Pendidikan Inklusif, menghadirkan warna di dalam kehidupan anak dan orang tua

Dengan bertambahnya sekolah yang menawarkan program Pendidikan Inklusif untuk murid dengan disabilitas, semakin banyak pula anak-anak yang menemukan harapan dan kegembiraan

UNICEF
Kevin sedang memegang setumpuk kertas post it warna warni
UNICEF/UNI368315/Ijazah
15 September 2020

“Kuning,” ujar Kevin perlahan, mengucapkan warna selembar kertas sebelum ia berpindah ke benda berikutnya. Ia meletakkan kaca pembesar dekat ke hidungnya, mengamati sebatang krayon, kemudian berbisik, “Biru.”

Permainan ini tidak dimainkan oleh semua anak di sekolah. Namun, bagi Kevin, 9, mengenali macam-macam warna membuatnya termotivasi untuk belajar lebih jauh tentang lingkungan sekitarnya—meskipun semua hal tampak kabur. Daya penglihatan Kevin yang terbatas membuatnya sulit beradaptasi.

Pada usia dua hari setelah kelahiran, Kevin dibawa ke rumah sakit karena mengalami kejang. “Dokter bilang, Kevin kekurangan cairan, sampai-sampai berpengaruh ke otaknya,” kata ibu Kevin, Naniek. “Kevin dirawat 15 hari.”

Sembilan bulan kemudian, muncul selaput tipis berwarna putih di mata kanan Kevin. Dokter menyarankan agar mata itu dioperasi. Akan tetapi, Naniek dan suaminya, Budi, tak tega membayangkan putra kecil mereka harus mengalami operasi pada usia yang begitu muda. Operasi pada akhirnya dilakukan saat Kevin berusia lima tahun; tindakan ini datang terlambat karena ketika itu kedua matanya telah terdampak. Operasi pun gagal menyelamatkan penglihatan Kevin.

Kevin sedang mewarnai di rumahnya.
UNICEF/UNI358815/Ijazah Kevin sedang mewarnai di rumahnya.

Saat tiba waktunya bersekolah, Kevin didaftarkan ke sebuah sekolah dasar negeri di dekat rumahnya. Ia kesulitan berteman dan menjadi mudah cemas. “Hampir setiap pulang sekolah Kevin menangis karena diejek oleh anak-anak lain,” kata Budi.

Pengalaman pilu seperti yang dirasakan Kevin itulah yang acap membuat orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas memilih tidak menyekolahkan anak-anak mereka. Akan tetapi, tidak ada satu pun anak yang patut kehilangan kesempatan bersekolah. Sebab itulah, UNICEF bekerja keras agar semua anak—termasuk penyandang disabilitas—punya kesempatan yang sama untuk belajar. Bagi Anda yang turut meyakini hal ini, mari berikan dukungan Anda kepada UNICEF.

Ibu Nur, ibunda Syaiful, sedang membantu membasuh tangan dan mulut anaknya setelah makan
UNICEF/UNI368317/Ijazah Ibu Nur, ibunda Syaiful, sedang membantu membasuh tangan dan mulut anaknya setelah makan

Sebagai seorang ayah, Budi ingin melindungi anaknya dan menjauhkannya dari luka hati, sehingga ia mengizinkan Kevin tidak bersekolah hingga satu tahun lamanya. Situasi berubah saat Fitri, seorang guru, mengunjungi keluarga ini.

Saat mendengar tentang Kevin, Fitri langsung tergerak untuk menawarkan Kevin mendaftar ke madrasah tempatnya mengajar. Madrasah itu baru saja memulai program Pendidikan Inklusif—berkat kolaborasi antara UNICEF, pemerintah, dan donatur—agar anak-anak dengan disabilitas dapat mengenyam pendidikan di sana. Alangkah luar biasa hasil yang bisa dicapai melalui upaya bahu membahu! Jika Anda ingin turut membantu UNICEF mendorong Pendidikan Inklusif, bersediakah Anda berdonasi hari ini?

Mengingat pengalaman buruk Kevin di sekolah sebelumnya, Naniek dan Budi awalnya ragu menanggapi tawaran Fitri. Namun, Fitri meyakinkan mereka bahwa Kevin tidak akan sendiri; madrasah itu memiliki beberapa murid lain dengan disabilitas.

Kevin and Syaiful bermain di luar rumah.
UNICEF/UNI358816/Ijazah Kevin and Syaiful bermain di luar rumah.

Siapa sangka, persahabatan manis kemudian terjalin antara Kevin dan Syaiful, 12, seorang murid yang juga memiliki disabilitas. Syaiful mengalami lumpuh pada kaki dan tangan kanannya, sehingga harus mengandalkan tangan kiri untuk melakukan segala sesuatu. Seperti Kevin, ia pun sempat tidak bersekolah setelah berkali-kali ditolak mendaftar.

Tak butuh waktu lama, keduanya kini seakan tidak terpisahkan. Kevin bagaikan ‘kaki’ bagi Syaiful, sementara Syaiful menjadi ‘mata’ bagi Kevin.

Kevin, Syaiful dan kedua orangtua mereka di luar rumah Kevin
UNICEF/UNI358845/Ijazah Kevin, Syaiful dan kedua orangtua mereka di luar rumah Kevin

Pendidikan inklusif menciptakan perbedaan positif yang begitu besar pada diri anak-anak seperti Kevin dan Syaiful. Sayang, hanya 37% dari anak dengan disabilitas di Indonesia yang menuntaskan jenjang pendidikan SMP.

Masih ada begitu banyak anak dengan disabilitas yang membutuhkan kesempatan untuk belajar, meraih pengetahuan, dan merasakan indahnya persahabatan. Maukah Anda membantu mewujudkan hal-hal ini melalui donasi Anda pada hari ini?

Ibu Fitri (depan kiri mengenakan jilbab krem) dengan rekan-rekan guru di Madrasah Ibtidaiyah Ciberem
UNICEF/UNI358867/Ijazah Ibu Fitri (di tengah mengenakan jilbab ungu) dengan rekan-rekan guru di Madrasah Ibtidaiyah Ciberem

Tak hanya menyaksikan perubahan pada diri murid, Fitri juga menyaksikan perubahan pada kelompok masyarakat. “Sekarang, lebih banyak yang sadar bahwa anak dengan disabilitas juga punya hak mendapatkan pendidikan,” katanya.

Kevin dan Syaiful sendiri tak tahu betapa sulit tantangan yang harus dihadapi sekolah mereka hingga dapat menyelenggarakan Pendidikan Inklusif. “Tahun pertama itu tahun belajar, evaluasi, dan persiapan,” kenang Darsiti, pengelola program Pendidikan Inklusif di madrasah. Ia bersyukur atas pelatihan dan lokakarya yang diterima olehnya dan timnya.

Kini, ada lebih banyak lagi pendidik yang membutuhkan pelatihan khusus agar mereka mampu menjawab kebutuhan anak dengan disabilitas. Tanpa kemampuan ini, yang dirugikan adalah guru sekaligus murid. UNICEF mengharapkan kesediaan Anda untuk mendukung kegiatan yang mampu menciptakan perbedaan.

“Kami belajar pengetahuan dan keterampilan baru, seperti cara mengenali disabilitas dan hambatan belajar, menyusun rencana pembelajaran individual, menyesuaikan kegiatan di kelas agar lebih inklusif, cara berbicara dengan positif kepada anak, dan menjajaki berbagai bentuk kolaborasi untuk lebih mendukung anak-anak kami,” jelas Darsiti.

Ibu Darsiti berdiri di samping kursi roda yang ia telah usahakan untuk Syaiful
UNICEF/UNI358864/Ijazah Ibu Darsiti berdiri di samping kursi roda yang ia telah usahakan untuk Syaiful.

Dalam kurun dua tahun sejak program Pendidikan Inklusif dibuka, madrasah tempat Fitri mengajar kini memiliki 44 murid dengan disabilitas. Perjalanan Kevin dan Syaiful—serta sekolah itu sendiri—baru saja dimulai!

Anda pun dapat membantu agar kesempatan belajar terbuka bagi lebih banyak anak. Dengan berdonasi kepada UNICEF, berarti Anda memastikan agar tak ada lagi anak yang tersisih dan tertinggal.

Kevin dan Syaiful di rumah
UNICEF/UNI368316/Ijazah Kevin dan Syaiful di rumah