Mengembalikan Harapan dan Kehidupan Anak-Anak Melalui Pekerjaan Sosial di Klaten
Pekerja sosial melindungi dan melayani anak-anak dan keluarga mereka
- English
- Bahasa Indonesia
Menjelang akhir dari hari yang melelahkan di Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Ovi duduk di tangga rumahnya, dengan ekspresi tenang di wajahnya. “Mengetahui bahwa saya bisa membantu orang mendapatkan apa yang mereka butuhkan membuat saya bahagia. Melakukan kebaikan untuk orang lain merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi saya secara spiritual,” ungkapnya. Selama 14 tahun, Ovi telah menjadi pekerja sosial yang berdedikasi dalam mendukung anak-anak dan keluarga mereka yang berjuang menghadapi berbagai tantangan. Bagi Ovi, ini lebih dari sekadar karir – ini adalah tujuan hidupnya.
Pekerja sosial seperti Ovi memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup. Mereka menghubungkan orang-orang dengan layanan penting, bekerja sama dengan lembaga pemerintah, dan memberikan dukungan emosional dan hukum yang sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang rentan. Pekerjaan mereka membutuhkan belas kasih, kegigihan, dan keterampilan—kualitas yang dimiliki Ovi, menurut rekannya, Auli. “Ia sangat berempati, membuatnya mudah diterima bahkan oleh orang-orang yang paling pendiam,” kata Auli.
Pekerjaan Ovi telah membawanya melalui banyak situasi, mulai dari mendapatkan akta kelahiran untuk anak-anak hingga membimbing orang tua asuh yang penuh harapan. Beberapa keadaan sangat sulit untuk dihadapi, termasuk upayanya untuk mendukung para penyintas kekerasan seksual – di mana dampaknya sangat terasa di berbagai kelompok masyarakat.
Bagi Hani (nama samaran), dukungan Ovi telah mengubah hidupnya. Putrinya yang berusia delapan tahun, Kusuma (nama samaran), adalah korban pelecehan seksual oleh tetangganya. “Sebelum dia [Ovi] datang, yang bisa saya lakukan hanyalah menangis dan berdoa,” kenang Hani, suaranya penuh rasa sakit.
Beberapa bulan lalu, Kusuma tengah asyik bermain dengan teman-temannya di dekat rumahnya, ketika seorang pria yang dikenalnya membujuknya untuk ikut pergi dengannya. Ia diperkosa, ditinggal sendirian dan tak sadarkan diri. Kepolosannya dirampas. Keadilan tampak tak terjangkau—sampai Ovi turun tangan. Ia memberikan bantuan hukum kepada keluarga tersebut, membantu mereka menangani kasus tersebut hingga pelakunya dipenjara. Ovi juga memastikan bahwa Kusuma menerima perawatan medis dan dukungan psikologis berkelanjutan. “Ovi membantu saya di titik terendah. Saya tidak akan pernah melupakan itu,” kata Hani.
Menurut data nasional terbaru, sekitar 11,5 juta (51 persen) anak usia 13-17 tahun di Indonesia pernah mengalami satu atau lebih bentuk kekerasan dalam hidup mereka. Namun, pelaporan kasus masih rendah dan banyak korban tidak mengakses layanan perlindungan terpadu. Hal ini sering kali disebabkan oleh korban yang takut atau menyalahkan diri sendiri, terbatasnya kesadaran akan mekanisme pelaporan, stigma yang terkait dengan kunjungan ke pusat layanan, dan norma budaya yang melanggengkan tabir kesunyian, khususnya terkait kekerasan seksual.
Di Jawa Tengah, data pemerintah provinsi tentang kekerasan terhadap anak menunjukkan bahwa kasus yang dilaporkan meningkat dari 2.110 pada tahun 2020 menjadi 2.420 pada tahun 2024, dengan hampir setengah dari semua korban mengalami kekerasan seksual. Trauma tersebut meninggalkan bekas luka yang dalam—baik fisik maupun emosional. Tanpa intervensi segera, dampaknya dapat berlangsung seumur hidup. Pekerja sosial sering kali menjadi penanggap pertama, menawarkan jalan bagi para penyintas untuk pulih.
“Pekerja sosial seperti Ovi sangat penting dalam membantu para korban membangun kembali kehidupan mereka,” kata Enggar, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DinssosP3APPKB) Klaten. “Mereka memberdayakan para penyintas untuk maju, lebih kuat dari sebelumnya.”
Namun, terlepas dari peran penting mereka, pekerja sosial menghadapi tantangan yang sangat besar. “Jumlah profesional terlalu sedikit dibandingkan dengan kebutuhan yang terus meningkat,” jelas Ovi. “Kami melakukan semua yang kami bisa, tetapi permintaan membuat kami kewalahan.” Koordinasi tetap menjadi strategi utama, tetapi kendala logistik dan keterbatasan sumber daya membuat pekerjaan mereka semakin sulit.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, UNICEF mendukung pemerintah dengan melatih pekerja sosial dalam manajemen kasus, deteksi dini kekerasan, perlindungan anak, dan keterampilan interpersonal. Upaya ini melengkapi program pemerintah, seperti Unit Layanan Terpadu, yang memberikan dukungan bagi keluarga yang terdampak.
Di Jawa Tengah, 19 kabupaten termasuk Klaten telah didukung untuk memperkuat layanan. Ovi berpartisipasi dalam pelatihan yang didukung UNICEF tentang manajemen kasus, kesehatan mental, dukungan psikososial, dan perawatan diri.
Ovi terus menjadi pilar kekuatan bagi komunitasnya. Berkat dedikasinya, Kusuma perlahan-lahan menemukan kembali masa kecilnya. Tawanya telah kembali, semangatnya mulai pulih. Bagi Hani, dukungan Ovi menjadi pengingat yang kuat: “Hidup ini penuh dengan cobaan, tetapi jangan pernah putus asa. Pertolongan akan datang.”
Selagi Ovi terus membantu orang lain yang membutuhkan, ia tetap rendah hati tentang perannya. “Saya hanya seorang fasilitator,” katanya. “Perubahan sejati datang dari para penyintas itu sendiri. Dengan ketahanan dan kepercayaan diri, mereka dapat mengambil langkah pertama untuk menemukan kembali hidup mereka.”