Pengasuhan Berkualitas untuk Anak Lebih Sehat

Bantuan tunai untuk anak di Sabang mendorong peningkatan angka kunjungan di posyandu

UNICEF
Seorang bayi berusia 10 bulan dengan ibunya.
UNICEF/2021/Ardila Syakriah
11 November 2021

Pada suatu pagi di bulan Juni, Ulfia Rahmi, ibu dari tiga orang anak, menggendong putra bungsunya, Tanvir, sambil berjalan di area posyandu Desa Paya Seunara di Sabang—kota paling barat di Indonesia.

Di sana, tim kader kesehatan menimbang berat badan Tanvir, kemudian mengukur tinggi badannya. Hasilnya, Tanvir dinyatakan sehat dan pertumbuhannya sesuai dengan usianya. Setelah kesehatan Tanvir selesai diperiksa, giliran Ulfia yang bertanya mengenai kondisi gizi putranya.​​​

“Saya dulu tidak memberikan ASI ekslusif ke kakak Tanvir,” kata Ulfia, menceritakan pengasuhan yang ia terapkan kepada anak keduanya—kini berusia delapan tahun. “Dulu, karena kami tidak tahu,kakak-kakak Tanvir dikasih makan pisang waktu mereka masih bayi.”

Tanvir, sementara itu, menerima ASI eksklusif sejak lahir. Ia pun baru saja diperkenalkan ke makanan padat, berupa buah-buahan lunak dan sayur, setelah berusia tujuh bulan. Di samping itu, ASI masih menjadi sumber gizi utama baginya.

Seorang ibu menyusui bayinya yang berusia 10 bulan.
UNICEF/2021/Ardila Syakriah
Setelah mengetahui manfaat ASI, Ulfia pun memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.

Perubahan signifikan dalam cara pemberian makan tersebut tidak terjadi secara otomatis bagi Ulfia dan suaminya, Mulyadi, yang bekerja sebagai pengemudi truk. Tak lama setelah Tanvir lahir, perangkat desa dan para tetangga mendorong pasangan ini untuk mendaftar sebagai peserta program GEUNASEH—skema bantuan untuk anak yang dikelola oleh Pemerintah Kota Sabang dan yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia.

GEUNASEH, berasal dari bahasa Aceh yang berarti ‘kasih’, diluncurkan pada tahun 2019. Program ini menyediakan bantuan tunai langsung sebesar Rp150.000 per bulan kepada setiap penerima program—keluarga dengan anak berusia di bawah enam tahun. Uang itu dapat digunakan untuk membeli makanan, membiayai transportasi ke fasilitas kesehatan, ataupun kebutuhan penting lain bagi anak.

Program yang didukung oleh UNICEF ini mencakup sekitar 5.000 anak di seluruh Sabang. Tujuanya adalah membantu mengatasi kemiskinan dan angka kejadian sakit pada kelompok anak, khususnya anak dalam keadaan paling rentan akibat kesulitan mendapatkan makanan dan mengalami malnutrisi. Sejak GEUNASEH berjalan, Kota Sabang mencatat penurunan bertahap dalam angka prevalensi stunting, yakni dari 13,5 persen pada tahun 2019 menjadi 10,3 persen pada tahun 2020. Agar perkembangan ini terus berlanjut, apakah Anda ingin berkontribusi bersama UNICEF?

Namun, bukan hanya bantuan tunai yang diberikan oleh GEUNASEH. Untuk mempertahankan kepesertaan, penerima manfaat diharuskan teratur mengunjungi posyandu setiap bulan untuk menerima penyuluhan tentang pemberian makan dan pengasuhan serta pemantauan tumbuh-kembang anak. Bagi Ulfia, pengalaman ini mengajarkannya banyak hal, seperti pemberian ASI secara eksklusif dan cara menjaga kebersihan dengan baik. Dengan demikian, GEUNASEH pun terintegrasi dengan berbagai layanan lain yang telah menghasilkan peningkatan mutu kesehatan, nutrisi, sanitasi, dan pengasuhan anak.

GEUNASEH juga berdampak terhadap angka kunjungan posyandu, yang naik signifikan dari antara 40 dan 60 persen ke 92 persen setelah program diresmikan pada 2019. Sayangnya, angka ini sempat merosot pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19, yaitu setelah pemerintah kota membatasi jumlah pengunjung fasilitas kesehatan dan mewajibkan tenaga dan kader kesehatan agar melakukan kunjungan ke rumah demi menekan angka penularan COVID-19. Kini, angka kunjungan telah kembali ke kisaran 80 persen—tetap lebih tinggi dibandingkan masa sebelum program tersedia. Anda dapat berpartisipasi dalam perubahan positif ini dengan berdonasi di sini.

Menurut Nurbaiti, seorang kader kesehatan, sebanyak 76 anak yang dijadwalkan berkunjung ke posyandu telah hadir untuk dipantau tumbuh kembangnya—termasuk Tanvir. Dengan kehadiran GEUNASEH, angka kunjungan posyandu naik pesat ke rata-rata 95 persen. Hal ini nyaris belum pernah terjadi sebelumnya.

Seorang kader kesehatan di Sabang, Aceh.
(UNICEF/2021/Adi Warsidi)
Nurbaiti, kader Posyandu Paya Seunara, menggunakan materi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) saat melayani konsultasi dengan orang tua. Posyandu Paya Seunara telah mencatat kenaikan kunjungan setelah GEUNASEH diluncurkan.

“Kalau ada yang tidak bisa datang ke posyandu, saya yang datang ke rumahnya,” kata Nurbaiti.

 

“Kadang juga saya minta orang tua yang mengukur tinggi dan berat badan anak di rumah, nanti hasilnya dikirimkan ke saya, supaya saya bisa memantau datanya.”

Berbagai layanan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Ulfia. Setelah beberapa kali berkunjung ke posyandu,  kader posyandu menyarankannya mengikuti kelas pengasuhan anak selama sepekan yang didukung oleh UNICEF. Di akhir kelas, Ulfia membawa pulang 13 modul untuk dipelajari bersama suaminya di rumah. Modul-modul itu awalnya disusun oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kemudian diadaptasi untuk Provinsi Aceh dengan bantuan UNICEF. Topik modul mencakup, antara lain, tanggung jawab pengasuhan dan perawatan anak oleh ibu dan ayah—konsep yang asing di lingkungan Ulfia, yang meyakini peran ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pengasuh anak. Setelah menerima pelatihan, Ulfia memperhatikan sikap suaminya mulai berubah, termasuk dalam hal-hal sederhana. Misalnya, ia kini mulai bersedia memandikan anak.

Selain meningkatkan kualitas pengasuhan dan angka kunjungan posyandu, GEUNASEH meningkatkan angka pendataan kelahiran dari 92 persen pada tahun 2019 ke 98 persen pada 2020. Hal ini dicapai GEUNASEH dengan mewajibkan orang tua menyerahkan akta kelahiran saat mendaftar sebagai peserta program.

“Salah satu faktor utama di balik keberhasilan GEUNASEH Sabang adalah perencanaannya yang terintegrasi mulai dari kota hingga desa, difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Bappeda [Badan Perencanaan Pembangunan Daerah] Kota Sabang,” kata Andi Yoga Tama, Kepala Kantor Lapangan UNICEF di Banda Aceh.

Bappeda Sabang berharap GEUNASEH dapat menginspirasi daerah-daerah lain untuk meningkatkan kesejahteraan anak dan kini tengah menyusun rencana agar program ini dapat berjalan untuk jangka panjang.

“Kami sedang menyusun peta jalan bersama UNICEF dan Flower Aceh [LSM setempat] agar program dapat dipertahankan, siapa pun yang menjalankan,” ujar Faisal Azwar, Kepala Bappeda Sabang.

Ulfia pun berharap bantuan tunai akan berlanjut. Baginya, bantuan ini sangat membantunya dalam mengadakan makanan pendamping usai masa ASI eksklusif.

“Di dompet, uang [bantuan] saya simpan terpisah; uang ini khusus untuk Tanvir,” katanya dengan tegas.

Kedermawanan Anda dapat membantu ibu-ibu lain seperti Ulfia di seluruh Indonesia untuk mengakses layanan kesehatan dan dukungan untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Silakan berdonasi ke UNICEF.