Evaluasi program Roots Indonesia

Uji coba pencegahan kekerasan sebaya dan perundungan di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah

Students at SMP 2 in Klaten
UNICEF/2017/Cory Rogers

Sorotan

Data nasional mengenai perundungan di sekolah dari Global School Health Survey (GSHS) pada tahun 2015 menyatakan bahwa lebih dari 21% anak-anak usia 13-15 tahun atau sama dengan 18 juta anak melaporkan mengalami perundungan dalam satu bulan terakhir. Perundungan dunia maya (cyberbullying) semakin meningkat sebagai masalah yang dihadapi anak baik di rumah ataupun sekolah.

Untuk mengatasi hal ini, serangkaian lokakarya diadakan bersama pemerintah, universitas, orang muda, dan organisasi berbasis masyarakat untuk mendesain model intervensi dalam mencegah perundungan di Sekolah Menengah Pertama di Indonesia. Model intervensi anti perundungan yang berbasis bukti dan didorong oleh remaja ini dikembangkan dan dijalankan di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah, baik di area pedesaan maupun perkotaan. Intervensi di Indonesia diadaptasi dari program di Amerika Utara yang disebut Roots, berfokus pada membangun iklim positif sekolah melalui kegiatan yang dipimpin oleh siswa. Program ini diimplementasikan atas kolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, serta dukungan dari Komite Nasional Swiss untuk UNICEF dan mitra lokal. 

Dokumen ini menyajikan desain model, temuan utama, pembelajaran & rekomendasi dari Roots Indonesia selama Oktober 2016 –  Mei 2018. 

Penulis
UNICEF
Tanggal penerbitan
Bahasa
Inggris, Indonesia

Unduh laporan

(PDF, 3,22 MB)