihat ceria dan bersemangat di pagi hari yang cerah di suatu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Sorong, Papua. Melihat Ibu Ratna, tidak akan ada yang menduga bahwa dia baru melahirkan kurang dari enam bulan lalu, atau dia mengidap HIV.

Ibu Ratna teaching
UNICEF/2019/Fauzan
Ibu Ratna mengajar di kelas

“Saya tahu tentang status saya tahun 2009. Itu setelah suami pertama saya sakit. Dokter kemudian sarankan saya dites juga,” jelas Ratna.

Sekitar dua bulan kemudian, suami pertamanya meninggal dunia. “Waktu saya tahu status saya, tidak kaget sih, karena setelah tahu status suami waktu itu, saya sudah merasa ya pasti saya juga kena,” tambahnya.

Kasus Ratna bukanlah sesuatu yang unik di Papua Barat, bahkan di Indonesia. Menurut Data Kementerian Kesehatan di 2016, hanya 58,7 % Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang tahu tentang status mereka. Data 2018 menunjukkan estimasi jumlah ODHA di Indonesia adalah 640,443, dan hanya 17% yang meminum ARV (antiretroviral). Angka ini sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi ibu hamil. Tanpa pengobatan, perempuan dengan HIV memiliki 23-25 % resiko menularkan virus ke bayi dalam kandungannya. Di Indonesia, ARV membantu mengurangi resiko tersebut hingga kurang dari 7%.

“Di Papua Barat, program PPIA dimulai di tahun 2009. Dukungan UNICEF juga dimulai di tahun yang sama. Tahun 2018, kami memulai program baru, tetap dengan dukungan UNICEF, EID (Early Infant HIV Diagnosis) untuk bayi dari Ibu yang positif HIV. Program ini dijalankan di tiga lokasi pilot, salah satunya kota Sorong,” ujar Rita Apalem, Koordinator Kesehatan Ibu dan Anak di Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. “Tahun 2019, kami menemukan 11 ibu hamil yang positif HIV saat mereka melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan di Kota Sorong. Ibu-ibu ini kemudian diberikan terapi ARV. Semua ibu tersebut, sebelas orang, melahirkan bayi yang sehat, tidak positif. Kami melaksanakan tes EID, dan semuanya hasilnya negatif,” tambah Rita dengan bangga. Ini memang suatu kebanggaan, mengingat kerja keras yang mereka curahkan.

Diagnosis awal HIV sangatlah penting untuk inisiasi pengobatan, perawatan, dukungan dan pencegahan transmisi HIV dari ibu ke anak. UNICEF mendukung Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dalam memastikan tidak ada bayi yang terlahir dengan HIV. Eliminasi infeksi HIV baru pada anak-anak dapat dicapai melalui program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).

 

Ratna merupakan satu dari 11 Ibu hamil positif HIV, namun ini bukanlah kehamilannya yang pertama. Ratna menikah pertama kali di tahun 2006, saat ia berusia 22 dan masih menjadi mahasiswi di Sorong. Tahun berikutnya ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat itu, Ratna belum tahu statusnya, dan tes HIV untuk ibu hamil belum merupakan suatu keharusan. Bayinya meninggal saat usia 4 bulan, dan tidak pernah dites HIV. Sepengetahuan Ratna, bayinya meninggal karena diare.

Tahun 2008, ia hamil lagi, kali ini dengan bayi perempuan. Ratna melahirkan bayi yang sehat, namun saat bayinya berusia 8 bulan, suami Ratna meninggal dunia. Saat itu Ratna sudah mulai minum ARV. Tak lama setelah ia mulai ARV, Ratna menderita Stevens-Johnson Syndrome atau SJS. SJS merupakan kelainan kulit yang langka namun sangat serius, seringkali karena reaksi terhadap obat-obatan. SJS mengakibatkan kulit melepuh dan mengelupas. Seluruh kulit badan dan wajah Ratna melepuh dan terkelupas, ia pun harus menginap di rumah sakit selama dua bulan.

Ibu Ratna and colleague
UNICEF/2019/Fauzan
Hampir semua kolega Ibu Ratna tahu tentang statusnya

Namun, Ratna tidak pernah hilang harapan. Dia bergabung dengan Sorong Sehati, organisasi yang mendukung ODHA di Papua Barat. Ratna juga aktif dalam kelompok dukungan sebaya untuk ODHA, dan di 2017 dia bergabung dengan IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia) di Sorong. IPPI ialah suatu jaringan nasional yang didirikan di 2016 di Jakarta, oleh dan untuk perempuan yang hidup dengan HIV atau terdampak oleh HIV. Melalui IPPI Ratna bertemu dengan perempuan ODHA lainnya, menjalin pertemanan, dan saling membantu dalam mengingatkan dan menyemangati untuk selalu minum ARV.

Memulai minum ARV tidak selalu mudah. ARV harus diminum setiap hari untuk selamanya. Sekarang ini, kebanyakan ARV diminum satu kali sehari, di waktu yang sama, setiap hari. Di Papua Barat, ARV bisa didapatkan di rumah sakit atau di beberapa Puskesmas tertentu. Jumlah yang diberikan tergantung pada kepatuhan pasien. Bila pasien memiliki tingkat kepatuhan tinggi, ia bisa datang ke rumah sakit atau Puskesmas dan mendapatkan persediaan ARV untuk 3 bulan, setelah menjalani pemeriksaan rutin. Jumlah ini berbeda-beda bagi tiap pasien, namun seluruhnya ditanggung oleh pemerintah. Obat ARV diberikan secara gratis di Indonesia.

Ibu Ratna and peer support
UNICEF/2019/Fauzan
Ratna dan anaknya dan temannya, rekan sesama pendukung pengidap HIV

Ratna juga menemukan cinta kembali. Di tahun 2018, setelah berpacaran selama 4 tahun, ia menikah lagi. Ratna mengungkapkan statusnya sejak awal berpacaran. “Saya memang tidak mau menyembunyikan apa-apa dari orang-orang. Saya jujur saja tentang status saya ke siapapun. Semua tahu, tetangga, guru-guru di sekolah, semua orang,” ujar Ratna. “Awalnya sih dia diam saja. Tapi terus dia minta waktu untuk cari tahu tentang apa itu HIV. Jadi dia coba pelajari, cari di internet, dia baca-baca. Setelah itu, dia bilang dia tetap mau sama saya,” jelas Ratna sambil tersenyum lebar.

Suami Ratna kadang bertanya tentang kesibukannya di IPPI dan kelompok dukungan sebaya, ia khawatir Ratna terlalu sibuk. Namun saat Ratna melahirkan, suaminya sedang di luar kota, dan teman-temannya lah yang datang mendampinginya. “Saya bilang ke dia, bagus saya punya banyak teman-teman, mereka bisa bantu saat saya perlu,” ujar Ratna. “Dia sekarang mengerti, dan dia juga bersyukur ada teman-teman yang menemani waktu saya melahirkan.”

Sosok Ratna membuktikan bahwa ODHA tetap bisa menjalani hidup yang normal dan bermakna. Walaupun ia masih harus menghadapi stigma, namun Ratna merasa ia menikmati kehidupan yang ia jalani. Dia masih mengajar di sekolah, bergaul dengan rekan-rekan kerjanya, menghabiskan waktu dengan teman-temannya, merawat dan membesarkan dua anaknya, mendampingi suami, dan mendukung ODHA lain di sekitarnya.

Saat ditanya tentang harapan dan keinginannya untuk ODHA lainnya, ia mengatakan, “Harapan saya semoga tidak ada lagi penularan baru. Dan tidak ada diskriminasi terhadap ODHA di manapun.”

Ibu Ratna and baby
UNICEF/2019/Fauzan
Anaknya sudah mengikuti tes EID dan hasilnya negatif

*Nama disamarkan untuk menghargai hak anak dan melindungi privasi mereka