Tantangan Belajar Dari Rumah di Masa Pandemi COVID-19

Setelah sekolah-sekolah ditutup karena pandemi, Moreyna dan Joaquin berjuang belajar dengan efektif dari rumah.

David Sikirit, Education Officer
Moreyna follows an educational TV programme at home
UNICEF Indonesia/2020/Firdaus Syahril
03 Juni 2020

Pada pukul 7 pagi, Moreyna bangun dengan bersemangat. Sama seperti hari-hari bersekolah sebelum terjadi pandemi COVID-19, ia langsung mandi, sarapan, dan mengenakan seragam. Lalu, ia meminta diantarkan ke sekolah oleh ibunya karena berharap “semuanya sudah normal lagi.”

Tak lama kemudian, ia melihat sekolah masih ditutup. Suasana hatinya pun berubah.

“Aku gak suka gak bisa ketemu teman dan guru,” Moreyna mengeluh.

Saat itulah, sang ibu, Maria Morin, sadar bahwa putrinya perlu dukungan sejauh mungkin. “Saya putuskan, saya akan lebih sering mendampingi dia belajar,” kata Maria. “Cuma itu satu-satunya cara supaya keadaan ini bisa lebih diterima oleh anak saya.”

 

Dampak nyata pandemi terhadap pendidikan

Sejak pandemi COVID-19 dimulai, sekolah Moreyna ditutup atas perintah pemerintah daerah. Moreyna adalah satu dari 62,5 juta murid di Indonesia—dari semua jenjang—yang tidak punya pilihan selain belajar dari rumah.

Peralihan ke proses pembelajaran dari rumah yang belum pernah terjadi sebelumnya berdampak luar biasa terhadap murid, orang tua, dan guru di seluruh negeri. Keadaan ini sekaligus mengungkap jurang pendidikan antardaerah dan latar sosial-ekonomi di Indonesia. Murid dari keluarga termiskin dan murid dengan disabilitas menjadi kelompok yang menanggung dampak terberat.

 

Dukungan UNICEF untuk pemerintah

Dengan adanya pandemi, Pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah yang tepat untuk mendukung anak belajar dari rumah (BDR). Misalnya, penyesuaian aplikasi belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan* (Kemendikbud) dan Kementerian Agama serta pelatihan untuk guru tentang penggunaan platform belajar daring.

Akan tetapi, bagi murid, hambatan terbesar BDR, khususnya bagi mereka yang miskin dan tinggal di tempat terpencil, adalah akses internet dan ketersediaan gawai yang rendah. Menurut UNICEF Education Specialist Nugroho Warman, “Orang tua juga punya tanggung jawab lain terkait kewajiban membiayai keluarga, yang artinya mereka tidak punya banyak waktu untuk mendampingi anak.”

Merespons keadaan ini, Kemendikbud meluncurkan program televisi berjudul Belajar dari Rumah untuk anak-anak yang tidak memiliki akses internet, tetapi memiliki akses ke televisi.** Program untuk murid dari jenjang PAUD hingga SMA ini ditayangkan setiap hari Senin sampai Jumat oleh stasiun televisi nasional, TVRI. Tidak hanya menyasar murid, ada pula program yang ditujukan untuk orang tua.

Untuk mengukur keefektifan program Belajar dari Rumah, UNICEF telah secara teratur mengadakan survei terhadap orang tua, guru, dan anak. Survei dilakukan via SMS agar dapat menjangkau responden di area-area tanpa akses internet.

UNICEF juga membantu Kemendikbud membuat materi pembelajaran daring serta menyusun panduan upaya penanggulangan COVID-19 untuk tingkat provinsi dan kota/kabupaten.

Kezia works on an assignment
UNICEF Indonesia/2020/Daud
Kezia, 10 tahun, mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Kezia belajar dari rumah karena sekolahnya ditutup akibat COVID-19.

Tantangan ke depan

Dalam rangka mengatasi dampak pandemi, pemerintah telah menyepakati beragam kemitraan. Di antaranya adalah kemitraan dengan perusahaan teknologi pendidikan untuk penyediaan akses gratis ke platform belajar daring dan dengan operator telekomunikasi untuk pengadaan kuota internet gratis bagi guru dan murid.

Lepas dari upaya di atas, kesenjangan struktural masih berlaku. Bagi banyak keluarga yang kurang beruntung, kesenjangan itu justru melebar. Masih ada wilayah terpencil yang bahkan tidak memiliki listrik dan, bagi banyak orang tua, membantu anak melakukan pembelajaran daring nyatanya menantang, khususnya orang tua dengan anak pada usia dan tingkat pendidikan tertentu.

Di beberapa desa miskin, anak-anak tidak melakukan pembelajaran sama sekali. Beban ekonomi keluarga akibat pandemi membuat orang tua mereka terpaksa meminta bantuan anak untuk bekerja di ladang dan sawah.

Untuk mengatasi ketimpangan ini, UNICEF berharap dapat melanjutkan kemitraannya dengan pemerintah. UNICEF ingin mengembangkan dan memperluas skala program yang bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan anak di wilayah terpencil. Dengan donasi dan dukungan Anda, program-program itu dapat dilaksanakan dan disebarluaskan dengan lebih cepat, lebih merata.

 Joaquin participates in an online learning activity at home.
UNICEF Indonesia/2020/Sumule
Joaquin, 8 tahun, mengikuti sesi pembelajaran online di rumahnya. "Saya tetap dapat terhubung dengan guru-guru saya ketika belajar di rumah. Jika saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, saya tetap dapat menghubungi mereka untuk meminta bantuan."

Tak ideal, namun berjalan

Bagi anak-anak yang relatif lebih beruntung seperti Moreyna dan Joaquin, 8, situasi tampaknya membaik.

Maria sendiri melihat perubahan positif dalam perilaku putrinya. “Moreyna sekarang malah lebih suka belajar dari rumah karena selalu ada saya,” katanya, dan menambahkan bahwa Moreyna akan memasuki jenjang SD sebentar lagi.

Moreyna pun sekarang jauh lebih aktif di rumah. Selain gemar membuat kue, ia dan adik lelakinya sekarang punya hobi baru, yaitu menari.

Sementara itu, setelah beberapa bulan BDR, Joaquin juga lebih senang dan percaya diri. “Saya masih bisa ngobrol dengan guru saat belajar dari rumah,” katanya. “Kalau ada PR yang susah, saya bisa menghubungi guru dan minta bantuan.”

Ingin membantu anak-anak Indonesia belajar dari rumah di tengah pandemi?

Berkat sumbangan dari para dermawan di Indonesia, UNICEF dapat bekerja sama dengan sekolah, madrasah, guru, dan pejabat pemerintah di sektor pendidikan dan agama di seluruh Indonesia agar anak seperti Moreyna dan Joaquin dapat belajar dengan efektif dari rumah.

Akan tetapi, jika pandemi COVID-19 terus berlanjut, maka pembukaan kembali sekolah dapat terancam. Jika demikian, maka kemampuan orang tua mendampingi anak akan menurun. Tak hanya itu, anak-anak pun secara rata-rata akan kehilangan pembelajaran setara sekitar sepertiga tahun. Kehilangan ini akan berpengaruh terhadap kemampuan mereka mendapatkan penghasilan di masa depan.

Mengingat ketimpangan geografi dan sosial ekonomi, perluasan dukungan ke seluruh provinsi akan membutuhkan sumber daya dan upaya yang berkelanjutan. Untuk itu, kami membutuhkan dukungan Anda.

Jika Anda ingin membantu meringankan dampak pandemi terhadap masa depan anak, dan memastikan mereka dapat meraih cita-citanya, Anda dapat berdonasi ke UNICEF. Kami akan sangat menghargainya.

DONASI SEKARANG

________

* Sekarang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

** Menurut data baru dari Bank Dunia, 95% rumah tangga Indonesia memiliki televisi.