Meretas Masa Depan: Membuka Potensi Putri
Berinvestasi Memberdayakan Remaja Perempuan Indonesia dengan Program Innovation Challenge: Generasi Terampil dari UNICEF
- English
- Bahasa Indonesia
Sebuah kontrakan kecil di Depok, Jawa Barat, menjadi rumah bagi Putri, 17 tahun, beserta ibu, satu dua orang kakak dan satu adik. Di hunian sederhana yang tidak seberapa besar itu, mereka harus berbagi tempat tinggal. Ibu Putri, seorang ibu tunggal, bekerja tanpa kenal lelah. Beberapa pekerjaan sekaligus ia lakoni demi menjaga kelangsungan rumah tangga dan keluarganya. Tumbuh besar di lingkungan ini, sejak dini Putri belajar makna ketangguhan dan tekad.
Putri adalah satu dari lebih dari 20 juta remaja perempuan di Indonesia. Setiap remaja perempuan ini berpotensi menjadi pemimpin, pelaku usaha, atau pengusung perubahan di masa depan, untuk memajukan kehidupan keluarga, sekolah, dan komunitasnya.
Putri selalu memiliki cita-cita yang tinggi. Ia jatuh hati pada dunia digital dan luasnya peluang yang ditawarkan bidang tersebut. Namun, kendala keuangan keluarganya membuat aksesnya kepada teknologi, terlebih kesempatan untuk menekuni bidang ini menjadi terbatas. “Saya dari dulu tertarik dengan bidang komputer, tapi terkendala untuk bisa menekuni bidang ini karena keadaan finansial saya dan keluarga,” kisah Putri.
Di rumah, perangkat seperti laptop dan ponsel pintar harus digunakan bergantian dengan anggota keluarga lain. Hal ini membuat Putri kesulitan untuk mengikuti pembelajaran daring secara terus-menerus. “Kalau saja punya laptop atau smartphone sendiri, pasti lebih mudah untuk saya belajar dan berpartisipasi secara penuh,” jelasnya.
"Kami berusaha yang terbaik dengan apa yang kami punya, tapi memang tidak mudah kalau semua anak perlu menggunakan satu alat secara bersamaan,” imbuh ibunya, yang membesarkan hampir semua anaknya seorang diri.
Perubahan besar terjadi dalam kehidupan Putri setelah ia bergabung dengan Innovation Challenge: Generasi Terampil dari UNICEF. Program pengembangan keterampilan untuk remaja ini membuka kesempatan bagi Putri untuk mengembangkan minatnya di bidang kewirausahaan digital dan teknologi. “Ini pertama kalinya saya ikut program seperti ini. Sangat jarang ada kesempatan dan program untuk remaja perempuan seperti saya bisa ikut,” katanya.
Melalui program tersebut, Putri membangun keterampilannya di bidang kewirausahaan dan digital. Ia belajar membuat dan berkeinginan menjual produk, seperti desain kartu digital. Hal ini memberikannya pengalaman langsung melakukan kewirausahaan digital. Putri juga kini lihai menggunakan fitur komputer seperti PowerPoint. “Program ini sejalan dengan minat saya dan menyiapkan saya untuk karier saya di masa depan. Sekarang, saya ingin terus mengasah kemampuan kewirausahaan digital, atau menjadi programmer,” katanya dengan percaya diri.
Program Innovation Challenge: Generasi Terampil, yang didukung oleh UNICEF dan para mitranya, dirancang untuk membekali remaja perempuan seperti Putri dengan keterampilan abad ke-21 yang sangat esensial, seperti komunikasi dan kemampuan bekerja di dalam tim. Keduanya kian penting pada masa ini mengingat di seluruh dunia, unsur digital dapat ditemukan pada lebih dari 90 persen pekerjaan.
Meski kemampuan digital makin dibutuhkan, ada sekitar 36 persen perempuan muda usia 15—24 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah, tidak bekerja, atau tidak sedang dalam pelatihan—dibandingkan 16 persen pada kelompok lelaki muda. Kesenjangan ini diakibatkan oleh hambatan ekonomi dan geografis, kurangnya dukungan keluarga dan sosok panutan perempuan, dan keterbatasan akses informasi bagi kalangan muda tentang jenis keterampilan yang mereka butuhkan serta cara memerolehnya.
Ibu Putri, yang bekerja keras untuk keluarganya, paham pentingnya kesempatan semacam ini bagi Putri. “Saya mungkin tidak tahu banyak soal dunia digital, tapi saya mau Putri punya lebih banyak kesempatan daripada saya,” katanya. Walaupun sering kesulitan mencukupkan kebutuhan keluarga, ia bertekad mendukung cita-cita Putri, terlepas dari bidang cita-cita itu yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Diawali pada tahun 2019, program pengembangan keterampilan remaja ini tersebut telah menjangkau lebih dari 18.000 remaja dan 1.200 guru melalui sekitar 800 lembaga pendidikan formal dan nonformal di Provinsi DKI Jakarta, Kota Semarang, dan Provinsi Jawa Timur. Lebih dari 60 persen orang yang terlibat—remaja, guru, dan mentor dari sektor swasta—adalah perempuan.
Keterampilan yang diperoleh Putri melalui program ini segera memberikan dampak nyata kepada kehidupannya. Putri lebih percaya diri dan menyambut masa depan dengan pikiran terbuka. Ibunya pun melihat perubahan ini, khususnya dalam hal keterampilan digital Putri dan caranya berinteraksi dengan orang lain. "Putri sangat berkembang dalam hal-hal ini,” katanya dengan nada bangga.
Menurut penelitian terbaru, investasi sebesar hanya US$1,53 per hari per anak perempuan untuk mencapai ketuntasan universal sekolah menengah dapat membantu perekonomian berkembang meningkatkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar rata-rata 10 persen pada 2030.[1]
Saat mengenang kembali pengalamannya, Putri berkata, “Program ini memberikan saya harapan dan bekal untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Tapi, masih ada banyak anak perempuan lain seperti saya yang juga membutuhkan kesempatan ini.” Kisah Putri menjadi bukti nyata bahwa investasi terhadap pendidikan dan pelatihan kecakapan abad ke-21 untuk anak perempuan dapat menghasilkan dampak yang transformatif.
Setiap anak perempuan yang potensinya terbuka adalah selangkah menuju masa depan yang lebih sejahtera dan setara untuk semua. Dengan mendukung UNICEF, Anda tidak hanya tengah membantu seorang anak, tetapi juga mengubah kehidupannya dan masyarakat di sekitarnya.