Kembali ke sekolah di tengah pandemi

Memetik hikmah sabar dan pantang menyerah

Suzanna Dayne
Di dalam kelas anak-anak menjaga jarak dan mengenakan masker
UNICEF/2021/Dayne
19 Maret 2021

Lombok, Indonesia – Setelah beberapa bulan menjalani pembelajaran jarak jauh, Elma, 11 tahun, kembali pergi ke sekolah. Ia termasuk satu dari sedikit anak yang beruntung. Pasalnya, sebagian besar dari 68 juta murid di Indonesia masih harus bersekolah dari rumah. Meski demikian, di sekitar separuh dari 34 provinsi Indonesia, berbagai kabupaten/kota sudah mulai mengizinkan sebagian sekolah beroperasi kembali.

Ada banyak hal yang berubah semenjak COVID-19 melanda Lombok tahun lalu.

Pertama, Elma harus mengenakan masker sejak berangkat hingga pulang nanti. Di sekolah, suhu tubuh dari semua murid dan guru diperiksa. Mereka juga wajib mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan cairan pembersih tangan setiap kali hendak memulai pelajaran. Di dalam ruang kelas, meja-meja diatur agar berjarak, dan jumlah murid dikurangi hingga separuhnya.

Elma mengenakan masker
UNICEF/2021/Dayne Elma mengenakan masker sebelum pergi ke sekolah

“Setiap kelas harus dibagi menjadi dua kelompok murid agar ruang-ruang kelas tidak terlalu ramai. Murid-murid bersekolah tiga kali seminggu dan kegiatan difokuskan pada beberapa mata pelajaran utama,” kata Hj. Nurul Huda, kepala sekolah.

Menurut Ibu Huda, menjaga jarak fisik adalah hal yang paling menantang saat ini, terutama di luar kelas.

“Belajar dari rumah bukan pengalaman yang mudah bagi anak-anak. Saat di sekolah, mereka gembira bisa bertemu teman, sehingga terkadang lupa bahwa harus menjaga jarak. Guru-guru dan pegawai lain harus rajin-rajin memantau dan mengingatkan murid,” jelasnya.

Sebelum dinyatakan dapat dibuka kembali, sekolah Elma sudah bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat untuk memastikan semua persyaratan dari aspek kesehatan sudah terpenuhi.

Teachers check the temperatures of the students before they enter school.
UNICEF/2021/Dayne Suhu tubuh semua murid dan guru diperiksa setiap hari.

Achmad Dewanto Hadi adalah kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur. Ia bertanggung jawab atas sekitar 1.000 sekolah dasar dan menengah pertama di kawasan ini. Menurut Achmad, sekolah harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Jika ada ketentuan yang dilanggar, bukan tidak mungkin sekolah ditutup kembali.

“Kami bekerja sama erat dengan dinas kesehatan. Jika ada guru atau murid yang dinyatakan positif COVID-19, kami akan langsung menutup sekolah selama 14 hari, kemudian mengevaluasi keadaan di akhir periode itu,” terang Hadi.

“Situasi saat ini bisa berubah dengan cepat, jadi kami pun harus terus menerus mengevaluasi program dan melihat apa-apa saja yang perlu diperbaiki,” tambahnya.

Melacak kesiapan sekolah

UNICEF mendukung upaya pemerintah agar pembelajaran anak tidak terputus di masa pandemi, yaitu dengan menyediakan modul dan materi belajar serta pelatihan bagi orang tua dan guru tentang pembelajaran jarak jauh. UNICEF juga memberikan dukungan psikososial untuk anak.

Kini, UNICEF bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memastikan sekolah-sekolah siap dibuka kembali saat tiba waktunya nanti.

“Kami menggunakan perangkat seluler RapidPro dari UNICEF, yang bisa mengumpulkan data langsung dari lapangan melalui saluran komunikasi daring. Dengan begitu, kami bisa menerima informasi terkini dari sekolah-sekolah, berikut dengan status pemenuhan persyaratan kesehatan mereka sebelum diperbolehkan beroperasi kembali. Fokus kami saat ini adalah sekolah di wilayah terpencil dan perdesaan,” ujar Nugroho Warman, UNICEF Education Specialist.

“Rumah tangga dari status ekonomi yang lebih rendah dan anak dengan disabilitas adalah kelompok yang mengalami dampak terberat pandemi,” katanya.

Mrs Huda explains the new schedule to teachers.
UNICEF/2021/Dayne Ibu Huda menjelaskan jadwal baru kepada para guru.

Data menunjukkan bahwa 47 persen anak melakukan pembelajaran selama hanya 1-2 jam di rumah dan 35 persen menyatakan sambungan internet mereka tidak memadai atau tidak ada. Tak hanya itu, sepertiga anak juga melaporkan sulit berkonsentrasi.

 “Kami paham, sekolah-sekolah di zona berisiko tinggi tidak dapat dibuka. Tetapi, pembelajaran jarak jauh juga punya dampak langsung terhadap anak, yaitu terhadap pendidikan dan kesehatan mental dan sosialnya,” tambah Nugroho, yang menambahkan, “Semakin cepat sekolah bisa dibuka lagi dengan aman, semakin baik.”

Di Lombok, Elma gembira bisa berada di ruang kelas lagi, karena ia rindu teman dan gurunya.

“Belajar sendirian di rumah rasanya sepi, tetapi saya selalu kasih semangat untuk diri sendiri,” katanya.

Bagi anak-anak seperti Elma, nilai-nilai kesabaran dan pantang menyerah menjadi hikmah di balik proses belajar yang mereka jalani selama setahun terakhir.

Elma
UNICEF/2021/Dayne Elma mengaku senang kembali ke sekolah dan bertemu teman, agar ia dapat mewujudkan mimpi menjadi dokter hewan.

“Belajar sendirian di rumah rasanya sepi, tetapi saya selalu kasih semangat untuk diri sendiri.”

Elma

Tonton video

Embedded video follows