Cinta antara kakak-beradik tercurah di tengah duka

Dalam kondisi tanpa satu atau kedua orang tua akibat COVID-19, anak-anak yang lebih tua menjadi pengasuh bagi adik-adik mereka. UNICEF mendukung keluarga-keluarga ini dengan program untuk kesejahteraan sosial anak.

Laksmi Pamuntjak
Afiqa bermain di rumahnya.
UNICEF/UN0566502/Ose
11 Januari 2022

Seperti anak lain seusianya, Afiqa, 7 tahun, menjadi pemalu dan tertutup di hadapan orang yang tak dikenal. COVID-19 merenggut ibunya beberapa bulan lalu. Semenjak itu, sinar di matanya meredup. Butuh beberapa saat—dan satu set lilin mainan—hingga Afiqa bersedia diajak berinteraksi, memperlihatkan keingintahuan dan keterampilannya membuat macam-macam bentuk dari lilin.

Akan tetapi, hari-hari Afiqa umumnya masih diliputi duka. Setiap kali pulang dari sekolah—yang baru beberapa bulan ini kembali dibuka—ia lebih suka menyendiri, menghabiskan berjam-jam menonton video keluarga yang berisi suara ibunya.

“Kami nggak boleh hapus video berisi saat-saat terakhir ibunya,” kata Eko, ayah Afiqa, yang bekerja sebagai juru parkir di sebuah restoran di dekat rumah mereka sekaligus tempat sang istrinya dahulu bekerja.

Afiqa (kanan) sedang menonton video yang menampakkan ibunya menggunakan ponsel ayahnya.
Afiqa (kanan) sedang menonton video yang menampakkan ibunya menggunakan ponsel ayahnya.
Afiqa (kanan) sedang menonton video yang menampakkan ibunya menggunakan ponsel ayahnya.
Afiqa dan keluarga berziarah ke makam sang ibu—hal ini mereka lakukan hampir setiap hari.
UNICEF/UN0566522/Ose
Afiqa dan keluarga berziarah ke makam sang ibu—hal ini mereka lakukan hampir setiap hari.

Keysha, kakak Afiqa, yang berusia 14 tahun bersikap amat dewasa dan penuh pengertian. Ia tak hanya lancar bercerita tentang situasi menjelang wafatnya ibu mereka, tetapi juga tidak canggung mengambil alih tanggung jawab mengasuh dua adik perempuannya. Keysha yang menyaksikan kondisi kedua orang tuanya yang serba kesulitan selama pandemi meyakini semua orang harus menerima vaksin COVID-19.

“Waktu restoran buka lagi, ibu kerja sampai 12 jam sehari,” katanya. “Daya tahan tubuhnya jadi kurang kuat, mungkin karena itu ibu ketularan COVID.”

Sadar bahwa ayahnya kini menjadi tulang punggung tunggal di keluarga, Keysha berencana mendaftar ke SMK agar dapat segera bekerja dan membantu sang ayah. “Yang penting, saya sudah divaksin,” katanya. “Saya bisa ke mana saja, mungkin suatu hari nanti bisa kuliah juga.”

Keysha sedang mengerjakan tugas sekolah.
UNICEF/UN0566508/Ose
Keysha sedang mengerjakan tugas sekolah.
Keysha dan kedua adiknya, Afiqa dan Khansa, di rumah mereka.
UNICEF/UN0566518/Ose
Keysha dan kedua adiknya, Afiqa dan Khansa, di rumah mereka.

Tanggung jawab yang bertambah juga dirasakan oleh Bagus, 16 tahun. Kedua orang tuanya meninggal selang beberapa pekan dari satu sama lain akibat COVID-19. Sejak itu, Bagus dan adiknya yang berusia 7 tahun, Fadlan, tinggal bersama kakak perempuan mereka, Wiji. Wiji berusia 25 tahun dan telah menikah dengan Ridwan; pasangan ini memiliki dua orang anak perempuan berusia 1 dan 3 tahun.

“Fadlan anaknya kreatif dan tangannya terampil,” kata Bagus sambil menunjuk mainan berbentuk truk dan kendaraan lain yang dibuat adiknya dari benda-benda sekitar. “Tapi, dia juga sensitif. Jarang ngomong, sama saya juga nggak ngomong. Semuanya dia simpan sendiri.”

Fadlan (kiri) bermain dengan Naura, keponakannya yang berusia 3 tahun.
UNICEF/UN0566399/Ose
Fadlan (kiri) bermain dengan Naura, keponakannya yang berusia 3 tahun.

Menurut Januri, pekerja sosial di bawah naungan Kementerian Sosial dan yang sering menjenguk Fadlan, ketakutan terbesar Fadlan adalah berpisah dari rumahnya. “Fadlan dekat sekali sama ibunya, dan kehilangan ayahnya tidak lama setelah ibunya pergi betul-betul mengejutkan buat dia,” katanya. “Sekarang, Fadlan perlu kestabilan, jangan sampai ada ketidakpastian lagi.”

Bulan demi bulan berlalu. Sambil mengatasi dukanya sendiri, Bagus merasa ia pun harus lebih banyak berperan untuk Fadlan. “Kakak saya, kan, punya keluarga yang harus diurus,” katanya. “Kami nggak mau jadi beban.”

Bagus di rumah.
UNICEF/UN0566388/Ose
Bagus di rumah.

Namun, Wiji, yang saat ini berjualan buah-buahan secara daring, tidak pernah menganggap kedua adiknya sebagai beban. “Walaupun jarak usia kami jauh, saya dan adik-adik selalu dekat,” katanya.

Ridwan pun tidak mempermasalahkan kehadiran anggota keluarga baru di rumahnya, meski ia juga tidak segan bercerita perihal kesulitan keuangan yang ia alami dan pendapatannya yang tidak menentu dari usaha reparasi lampu. Terkadang, ia mengajak Bagus sebagai asisten saat harus mengunjungi pelanggan atau mengizinkan Bagus bekerja membantu paman mereka.

“Ada juga sih, hari-hari saya nggak dapat uang sama sekali, dan saya nggak tahu apakah saya sanggup membiayai keluarga ke depannya,” kata Ridwan. “Untungnya banyak bantuan dari pemerintah, pekerja sosial, dan tetangga-tetangga.”

Bagus belajar cara memperbaiki bohlam dari kakak iparnya, Ridwan.
UNICEF/UN0566403/Ose
Bagus belajar cara memperbaiki bohlam dari kakak iparnya, Ridwan.

Fadlan, Bagus, Afiqa, dan Keysha adalah sebagian dari lebih 30.000 anak Indonesia yang kehilangan satu atau kedua orangtua akibat COVID-19 dan yang sejauh ini berhasil didata menggunakan RapidPro, sebuah platform open source. Mereka juga menerima dukungan dari UNICEF melalui program berkelanjutan untuk kesejahteraan dan perlindungan anak seperti Pusat Kesejahteraan Anak Integratif (PKSAI) dan Membangun Linkungan yang Aman dan Ramah Anak atau Safe and Friendly Environment for Children (SAFE4C).

“Beban emosional akibat kehilangan orang tua, terlebih yang dialami anak-anak, sulit dibayangkan—sebagian dari mereka bahkan kehilangan kedua orang tua dalam kurun waktu singkat,” kata Milen Kidane, Kepala Program Perlindungan Anak UNICEF Indonesia. “Berdasarkan pengalaman, kami tahu bahwa anak-anak ini membutuhkan beragam dukungan dan untuk jangka waktu yang kemungkinan cukup panjang.”

Selain membagikan paket bermain dan perlengkapan lainnya untuk anak-anak, serta menghubungkan mereka dengan layanan PKSAI, salah satu prioritas UNICEF saat ini adalah mendukung para pekerja sosial seperti Januari dalam menjalankan tugas mereka. Mengingat situasi menantang yang dihadapi anak-anak yatim piatu, para pekerja sosial akan harus memantau kesehatan mental dan fisik mereka di tempat tinggal yang baru serta kemampuan anggota keluarga dalam memberikan pengasuhan.

“Fadlan suka dan percaya sama Pak Januri,” kata Wiji sambil tersenyum lebar. “Ini penting untuk kami.”

Fadlan dan Bagus beserta keluarga kakak mereka.
UNICEF/UN0566401/Ose
Fadlan dan Bagus beserta keluarga kakak mereka.

Ingin Membantu Lebih Banyak Anak-Anak Yatim Piatu Akibat COVID-19?

Berkat kontribusi dermawan dari para donor individu, UNICEF dapat bekerja dengan mitra dan pekerja sosial yang berdedikasi di seluruh Indonesia untuk mengidentifikasi anak-anak yatim piatu akibat COVID-19, memfasilitasi akses ke layanan kesehatan mental dan psikososial, dan membantu memastikan anak-anak tetap berada dalam perawatan berbasis keluarga.

Namun tantangannya masih jauh dari selesai, dan upaya jangka panjang akan diperlukan untuk melindungi anak-anak ini serta anak-anak yang sudah berada di lembaga. Untuk ini kami membutuhkan dukungan Anda.

Jika Anda ingin membantu anak-anak kita tumbuh dengan lebih banyak cinta dan kasih sayang, mohon pertimbangkan untuk berdonasi ke UNICEF. Kami sangat menghargai kontribusi Anda.

Donasi Sekarang