Perjalanan Margaretha Menuju Pemulihan
Ketika RUTF dan Dukungan Keluarga Hadir pada Waktu yang Tepat
- English
- Bahasa Indonesia
Tawa kecil Margaretha Theresia, anak perempuan berusia 24 bulan, kini kembali terdengar di halaman rumah sederhana keluarganya di Kampung Sidomulyo, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Margaretha mulai berlari-lari kecil di sekitar rumah dan meminta makan saat merasa lapar. Bagi ibunya, Maria Baraka, pemandangan sederhana ini terasa seperti sebuah keajaiban.
Beberapa bulan sebelumnya, Margaretha tampak lemah, sulit makan, dan belum seaktif anak-anak seusianya. Maria masih mengingat kekhawatirannya ketika berat badan anaknya tak kunjung naik dan nafsu makannya terus menurun. Setiap hari, ia mencoba berbagai cara agar Margaretha mau makan, namun kondisinya masih belum juga membaik.
“Dulu dia biasanya tidak mau makan. Lesu, lemah, dan hanya tidur. Sekarang sudah berubah ke arah yang lebih baik. Dia lebih banyak bicara ... sekarang cerewet, bermain. Kalau mau makan, dia minta makan dan terus berbicara. Perubahannya sangat baik,” kata Maria.
Margaretha tinggal bersama keluarganya yang beranggotakan empat orang. Ayahnya bekerja di bidang konstruksi. Untuk mengakses layanan kesehatan, mereka berjalan kaki ke Posyandu atau Puskesmas karena tidak memiliki kendaraan pribadi, sementara transportasi umum tidak mudah dijangkau. Dalam situasi seperti ini, keberadaan layanan yang dekat dengan masyarakat, serta peran kader kesehatan dan kunjungan rumah, menjadi sangat penting agar anak-anak dapat diidentifikasi dan mendapatkan penanganan gizi buruk (wasting) secara tepat waktu. Wasting merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi akut yang paling serius pada anak balita.
Perjalanan pemulihan Margaretha dimulai ketika kondisinya teridentifikasi melalui Posyandu. Dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bulanan, Margaretha menunjukkan tanda-tanda gizi buruk atau severe wasting. Berat badannya jauh di bawah standar usianya, yaitu 5,5 kg, dan lingkar lengan atasnya atau LiLA tercatat 10 cm. Berdasarkan kondisi tersebut, Margaretha dirujuk ke Puskesmas Kuprik untuk pemeriksaan dan konfirmasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan terlatih.
“Diagnosis itu menakutkan, tetapi juga memberi kejelasan. Artinya, kondisi Margaretha sudah diketahui, dan bantuan tersedia tidak jauh dari rumah,” kenang Maria.
Berdasarkan hasil konfirmasi di Puskesmas Kuprik, Margaretha didiagnosis mengalami gizi buruk dan memenuhi kriteria untuk mendapatkan tata laksana di layanan rawat jalan melalui pemberian RUTF, yaitu makanan terapi siap santap yang dirancang khusus untuk anak dengan gizi buruk.
RUTF dapat dikonsumsi langsung tanpa perlu rawat inap apabila anak memenuhi kriteria klinis. RUTF tidak perlu dimasak dan mudah diberikan di rumah. Dengan menggunakan RUTF sesuai anjuran tenaga kesehatan, Maria memastikan anaknya menerima terapi secara teratur dan mengikuti kunjungan tindak lanjut rutin di Puskesmas. Melalui pemberian RUTF dan obat esensial, pemantauan berkala oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan, serta dukungan keluarga, kondisi Margaretha perlahan mulai membaik.
Dalam layanan rawat jalan, Margaretha tidak hanya menerima RUTF. Keluarganya juga mendapatkan edukasi tentang cara pemberian RUTF dan praktik perilaku hidup bersih dan sehat, sementara pertumbuhan dan perkembangan Margaretha terus dipantau secara rutin melalui Posyandu. Selain itu, kader kesehatan dan tenaga kesehatan melakukan kunjungan berkala setiap satu hingga dua minggu untuk memantau perkembangan kondisinya.
“Awalnya dia lemah dan tidak mau makan. Tetapi setelah mendapat RUTF, dia mulai mau makan lagi dan kondisinya perlahan membaik,” kata Maria.
Bagi Maria, salah satu hal yang membantu adalah RUTF yang praktis dan mudah diberikan. RUTF tidak perlu dimasak atau dicampur air, dan dapat langsung dikonsumsi oleh anak sesuai dosis yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan.
“Rasanya enak, jadi dia suka. Memberikannya juga mudah — dia bisa langsung makan. Tidak perlu dicampur atau dimasak. Yang penting tetap dijaga kebersihannya,” kata Maria.
Sukma, nutrisionis di Puskesmas Kuprik, melihat perkembangan Margaretha sebagai hasil dari deteksi dini, rujukan, tata laksana kasus, serta dukungan berkelanjutan dari tenaga kesehatan dan kader kesehatan.
Namun, pengalaman Puskesmas Kuprik menunjukkan bahwa keberhasilan layanan rawat jalan tidak hanya bergantung pada ketersediaan RUTF. Tantangan seperti keluarga yang berpindah tempat tinggal, anak yang tidak kembali untuk kunjungan tindak lanjut mingguan sesuai jadwal, serta kekhawatiran keluarga terhadap pengobatan masih dapat menyebabkan anak terputus dari pemantauan dan layanan. Dalam situasi seperti ini, kader kesehatan berperan penting dalam menghubungkan keluarga dengan Puskesmas.
Menurut Sukma, sebelum terapi dimulai, tim kesehatan Puskesmas melakukan penilaian menyeluruh terhadap status gizi dan kondisi kesehatan Margaretha. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Margaretha memenuhi kriteria untuk mendapatkan tata laksana gizi buruk melalui layanan rawat jalan dengan RUTF.
Dalam beberapa minggu, berat badan Margaretha meningkat dari sekitar 5,5 kg menjadi 7,5 kg, sementara LiLA-nya meningkat dari 10 cm menjadi 13 cm. Perlahan, perubahan mulai terlihat. Margaretha yang sebelumnya lemah mulai berjalan. Ia kembali tertarik untuk bermain dan sering meminta makan kepada ibunya. Namun bagi keluarga, perubahan paling bermakna tidak hanya terlihat dari angka pada timbangan atau pita LiLA. Margaretha kini lebih aktif, berjalan, bermain, dan menunjukkan nafsu makan yang lebih baik. Di balik keceriaan Margaretha yang kembali dan kemampuannya untuk bermain, tersimpan cerita tentang bagaimana layanan yang saling terhubung — mulai dari Posyandu dan keluarga, kader kesehatan, Puskesmas, hingga ketersediaan RUTF — dapat membantu anak dengan gizi buruk mendapatkan layanan yang tepat waktu dan berkelanjutan.
“Peran kader kesehatan sangat penting. Dalam banyak hal, mereka adalah garda terdepan kami. Mereka lebih mengenal masyarakat dan lebih mampu menjangkau warga, sehingga lebih mudah diterima,” kata Sukma.
Saat ini, perjalanan Margaretha membawa pesan yang sederhana namun kuat: deteksi dini di Posyandu, rujukan yang tepat, layanan rawat jalan, RUTF, konseling keluarga, serta dukungan kader kesehatan dapat membantu anak dengan gizi buruk pulih. Bagi Maria, pesan untuk keluarga lain sangat jelas.
“Saya menyarankan keluarga untuk pergi ke Puskesmas agar anak-anak mereka bisa mendapatkan layanan yang baik,” ujarnya.
Kisah Margaretha mencerminkan tantangan yang lebih luas yang masih dihadapi banyak anak di Indonesia. Wasting, atau kekurangan gizi akut, terjadi ketika seorang anak terlalu kurus dibandingkan tinggi badannya. Kondisi ini melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko sakit serta kematian. Di Indonesia, sekitar satu dari empat belas anak balita diperkirakan mengalami wasting, atau setara dengan lebih dari 1,7 juta anak, termasuk lebih dari 260.000 anak yang mengalami gizi buruk. Anak dengan gizi buruk memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak dengan status gizi baik. Namun, banyak anak dapat pulih apabila teridentifikasi sejak dini dan mendapatkan tata laksana yang tepat. Tantangan ini sangat mendesak di wilayah timur Indonesia, di mana kondisi geografis, akses layanan, dan berbagai hambatan lainnya dapat membuat keluarga lebih sulit menjangkau layanan tepat waktu. Di Papua Selatan, dukungan UNICEF difokuskan pada penguatan deteksi di tingkat masyarakat dan fasilitas kesehatan, termasuk melalui Family MUAC, skrining oleh pengasuh, dan rujukan dini, agar anak dengan wasting dapat teridentifikasi dan ditangani sebelum kondisinya memburuk.
Sejak 2025, UNICEF bersama Child Nutrition Fund (CNF) telah mendukung Pemerintah Indonesia, termasuk Pemerintah Provinsi Papua Selatan, untuk memperkuat layanan tata laksana gizi buruk pada anak balita melalui program IMAM. Dukungan ini mencakup upaya memastikan ketersediaan RUTF, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan, serta dukungan terhadap pelaksanaan layanan. Upaya ini membantu memperkuat kemampuan sistem kesehatan untuk mendeteksi, merujuk, dan menangani anak-anak yang membutuhkan layanan, sehingga lebih banyak anak memiliki kesempatan untuk pulih dan tumbuh optimal, seperti Margaretha.