Pesantren di Aceh Melawan Kekerasan dengan Kasih Sayang
Pendekatan Ramah Anak Menumbuhkan Disiplin Positif dan Pembelajaran Sosial-Emosional
- English
- Bahasa Indonesia
Di Aceh, di mana nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang memasukkan anak-anak mereka ke pesantren (disebut ‘Dayah’ di Aceh), dengan harapan mendapatkan pendidikan berbasis agama dalam lingkungan yang damai.
Namun, lembaga-lembaga yang dihormati ini masih menghadapi tantangan terkait kekerasan, termasuk intimidasi/perundungan dan disiplin yang keras.
Bagi Ai, santriwati berusia 17 tahun di Banda Aceh, lorong-lorong Dayahnya pernah dipenuhi isolasi dan ketakutan saat ia di-bully. “Uang saya dirampas, barang saya dirusak,” renungnya. “Saya merasa tidak ada gunanya mencoba mencari teman. Lebih baik saya menutup diri dari semua orang."
Hadi, 15 tahun, seorang pelajar di Aceh Utara, sering menghadapi pelecehan verbal dari teman-temannya yang melemahkan kepercayaan dirinya dan membuatnya kesulitan berkomunikasi.
Kasus-kasus seperti ini sedang meningkat di seluruh Aceh, dan Dayah sering menjadi pusat berbagai bentuk kekerasan termasuk pelecehan seksual, kekerasan fisik dan emosional. Pada tahun 2022, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak provinsi tersebut mencatat 715 kasus kekerasan terhadap anak, dan 790 kasus pada tahun 2023.
Menanggapi tren yang mengkhawatirkan ini, UNICEF dan mitranya meluncurkan program Dayah Ramah Anak di 14 Dayah di seluruh provinsi pada tahun 2023, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan membina.
Lebih dari 1.120 siswa dan 14.000 siswa (dikenal sebagai 'santri') telah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dalam disiplin positif, pencegahan kekerasan dan pembelajaran sosial-emosional.
Upaya di Aceh ini merupakan bagian dari inisiatif nasional Pesantren Ramah Anak yang didukung UNICEF dan telah menjangkau lebih dari 200.000 anak di 65 pesantren (30 di Aceh, 25 di Sulawesi Selatan, 6 di Jawa Tengah, dan 4 di Jawa Timur) sejak diluncurkan pada tahun 2022.
Guru-guru telah menerapkan pendekatan alternatif terhadap disiplin, menyadari pentingnya bimbingan positif. “Dulu hukumannya berupa potong rambut dan lain-lain yang tidak membuat siswa berubah. Setelah mengikuti pelatihan, saya lebih memahami cara mengelola dan mendukung siswa dalam menghadapi tantangan mereka,” kata Nahlil, seorang guru di sebuah SMA di Lhokseumawe.
Tengku Nazaruddin, Sekretaris Jenderal Dayah tempat Hadi belajar, senada dengan hal tersebut. “Dulu saat membina anak, kita langsung memberikan sanksi, misalnya membersihkan selokan selama satu jam. Nuansa pembinaan siswa sekarang sudah banyak berubah. Hukuman seperti dulu tidak lagi dilakukan. Ketika ada pelanggaran, kita akan memanggil mereka ke kantor dan memberikan nasihat.”
Siswa seperti Ai dan Hadi menjadi agen perubahan di sekolah mereka melalui ‘Santri Pelopor’, sebuah inisiatif dari program Dayah Ramah Anak di mana siswa terpilih belajar tentang berbagai keterampilan pencegahan kekerasan yang mereka wariskan kepada teman-temannya.
“Sebagai Santri Pelopor, saya berharap dapat turut menciptakan masa depan yang bebas dari perundungan dan dihormati hak asasi manusianya,” kata Ai.
Hadi menjadi lebih berani dalam menentang praktik-praktik berbahaya. “Saya dulu adalah orang yang sangat pemalu, saya tidak berani berbicara di depan umum. Sekarang, saya cukup berani mengutarakan pendapat saya,” katanya.
Pemerintah daerah telah memprioritaskan berbagai upaya untuk memerangi kekerasan terhadap anak di Dayah di seluruh provinsi, termasuk pembentukan satuan tugas khusus oleh gubernur Aceh.
“Secara nasional, kekerasan di pesantren menempati urutan kedua setelah kekerasan di perguruan tinggi,” kata Munawar A. Djalil, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh. “Satgas ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi dan meminimalisir kekerasan di Dayah Aceh, sehingga anak-anak kita benar-benar terlindungi.”
Program Dayah Ramah Anak telah mendapatkan dukungan dan pengakuan atas keselarasan dengan prinsip-prinsip Islam yaitu empati dan kasih sayang.
“Seorang Muslim menyelamatkan orang lain dari perilaku yang menyakiti dan membuat frustrasi orang lain, baik secara komunikasi maupun fisik,” kata Tengku Haji Muhammad Yusuf (dikenal dengan Ayah Sop), Ketua Umum Ikatan Ulama Dayah Aceh. “Dalam Islam, kita harus mendidik anak dengan cara yang bermanfaat, bukan merugikan.”
UNICEF berterima kasih kepada Komite Nasional Jerman yang telah membantu mendukung kegiatan ini. Melalui program “Mempromosikan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikososial Anak-anak dan Remaja di Indonesia”, UNICEF dan masyarakat sipil telah mendukung Pemerintah Indonesia untuk mengurangi risiko bahaya dan meningkatkan lingkungan yang mendukung kesejahteraan anak dan remaja.