Menciptakan Kesempatan Kedua bagi Remaja Perempuan yang Putus Sekolah di Jawa Tengah

Kerja Sama Masyarakat dan Pemerintah Daerah untuk Mengembalikan para Siswa Perempuan ke Sekolah

UNICEF Indonesia
16-year-old Nabila Nur Hidayati from Tunggulsari Village, Kaliori District, dreams of becoming a psychologist. Most school graduates in her villager work in fishing or seafood processing, but Nabila is charting a different path following her return to education.
UNICEF/2024/Kartika
01 November 2024

Bertekad mendapat hasil terbaik, Fiona (14) telah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir SMP. Namun tiga hari sebelum masa ujian dimulai, hidupnya mendadak berantakan. Video pribadi Fiona bersama kekasihnya menjadi viral, tersebar di kalangan warga di sebuah desa di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Hanya dalam semalam, ia berubah dari seorang siswa berprestasi menjadi anak perempuan yang malu berada di muka publik.

Keluarga mendapat tekanan besar dari masyarakat, sebab dipaksa untuk menikahkan keduanya. Fiona bahkan diminta mengundurkan diri dari sekolah, karena dianggap akan memberi pengaruh negatif kepada teman-temannya. Meski menginginkan Fiona untuk tetap bersekolah, keluarga terpaksa mempersiapkan pernikahan.

Fiona mendatangi Pusat Pendampingan Keluarga (Puspaga) yang merupakan unit kerja dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, untuk meminta surat dispensasi menikah. Dalam kasus seperti ini, negara memberikan izin bagi anak yang mau menikah. Setelah mendalami kasus, Puspaga berkonsultasi dengan UNICEF. Melalui upaya bersama parapihak, pernikahan tersebut berhasil dicegah dan Fiona bisa mendaftar ke sekolah baru.

Ibunda Fiona merasakan begitu pedih nasib anaknya, jika ia benar-benar putus sekolah. “Jika tidak dibantu, Fiona tak akan bisa sekolah lagi,” katanya. "Saya dan suami tidak bisa membayangkan bagaimana masa depannya,” lanjutnya.

16-year-old Nabila Nur Hidayati from Tunggulsari Village, Kaliori District, dreams of becoming a psychologist. Most school graduates in her villager work in fishing or seafood processing, but Nabila is charting a different path following her return to education.
UNICEF/2024/Kartika Nabila Nur Hidayati, 16 tahun, asal Desa Tunggulsari, Kecamatan Kaliori, bercita-cita menjadi psikolog. Sebagian besar lulusan sekolah di desanya bekerja di bidang perikanan atau pengolahan makanan laut, namun Nabila mulai mengambil jalan berbeda setelah kembali ke dunia pendidikan.

Meskipun secara nasional tingkat pernikahan anak terus menurun selama dekade terakhir, prevalensinya tetap tinggi di beberapa provinsi. Di Rembang, pernikahan anak meningkat dari 131 kasus pada 2019 menjadi 359 pada 2021, menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Pernikahan anak tidak hanya merampas pendidikan, namun juga masa depan mereka. Di Indonesia, remaja perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun berpotensi empat kali lebih besar untuk tidak menyelesaikan SMA dibandingkan dengan mereka yang menikah setelah usia 18 tahun.

Bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Rembang, UNICEF memberi dukungan holistik bagi remaja seperti Fiona. Melalui upaya terkoordinasi, anak putus sekolah diidentifikasi untuk menerima berbagai layanan yang mereka butuhkan agar dapat bertumbuh-kembang dengan aman.

Panduan langkah demi langkah telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana berbagai kelompok – dari guru dan fasilitator hingga psikolog di Puspaga dan pekerja sosial – didorong untuk bekerjasama demi penanganan masalah yang dihadapi para remaja, termasuk mencegah pernikahan anak, menangani masalah kesehatan, dan memastikan bahwa tiap remaja perempuan memiliki akses ke toilet yang aman di sekolah. Panduan ini memudahkan untuk mengidentifikasi remaja putri yang berisiko tinggi agar dapat memberikan bantuan sejak dini.

Kolaborasi ini juga berusaha menyiapkan masa depan remaja perempuan dengan membekali mereka dengan keterampilan penting. UNICEF mendukung pelatihan guru dan pengembangan modul pengajaran untuk pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan non-formal di luar mata pelajaran umum.

Nabila had to leave school for a year after junior high due to her family’s financial difficulties. Her father, Domiri, a 60-year-old fisherman, often returns from fishing trips with too little to sell.
UNICEF/2024/Kartika Nabila harus putus sekolah selama setahun setelah SMP karena kesulitan keuangan keluarganya. Ayahnya, Domiri, seorang nelayan berusia 60 tahun, sering pulang dari memancing dengan membawa terlalu sedikit barang untuk dijual.

Para remaja putri diajarkan cara melindungi diri dari kekerasan dan pernikahan anak, serta membongkar mitos tentang menstruasi. Keterampilan hidup ini – dikombinasikan dengan keterampilan abad ke-21 yang penting seperti berpikir kritis, komunikasi, kerja tim, dan pemecahan masalah – membangun kepercayaan diri dan kemampuan kepemimpinan mereka, serta mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.

Pendekatan kesempatan kedua ini juga mengubah hidup Nabila Nur Hidayati (16). Ia tinggal di kawasan pesisir di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, dimana pria biasanya bekerja sebagai nelayan, sementara wanita bekerja di industri pengolahan makanan laut. Sebagian besar lulusan sekolah menengah meninggalkan desa untuk menjadi buruh di pabrik sepatu.

Keluarga Nabila telah lama berjuang dengan kesulitan keuangan. Ayahnya, Domiri (60) seorang nelayan, sering membawa pulang hasil tangkapan yang terlalu sedikit untuk dijual. "Seringkali saya hanya mendapatkan setengah kilogram udang, yang kami masak untuk keluarga," katanya.

Domiri is thrilled about his youngest daughter returning to school and pursuing her dreams, thanks to her second chance at learning.
UNICEF/2024/Kartika Domiri sangat gembira melihat putri bungsunya kembali bersekolah dan mengejar mimpinya, berkat kesempatan kedua untuk belajar.

Semua anak Domiri harus bekerja sejak kecil untuk membantu keluarga. Seperti dua kakaknya, Nabila terpaksa putus sekolah setelah SMP untuk membantu memenuhi kebutuhan. Setelah keluar dari sekolah selama satu tahun, peluang Nabila untuk kembali ke sekolah tampak suram – hingga dia mendapat dukungan melalui kerjasama parapihak tersebut.

Berkat kolaborasi antara Dinas Pendidikan di Rembang dan Kantor Desa Kaliori, Nabila terdaftar di Pusat Pembelajaran Masyarakat. “Kami mengumpulkan data anak-anak yang putus sekolah dan melaporkannya ke Dinas Pendidikan yang kemudian merujuk kami untuk bekerja sama dengan lembaga pendidikan non-formal untuk mengembalikan anak-anak ini ke sekolah,” jelas Kusen, Sekretaris Kantor Desa.

Sejak Januari 2024, UNICEF telah mendukung pendekatan kolaboratif ini di dua kabupaten di Jawa Tengah, untuk memastikan lebih banyak gadis seperti Fiona dan Nabila menerima dukungan yang komprehensif. Di 14 kabupaten lainnya di Jawa Tengah, UNICEF bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan anak-anak yang putus sekolah kembali belajar. Inisiatif ini telah menjangkau lebih dari 53.000 gadis remaja.

Bagi keluarga seperti keluarga Nabila, perubahan ini sangat besar. "Tanpa program ini, Nabila tidak akan kembali belajar," kata Domiri. Kini pandangan Nabila tentang masa depannya didorong oleh hal baru yang tidak hanya akan menjadi pekerja pabrik. "Sekarang, saya ingin kuliah dan menjadi psikolog," katanya dengan percaya diri.

* * *

*Nama disamarkan untuk melindungi identitas.