Diperlukan Peran Setiap Pihak: Perjalanan Daus Pulih dari Gizi Buruk
Bagaimana pengasuhan keluarga, tenaga kesehatan dan makanan terapi gizi siap konsumsi (RUTF) membantu pemulihan anak dengan gizi buruk
- English
- Bahasa Indonesia
Di halaman sebuah rumah bercorak biru cerah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, anak-anak kerap berkerumun setiap sore di bawah pohon tua, menunggu giliran untuk bermain ayunan ban yang tergantung di dahannya. Di sinilah Daus, yang baru berusia satu tahun, biasa menghabiskan waktunya dengan bermain. Ia dikenal sebagai anak yang ceria, aktif, dan penuh rasa ingin tahu terhadap lingkungan di sekitarnya, sebelum ia jatuh sakit.
Namun suatu hari, Ibunda Daus, Aisyah, menyadari perubahan pada putra bungsunya tersebut. Daus nampak lemah dan kehilangan nafsu makan. Keceriaan yang selama ini begitu ia kenal perlahan memudar, “Daus yang biasanya ceria dan selalu manja,” kenang Aisyah sambil memangku putranya.
“Tetapi saat itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Rasanya dia bukan lagi dirinya yang biasanya.”
Aisyah terus memperhatikan kondisi Daus. Ia menjadi mudah rewel, jarang mau bermain di luar rumah, dan tampak jauh kurang aktif dibandingkan biasanya.
Aisyah tinggal bersama suami dan keempat anaknya di rumah yang berada tidak jauh dari salah satu sungai terpanjang di Sulawesi Selatan. Beberapa keluarga lain tinggal berdekatan dan menjadi sumber dukungan yang penting bagi mereka.
“Mereka selalu ada untuk kami, baik secara fisik, emosional, bahkan terkadang secara finansial,” ujar Aisyah.
Ketika Daus jatuh sakit, Husni, seorang tetangga yang juga kader Posyandu, memeriksa status gizinya menggunakan pita ukur lingkar lengan atas (LiLA), alat sederhana berkode warna yang digunakan untuk mengidentifikasi anak yang berisiko mengalami wasting (gizi kurang & gizi buruk). Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Daus berisiko wasting. Husni segera merujuk Aisyah dan Daus ke puskesmas terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kekhawatiran seorang ibu akhirnya terkonfirmasi. Daus didiagnosis mengalami gizi buruk, salah satu bentuk kekurangan gizi yang mengancam jiwa.
“Saat tenaga kesehatan memberi tahu bahwa Daus mengalami gizi buruk, saya sangat terpukul,” kata Aisyah. “Tetapi saya tahu saya harus tetap kuat dan melakukan segala yang saya bisa agar Daus bisa pulih.”
Kekhawatiran seorang ibu akhirnya terkonfirmasi. Daus didiagnosis mengalami gizi buruk, salah satu bentuk kekurangan gizi yang mengancam jiwa.
“Saat tenaga kesehatan memberi tahu bahwa Daus mengalami gizi buruk, saya sangat terpukul,” kata Aisyah. “Tetapi saya tahu saya harus tetap kuat dan melakukan segala yang saya bisa agar Daus bisa pulih.”
Kisah Daus mencerminkan tantangan yang jauh lebih besar. Secara global, diperkirakan 42,8 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami wasting pada tahun 2025. Di Indonesia, sekitar 1,6 juta anak terdampak, atau sekitar satu dari 14 anak mengalami wasting, dengan lebih dari 260.000 anak mengalami gizi buruk.
Indonesia telah berkomitmen menurunkan prevalensi wasting menjadi 5 persen pada tahun 2029 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Kemajuan telah terlihat. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi wasting turun dari 12,1 persen pada 2013 menjadi 7,4 persen pada 2024.
Meski demikian, kemajuan tersebut belum merata. Di Kabupaten Maros, prevalensi wasting pada balita mencapai 8,3 persen pada tahun 2024, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional maupun Provinsi Sulawesi Selatan yang berada pada angka 8 persen.
Bagi pemerintah daerah, angka-angka tersebut menjadi panggilan untuk bertindak. Pemerintah Kabupaten Maros menjadikan penurunan wasting dan juga stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan, termasuk melalui penguatan deteksi dini, sistem rujukan, dan tindak lanjut melalui Posyandu dan puskesmas.
“Menurunkan masalah kekurangan gizi pada anak, termasuk wasting, membutuhkan kolaborasi lintas sektor, keterlibatan aktif masyarakat, termasuk kader Posyandu dan tenaga kesehatan puskesmas, serta intervensi yang berbasis bukti,” ujar Dr. H. Muhammad Yunus, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros.
Rantai Penyelamat
Waktu adalah kunci bagi pemulihan anak dengan gizi buruk. Namun, keberhasilan pemulihan juga bergantung pada rantai layanan yang tidak terputus, mulai dari deteksi dini, rujukan tepat waktu, diagnosis, pengobatan, konseling, hingga pemantauan berkala. Bagi Daus, rantai tersebut dimulai dari Posyandu tempat Husni bertugas.
Mata rantai berikutnya adalah dukungan yang diterima Daus di puskesmas. Di sana, tenaga kesehatan memperkenalkan keluarga Daus pada Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) atau makanan terapi gizi buruk siap konsumsi, yaitu pasta padat gizi yang digunakan untuk menangani anak gizi buruk. Sesuai standar Kementerian Kesehatan, RUTF merupakan bagian dari paket layanan komprehensif untuk penanganan anak gizi buruk di masyarakat.
Kehadiran RUTF membantu mengatasi berbagai kendala yang sebelumnya sering menghambat pemulihan anak gizi buruk. Dahulu, penanganan gizi buurk umumnya hanya tersedia di rumah sakit tingkat kabupaten atau provinsi, sehingga anak harus menjalani rawat inap selama beberapa minggu. Pendekatan ini hanya mampu menjangkau sebagian kecil anak yang membutuhkan layanan. Bahkan ketika perawatan dilakukan di puskesmas, tenaga kesehatan harus menyiapkan formula khusus yang diracik untuk diberikan kepada anak gizi buruk, yang mana memerlukan waktu, ketelitian, dan standar kebersihan yang ketat.
Selain memerlukan waktu, proses penyiapan yang harus dilakukan secara cermat untuk memastikan kebersihan, keamanan, dan ketepatan pemberian juga membutuhkan pemantauan, konseling, serta pendampingan kepada keluarga secara berkelanjutan. Hal ini dapat menambah beban tenaga kesehatan dan berpotensi memperlambat proses pemulihan anak. Penyiapan yang kurang cermat serta kebersihan dan higiene yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko infeksi dan menghambat proses pemulihan anak.
Berdasarkan bukti global mengenai efektivitasnya, pada 2015 Pemerintah Indonesia dengan dukungan UNICEF mulai menguji coba pendekatan Integrated Management of Acute Malnutrition (IMAM/ Pengelolaan Gizi Buruk Terientegrasi) – pendekatan berbasis bukti untuk deteksi dini dan tata lansana balita gizi buruk di provinsi Nusa Tenggara Timur. Pendekatan ini menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen anak gizi buruk dapat dirawat dilayanan rawat jalan dengan RUTF tanpa perlu dirawat inap, asalkan terdeteksi sejak dini.
IMAM memperkuat upaya pencegahan, deteksi, dan penanganan wasting melalui sistem yang menghubungkan skrining di masyarakat, rujukan, pengobatan rawat jalan dan rawat inap, konseling pengasuh, serta pemantauan lanjutan. Pendekatan ini juga meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi, menilai, dan menangani anak gizi buruk, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan gizi penting, termasuk RUTF.
Kini, Daus tidak lagi mengalami gizi buruk. Meskipun proses pemantauan masih terus berlangsung, kehidupan sehari-harinya mulai kembali normal. Ia kembali menghabiskan sore hari bermain bersama teman-temannya di bawah pohon besar dekat rumah.
Bagi Aisyah, pendekatan IMAM membuatnya tidak harus berjuang sendirian. Husni sudah seperti anggota keluarga sendiri. Ia rutin memantau perkembangan Daus, menemani mereka ke puskesmas setiap minggu, dan membimbing Aisyah tentang praktik pengasuhan yang baik di rumah, termasuk pemberian RUTF sesuai dosis yang dianjurkan tenaga kesehatan dan penerapan kebiasaan mencuci tangan yang benar.
Melalui pendekatan IMAM, ribuan anak di Indonesia kini dapat memperoleh layanan yang cepat dan tepat waktu, memberi lebih banyak keluarga peluang yang sama seperti yang diperoleh Daus. Selain itu, model layanan ini terbukti lebih hemat biaya, dengan biaya penanganan gizi buruk yang dapat berkurang hingga 22 persen dibandingkan model rawat inap.
Untuk memastikan semakin banyak anak seperti Daus dapat bertahan hidup, pulih, dan berkembang secara optimal, UNICEF bersama Pemerintah Indonesia dan dukungan Child Nutrition Fund (CNF) akan terus memperkuat kualitas serta cakupan layanan deteksi dini dan pengobatan wasting dalam lima tahun ke depan dengan memperluas pendekatan IMSM.
Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas tenaga kesehatan garda terdepan, perluasan skrining berbasis komunitas melalui pendekatan Family-Led MUAC yang memungkinkan orang tua mendeteksi wasting lebih awal, penguatan kesinambungan layanan dari tingkat masyarakat hingga fasilitas kesehatan, peningkatan akses terhadap pengobatan yang menyelamatkan jiwa, penguatan rantai pasok gizi, serta dukungan terhadap produksi RUTF di dalam negeri yang berkelanjutan.
Perjalanan kesembuhan Daus membutuhkan tekad seorang ibu, kewaspadaan kader Posyandu, keterampilan dan kapasitas tenaga kesehatan, makanan terapi yang menyelamatkan jiwa, dan sistem kesehatan yang menghubungkan setiap tahap perawatan. Bersama-sama, seluruh elemen tersebut memastikan setiap anak yang mengalami wasting dapat terdeteksi lebih awal, memperoleh pengobatan yang tepat waktu dan efektif, serta memiliki peluang terbaik untuk pulih.