PAUD di Papua: Kecil Namun Berarti

Hari-hari Yuli, lima tahun, berubah—dari berladang dengan orang tua ke belajar dengan teman-teman di sekolah.

Jimmy Kruglinski, Communications Officer
UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski

16 Desember 2019

SORONG, PROVINSI PAPUA BARAT, INDONESIA – Suara anak-anak bernyanyi terdengar di udara seiring dengan matahari yang terbit di Desa Aimas, Papua Barat. Di PAUD Alfa Omega, 28 anak sedang berbaris, memulai hari dengan lagu dan tarian.

“Tangan ke atas, ke bawah, goyangkan, lalu berputar,” anak-anak bernyanyi sambil menggerakkan tangan dan kaki.

Tepat saat mereka selesai, seorang anak berjalan memasuki PAUD. Ialah Yuli, lima tahun, yang berada beberapa langkah di depan ibunya, Felina. “Selamat siang!” ujarnya kepada murid lain saat melintasi gerbang—tingkahnya menghibur orang tua dan guru yang ada. Meskipun tiba paling akhir, Yuli segera saja meletakkan tasnya dan bergabung dengan murid lain.

Sejak dulu, Yuli ingin sekali bersekolah di PAUD. Rumahnya menghadap bangunan TK yang dulu beroperasi sebelum digantikan oleh PAUD Alfa Omega. Dari jendela, Yuli menatap anak-anak tetangga berkumpul di halaman sekolah dan bermain. “Teman-teman saya kasih tahu soal PAUD, dan mengajak, ‘ayo-ayo!’” katanya.

Ketika bertanya kepada ibunya apakah ia dapat bersekolah di sana, Felina berkata ia tak punya waktu mengantar-jemput Yuli. Setiap hari, ia pun membawa putrinya bekerja memetik buah dan sayur di ladang untuk dijual di pasar—kegiatan yang kerap berlangsung dari pagi hingga petang.

Namun, saat bekerja sekalipun, Yuli suka berimajinasi. “Dia senang ke ladang, petik pisang dari pohon dan mencari air terjun,” Felina berkisah.

Daya imajinasi yang sama tampak hari ini, di waktu bermain di sekolah. Yuli mengisi sebuah ember dengan pasir, membalik ember itu, dan, diiringi kekaguman teman-temannya, ia mengungkap bentuk honai yang merupakan rumah tradisional Papua. Yuli menengadah dan tersenyum bangga saat teman-teman sekelas melihat karyanya.

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Yuli bermain di sekolah.

Mengajak anak bersekolah

Meski ruang-ruang kelas hari ini penuh dengan senyum dan tawa anak-anak, pemimpin PAUD Zefanya Lusi Setyawati masih ingat suatu masa ketika suasana sekolah lebih muram. Zefanya yang berasal dari Jawa membuka PAUD Alfa Omega setelah pindah ke Papua pada tahun 2003. Sekolahnya menampung 35 murid dari wilayah sekitar, tapi murid yang teratur dating hanya kurang dari separuh.

“Masalah utama terletak pada motivasi orang tua yang rendah,” katanya. “Mereka juga tidak mau menunggu di sekolah hingga kelas selesai untuk menjemput anak-anak.”

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Anak-anak menyimak cerita yang dibacakan guru.

Zefanya bertekad mengubah sikap ini dan, bersama guru-guru lain, menggagas kampanye peningkatan kesadaran yang didukung oleh UNICEF. Mereka mengunjungi keluarga murid satu per satu dan menjelaskan nilai penting pendidikan dini dalam menyiapkan anak-anak masuk ke jenjang SD.

Secara umum, pendekatan mereka diterima dengan baik. Namun, Felina dan suaminya belum yakin. Suatu hari, guru-guru mengadakan acara santai bersama warga dan membagi-bagikan vitamin untuk anak melalui orang tua. Pada kesempatan itu, Zefanya menjadi lebih dekat dengan keluarga Felina. Ia pun berhasil membujuk Felina untuk berubah pikiran. Felina pun mulai mengantar Yuli ke sekolah setiap hari dalam perjalanan ke ladang.

“Saya ingin anak-anak siap masuk ke jenjang berikutnya,” jelasnya Zefanya. “Saya ingin yang terbaik untuk mereka.”

Zefanya ingat, pada bulan-bulan pertama Yuli di PAUD, anak itu penuh semangat sekaligus sulit diatur. Namun, menurutnya, Yuli telah banyak berubah. “Sekarang, ia mau berbagi dengan teman,” kata Zefanya. “Ia juga selalu menyapa orang tua lain dan mau membereskan barang setelah selesai digunakan. Kemajuannya luar biasa.”

Felina sendiri melihat perubahan positif dalam diri putrinya. “Setelah sekolah, Yuli lebih ceria,” kata sang ibu. “Yuli selalu bercerita tentang apa yang dia pelajari di sekolah.”

“Saya ingin Yuli lebih baik dari saudara-saudaranya yang tidak mengikuti PAUD,” tambah Felina. 

Bagi Yuli, berada di PAUD adalah peluang belajar dan bermain dengan teman sebaya. Ia bercita-cita menjadi polisi wanita kelak. “Saya mau menolong orang dan membuat orang lain jadi aman,” katanya.

Keinginan agar anak-anak di sekitarnya punya bekal yang lebih baik dalam hidup adalah motivasi yang mendorong Zefanya terus bekerja sekeras mungkin. “Saya ingin anak-anak siap masuk ke jenjang berikutnya,” jelasnya. “Saya ingin yang terbaik untuk mereka.”

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Anak-anak menyimak cerita yang dibacakan guru.