Pesantren di Aceh Melawan Kekerasan dengan Kasih Sayang

Pendekatan Ramah Anak Menumbuhkan Disiplin Positif dan Pembelajaran Sosial-Emosional

UNICEF Indonesia
Students practice during Arabic language lessons in Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh.
UNICEF/UNI568972/Chair
03 Mei 2024

Di Aceh, di mana nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang memasukkan anak-anak mereka ke pesantren (disebut ‘Dayah’ di Aceh), dengan harapan mendapatkan pendidikan berbasis agama dalam lingkungan yang damai.

Namun, lembaga-lembaga yang dihormati ini masih menghadapi tantangan terkait kekerasan, termasuk intimidasi/perundungan dan disiplin yang keras.

Farida Hanum or Ai, 17, one of the elected students (Santri Pelopor) in Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh.
UNICEF/UNI569021/Chair Farida Hanum atau Ai, 17, salah satu santri terpilih (Santri Pelopor) di Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh.

Bagi Ai, santriwati berusia 17 tahun di Banda Aceh, lorong-lorong Dayahnya pernah dipenuhi isolasi dan ketakutan saat ia di-bully. “Uang saya dirampas, barang saya dirusak,” renungnya. “Saya merasa tidak ada gunanya mencoba mencari teman. Lebih baik saya menutup diri dari semua orang."

Hadi Mughni, 15, one of the Santri Pelopor in Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur, Paloh Lada, Aceh,
UNICEF/UNI569042/Chair Hadi Mughni, 15, salah satu Santri Pelopor di Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur, Paloh Lada, Aceh.

Hadi, 15 tahun, seorang pelajar di Aceh Utara, sering menghadapi pelecehan verbal dari teman-temannya yang melemahkan kepercayaan dirinya dan membuatnya kesulitan berkomunikasi.

Kasus-kasus seperti ini sedang meningkat di seluruh Aceh, dan Dayah sering menjadi pusat berbagai bentuk kekerasan termasuk pelecehan seksual, kekerasan fisik dan emosional. Pada tahun 2022, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak provinsi tersebut mencatat 715 kasus kekerasan terhadap anak, dan 790 kasus pada tahun 2023.

Menanggapi tren yang mengkhawatirkan ini, UNICEF dan mitranya meluncurkan program Dayah Ramah Anak di 14 Dayah di seluruh provinsi pada tahun 2023, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan membina.

Lebih dari 1.120 siswa dan 14.000 siswa (dikenal sebagai 'santri') telah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dalam disiplin positif, pencegahan kekerasan dan pembelajaran sosial-emosional.

Upaya di Aceh ini merupakan bagian dari inisiatif nasional Pesantren Ramah Anak yang didukung UNICEF dan telah menjangkau lebih dari 200.000 anak di 65 pesantren (30 di Aceh, 25 di Sulawesi Selatan, 6 di Jawa Tengah, dan 4 di Jawa Timur) sejak diluncurkan pada tahun 2022. 

Nahlil Mukta, 24, a student facilitator for Santri Pelopor in Dayah Riyadhatul Qulub and a caregiver in SMA Negeri Model Bangsa Arun, Lhokseumawe, Aceh.
UNICEF/UNI569103/Chair Nahlil Mukta, 24 tahun, fasilitator siswa Santri Pelopor di Dayah Riyadhatul Qulub dan pengasuh di SMA Negeri Model Bangsa Arun, Lhokseumawe, Aceh.

Guru-guru telah menerapkan pendekatan alternatif terhadap disiplin, menyadari pentingnya bimbingan positif. “Dulu hukumannya berupa potong rambut dan lain-lain yang tidak membuat siswa berubah. Setelah mengikuti pelatihan, saya lebih memahami cara mengelola dan mendukung siswa dalam menghadapi tantangan mereka,” kata Nahlil, seorang guru di sebuah SMA di Lhokseumawe.

Nazaruddin, the (Secretary) of Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur, Paloh Lada, Aceh.
UNICEF/UNI569043/Chair Nazaruddin, (Sekretaris) Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur, Paloh Lada, Aceh.

Tengku Nazaruddin, Sekretaris Jenderal Dayah tempat Hadi belajar, senada dengan hal tersebut. “Dulu saat membina anak, kita langsung memberikan sanksi, misalnya membersihkan selokan selama satu jam. Nuansa pembinaan siswa sekarang sudah banyak berubah. Hukuman seperti dulu tidak lagi dilakukan. Ketika ada pelanggaran, kita akan memanggil mereka ke kantor dan memberikan nasihat.”

Farida Hanum or Ai, 17, talks with her friends in Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh, Aceh.
UNICEF/UNI569125/Chair Farida Hanum atau Ai, 17, berbincang bersama teman-temannya di Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh, Aceh.

Siswa seperti Ai dan Hadi menjadi agen perubahan di sekolah mereka melalui ‘Santri Pelopor’, sebuah inisiatif dari program Dayah Ramah Anak di mana siswa terpilih belajar tentang berbagai keterampilan pencegahan kekerasan yang mereka wariskan kepada teman-temannya.

“Sebagai Santri Pelopor, saya berharap dapat turut menciptakan masa depan yang bebas dari perundungan dan dihormati hak asasi manusianya,” kata Ai. 

Hadi Mughni, 15, one of the Santri Pelopor in Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur, Paloh Lada, Aceh, talks with his other Santri Pelopor friends and facilitators in the canteen.
UNICEF/UNI569076/Chair Hadi Mughni, 15, salah satu Santri Pelopor di Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur, Paloh Lada, Aceh, berbincang dengan teman-teman Santri Pelopor lainnya dan fasilitator di kantin.

Hadi menjadi lebih berani dalam menentang praktik-praktik berbahaya. “Saya dulu adalah orang yang sangat pemalu, saya tidak berani berbicara di depan umum. Sekarang, saya cukup berani mengutarakan pendapat saya,” katanya.

Munawar A. Djalil, Head of Dayah Education Department in Aceh, sits in his office in Banda Aceh.
UNICEF/UNI569077/Chair Munawar A. Djalil, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, duduk di ruang kerjanya di Banda Aceh.

Pemerintah daerah telah memprioritaskan berbagai upaya untuk memerangi kekerasan terhadap anak di Dayah di seluruh provinsi, termasuk pembentukan satuan tugas khusus oleh gubernur Aceh.

“Secara nasional, kekerasan di pesantren menempati urutan kedua setelah kekerasan di perguruan tinggi,” kata Munawar A. Djalil, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh. “Satgas ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi dan meminimalisir kekerasan di Dayah Aceh, sehingga anak-anak kita benar-benar terlindungi.” 

Tengku H. Muhammad Yusuf A Wahab, known as Ayah Sop, the Head of Islamic Religious Leaders Association (Himpunan Ulama Dayah Aceh or HUDA) with his daughter in Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen, Aceh.
UNICEF/UNI569032/Chair Tengku H. Muhammad Yusuf A Wahab atau akrab disapa Ayah Sop, Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh atau HUDA bersama putrinya di Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen, Aceh.

Program Dayah Ramah Anak telah mendapatkan dukungan dan pengakuan atas keselarasan dengan prinsip-prinsip Islam yaitu empati dan kasih sayang.

“Seorang Muslim menyelamatkan orang lain dari perilaku yang menyakiti dan membuat frustrasi orang lain, baik secara komunikasi maupun fisik,” kata Tengku Haji Muhammad Yusuf (dikenal dengan Ayah Sop), Ketua Umum Ikatan Ulama Dayah Aceh. “Dalam Islam, kita harus mendidik anak dengan cara yang bermanfaat, bukan merugikan.” 


UNICEF berterima kasih kepada Komite Nasional Jerman yang telah membantu mendukung kegiatan ini. Melalui program “Mempromosikan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikososial Anak-anak dan Remaja di Indonesia”, UNICEF dan masyarakat sipil telah mendukung Pemerintah Indonesia untuk mengurangi risiko bahaya dan meningkatkan lingkungan yang mendukung kesejahteraan anak dan remaja.