Ayo, Tangani Wasting agar Tidak Stunting

Wasting (gizi kurang dan gizi buruk) dapat dicegah, namun bila pencegahan gagal, terutama anak mengalami gizi buruk, maka perlu mendapatkan perawatan tepat.

UNICEF Indonesia
Tangani wasting agar tidak stunting
UNICEF/2024
23 Februari 2024

Wasting (gizi kurang dan gizi buruk) dapat berdampak serius pada keberlangsungan hidup, pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, serta berpengaruh pada kesehatan dan potensi mereka saat dewasa. Wasting dapat dicegah, namun bila pencegahan gagal dan anak mengalami wasting, terutama gizi buruk, maka perlu mendapatkan perawatan yang tepat hingga mencapai gizi baik, agar anak terhindar dari dampak-dampak buruk tersebut di atas.

Deteksi dini secara mandiri

Kunci keberhasilan pencegahan dan penanganan anak wasting di antaranya adalah keterlibatan aktif masyarakat, termasuk orang tua, pengasuh dan keluarga dalam melakukan deteksi dini wasting secara mandiri di rumah dan rutin ke posyandu setiap bulan, membawa balita yang berisiko wasting ke fasilitas layanan kesehatan, dan memastikan anak wasting mendapatkan perawatan sesuai anjuran tenaga kesehatan hingga mencapai gizi baik.

3 tanda anak berisiko wasting

Bila ditemukan anak balita yang berisiko wasting, seperti 1) tampak kurus, 2) hasil pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) berwarna merah (<11,5 cm) atau kuning (11,5 cm – 12,4 cm), 3) ada bengkak pada kedua punggung kaki maka perlu segera dibawa ke fasilitas layanan kesehatan.

Selain itu, bila dari hasil pemantauan pertumbuhan rutin di posyandu, ditemukan kondisi-kondisi seperti berat badan turun, berat badan tidak naik, atau kenaikan berat badan yang tidak cukup, maka anak balita juga perlu dibawa ke fasilitas layanan kesehatan, seperti puskesmas. 

Saat di fasilitas layanan kesehatan, tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan status gizi dan kesehatan anak secara menyeluruh dengan melakukan pemeriksaan, seperti penimbangan berat, pengukuran tinggi badan, pengukuran LiLA, dan pemeriksaan bengkak kedua punggung kaki, serta pemeriksaan kesehatan lainnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, tenaga kesehatan akan menentukan apakah anak mengalami gizi kurang atau gizi buruk, dan apakah anak dapat dirawat di rumah atau perlu dirawat inap. Bila anak wasting dapat ditemukan secara dini maka 85% anak gizi buruk dapat dirawat di rumah dengan melakukan kunjungan rutin ke puskesmas, dan kurang dari 15% yang membutuhkan rawat inap.

Namun, bila kondisi anak gizi buruk sudah disertai dengan masalah kesehatan serius, di mana risiko kematian lebih tinggi, maka anak perlu dirawat inap agar kondisi kesehatan tersebut dapat ditangani segera.

Anak gizi buruk mendapatkan Formula 75 dan Formula 100

Selanjutnya, bila kondisi anak sudah stabil, maka anak balita gizi buruk dapat dipindah rawat jalan ke puskesmas hingga mencapai gizi baik.

Anak gizi buruk mendapatkan RUTF

Dan, tenaga kesehatan akan memberikan terapi gizi khusus bagi balita gizi buruk, baik yang dirawat inap dan dirawat jalan sesuai dengan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Anak gizi buruk perlu mendapatkan terapi khusus, seperti ready-to-use therapeutic food (RUTF) untuk perawatan di rumah dan Formula 75 (F-75) dan Formula 100 (F-100)  saat dirawat inap, karena kondisi tubuh mereka yang rentan dan kebutuhan zat gizi yang berbeda dengan anak gizi baik.

Apa yang perlu dilakukan orang tua dan keluarga agar anak wasting dapat mencapai gizi baik dan tidak jatuh ke wasting lagi?

Bawa ke fasilitas layanan kesehatan

Perawatan anak wasting, khususnya gizi buruk, tersedia di fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas. Namun, masih banyak anak gizi buruk yang belum mendapatkan perawatan yang tepat sehingga anak-anak ini berisiko mengalami dampak-dampak wasting, termasuk menjadi stunting. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti anak gizi buruk terlambat terdeteksi, orang tua/pengasuh terlambat membawa ke puskesmas, dan perawatan anak gizi buruk terputus sebelum mencapai gizi baik.

Seringkali perawatan anak gizi buruk terlambat karena masih banyak orang tua yang merasa malu bila anak mereka mengalami gizi buruk karena tidak mau dianggap tidak bisa memberi makan anak dengan baik, padahal seperti yang kita ketahui anak menderita gizi buruk bukan semata karena tidak mendapatkan asupan makanan bergizi tetapi juga karena sering mengalami penyakit infeksi berulang, tidak mendapatkan imunisasi lengkap dan lingkungan yang kurang bersih. Selain itu, orang tua tidak merasa anak mempunyai masalah gizi karena anak gizi buruk masih aktif bermain bila tidak sakit, anak gizi buruk tidak tampak sakit berat, atau merasa anak kurus karena faktor keturunan.

Pada kasus anak gizi buruk yang mendapatkan perawatan, sering terputus perawatannya sebelum mencapai gizi baik karena dalam merawat anak gizi buruk perlu waktu, kesabaran, ketekunan dan komitmen baik dari orang tua/keluarga dan tenaga kesehatan. Namun, seringkali orang tua melihat anak sudah bertambah berat badannya, sehingga merasa tidak perlu lagi untuk melanjutkan terapi. Agar anak gizi buruk dapat sembuh mencapai gizi baik, orang tua dan keluarga secara tekun dan sabar perlu memberikan perawatan dan terapi gizi kepada anak balita gizi buruk sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Peran orang tua dan keluarga sangat penting

Peran orang tua dan keluarga sangat penting untuk memastikan anak gizi buruk yang mendapat perawatan hingga sembuh dan mencapai gizi baik. Proses ini tidak instan, namun bukan hal yang tidak mungkin. Sudah banyak cerita sukses dari orang tua yang berhasil merawat anak balita mereka hingga mencapai gizi baik, seperti cerita perjalanan Jackson atau Abrisan.

Orang tua dan keluarga juga berperan penting untuk memastikan anak yang sudah sembuh  dari gizi buruk tidak jatuh lagi ke wasting dengan memastikan anak balita mendapatkan imunisasi lengkap sesuai umur, mendapatkan obat cacing, suplementasi kapsul vitamin A setiap 6 bulan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan segera membawa anak ke puskesmas bila sakit atau tidak nafsu makan, serta tentu saja memastikan anak mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang sesuai umur mereka.

Ayo, cegah dan obati wasting dengan mengambil peran aktif dalam melakukan deteksi dini wasting di rumah, rutin ke posyandu, membawa anak yang berisiko ke puskesmas, dan memastikan anak gizi buruk mendapatkan perawatan hingga mencapai gizi baik, serta tidak jatuh lagi ke gizi buruk.

Ayo, Cegah dan Obati Wasting biar Ga Stunting!