Martabat untuk Anak Penyandang Disabilitas: Menyediakan Toilet Aman di Rumah

Inisiatif sanitasi aman ciptakan akses mudah di Flores Timur, NTT

UNICEF Indonesia
Febriari Uba Sisa, 14, a person with disability, sits in her house in Larantuka Island, East Nusa Tenggara.
UNICEF/2024/Chair
26 Agustus 2024

Febi, remaja berusia 14 tahun dan penyandang disabilitas ganda, setiap pagi harus membuka hari dengan tantangan yang tak mudah. Untuk pergi ke toilet di belakang rumahnya di Desa Lamahoda, Pulau Adonara, Flores Timur, Febi harus melalui jalur berpasir, berbatu, dan bergelombang, sehingga ia menghadapi risiko cedera. Saat ini, orangtuanya yang sudah menua membantu Febi secara bergantian. Akan tetapi, mereka cemas, suatu hari Febi akan harus melalui perjalanan itu sendirian.

Chafanno Tupehoda, 8, plays marbles in his house in Lewopulo Village in Larantuka Island, East Nusa Tenggara.
UNICEF/2024/Chair

Chafanno, berusia 8 tahun di desa tetangga, Desa Lewopulo, mengalami tantangan serupa. Tak ada fasilitas toilet di rumah Chafanno yang terlahir dengan disabilitas fisik. “Kami harus menumpang di rumah tetangga atau saudara, jaraknya lima puluh meter dari rumah kami sendiri,” ujar Sukri, ayahnya. Perjalanan yang tidak nyaman ini harus ditempuh Chafanno dalam gelap, pagi hari sebelum matahari terbit.

Situasi di atas lazim ditemukan di desa-desa di Pulau Adonara, di mana anak dan remaja dengan disabilitas menghadapi kesulitan akibat ketiadaan sarana toilet. Di pulau tersebut, angka penyandang disabilitas diperkirakan 1 dari 500 penduduk, namun toilet yang mudah diakses dan ramah penyandang disabilitas masih langka serta biasanya tidak memiliki air bersih.

Kurangnya fasilitas sanitasi dasar yang layak menyulitkan anak dengan disabilitas untuk menjaga kebersihan dengan baik. Mereka pun menjadi rentan terhadap penyakit menular, termasuk diare, yang dapat berujung pada malnutrisi kronis dan dapat menghambat pertumbuhan khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan yang merupakan fase penting dalam kehidupan seorang anak.

Agustinus Sendoren Piran or Agus, 45, a visually impaired person who is also a facilitator for STBM-GEDSI in East Flores, during an orientation event with villagers in Desa Mokantarak, East Nusa Tenggara.
UNICEF/2024/Chair

Akan tetapi, dalam setahun terakhir, perbaikan signifikan terjadi Flores Timur. Pemerintah setempat, melalui kolaborasi dengan UNICEF, mulai menyertakan pertimbangan aspek Gender, Kesetaraan, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), suatu kebijakan nasional yang bertujuan memperbaiki praktik kebersihan dan sanitasi masyarakat.

STBM memiliki lima pilar yang penting bagi kesehatan keluarga: menghapuskan BAB terbuka, membiasakan cuci tangan dengan sabun, memastikan air minum dan penyiapan makanan dengan aman, dan pengelolaan limbah rumah tangga dengan layak, baik untuk limbah padat maupun cair.

Aspek GEDSI membuat STBM kian komprehensif dengan mengatasi tantangan yang dihadapi kelompok rentan dalam hal mengakses sarana sanitasi. Misalnya, kamar mandi atau toilet kini dilengkapi pegangan tangan agar lebih mudah diakses penyandang disabilitas. Kebutuhan para penyandang disabilitas pun disepakati melalui diskusi yang partisipatif.

Melalui kemitraan di atas, diadakan kegiatan edukasi yang menyentuh 570 kelompok masyarakat di tiga kota/kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan lima kota/kabupaten di Papua. Topik pertemuan meliputi pentingnya toilet yang dapat diakses dan aman untuk semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas, perempuan, dan anak perempuan. Tenaga kesehatan setempat, tenaga sanitarian, organisasi penyandang disabilitas, dan pemangku kepentingan lain dilibatkan agar inisiatif ini lebih kuat dan berkelanjutan.

Berkat upaya tersebut, 25 kelompok masyarakat di NTT meraih capaian signifikan, yakni status bebas BAB terbuka. Sejak tahun 2023, manfaat dari inisiatif ini telah dirasakan oleh 63.000 penduduk di 50 desa di Flores Timur, termasuk Febi dan Chafanno. Sekarang, rumah mereka telah memiliki sarana toilet yang ramah penyandang disabilitas, lengkap dengan pegangan tangan dan ukuran pintu yang lebih lebar.

"I'm happy to finally have my own toilet. There is no need to be afraid anymore and I feel more enthusiastic every day," says Chafanno.
UNICEF/2024/Chair

"Saya senang, akhirnya punya toilet sendiri. Sekarang, saya tidak takut lagi, dan lebih bersemangat setiap hari,” kata Chafanno.

Febriari Uba Sisa, 14, a person with disability, washes her hand near the bathroom in her house in Larantuka Island, East Nusa Tenggara.
UNICEF/2024/Chair

Yuliana, ibu Febi, merasa hatinya lebih ringan saat memikirkan masa depan putrinya. “Saya tenang, karena kalau nanti saya sudah tidak ada, saya tahu Febi bisa pergi ke toilet sendiri,” katanya. “Saya yakin, Febi akan tunjukkan bahwa dia mampu melakukan hal-hal yang luar biasa dengan usahanya sendiri.”