14 Juni 2024

Sistem Registrasi Sosial Ekonomi Terpadu untuk Indonesia

Laporan ini menguraikan desain konseptual dan pendekatan Sistem Registrasi Sosial Ekonomi Terpadu (Regsosek) di Indonesia, sebuah inisiatif penting yang bertujuan untuk memperkuat perencanaan dan pelaksanaan program perlindungan sosial. Regsosek adalah sistem informasi yang memuat informasi seputar kondisi sosial ekonomi dari seluruh rumah tangga atau individu di suatu negara. Sistem ini dapat membantu mengidentifikasikan secara cepat populasi rentan dan menargetkan penerima manfaat yang memenuhi syarat untuk berbagai program perlindungan sosial.Pandemi COVID-19 menyebabkan kesulitan ekonomi meluas, banyak orang kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Hal ini mengharuskan Pemerintah Indonesia untuk memiliki sistem registrasi terpadu untuk mengidentifikasi dan menjangkau penerima manfaat yang memenuhi syarat atau kelompok masyarakat yang terkena dampak agar dapat memberikan bantuan secara lebih efisien dan efektif.Pada tahun 2022, Pemerintah Indonesia melakukan sensus nasional untuk mengumpulkan data sosial ekonomi guna membentuk Regsosek, sehingga meningkatkan cakupan perlindungan sosial di luar program yang memanfaatkan DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Dengan menyatukan data pendaftaran, pemerintah dapat memanfaatkan satu lokasi penyimpanan data untuk melaksanakan berbagai program sosial tanpa perlu melakukan pendaftaran secara individual di setiap programnya. Sistem ini akan membantu menyederhanakan penargetan dan penyampaian manfaat, mengurangi penipuan dan kesalahan, serta meningkatkan akuntabilitas dan transparansi.UNICEF telah mendukung Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dalam merancang sistem Regsosek untuk sistem pemberian perlindungan sosial yang efisien dan efektif. Dokumen hanya tersedia dalam Bahasa Inggris
02 April 2024

Menuju Perlindungan Sosial yang Sensitif terhadap Anak di Indonesia

Visi pembangunan Indonesia adalah menjadi salah satu dari empat negara dengan perekonomian terbesar di dunia dan mencapai status negara berpenghasilan tinggi dengan mengurangi kemiskinan ekstrem hingga nol. Mengingat kemiskinan di masa kanak-kanak juga merupakan akar penyebab kemiskinan di masa dewasa, maka untuk mewujudkan visi pemerintah ini diperlukan fokus pada pemberantasan kemiskinan anak sebagai langkah awal yang penting. Perlindungan sosial – yang mencakup bantuan sosial, asuransi sosial, layanan perawatan sosial dan program pasar tenaga kerja – memainkan peran penting dalam pengentasan kemiskinan. Perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak mengatasi kemiskinan, kerentanan, pengucilan dan guncangan yang dihadapi anak-anak pada berbagai tahap kehidupan mereka. Laporan singkat ini, berdasarkan studi empiris terkini dan literatur internasional, menyajikan informasi mengenai sejauh mana kemiskinan dan kesenjangan di Indonesia dan bagaimana dampaknya terhadap anak-anak. Laporan ini mengkaji bagaimana perlindungan sosial yang ada di Indonesia saat ini, khususnya bantuan sosial, mengurangi kemiskinan dan mendukung keluarga, termasuk pada saat krisis. Laporan singkat ini menyoroti pentingnya menjadikan perlindungan sosial sensitif terhadap anak guna mewujudkan visi pembangunan negara melalui pemberantasan kemiskinan anak, dan juga memberikan rekomendasi-rekomendasi utama. Dokumen hanya tersedia dalam Bahasa Inggris
01 Maret 2023

Makalah Diskusi: Isu Utama Anak-anak Penyandang Disabilitas di Indonesia

Makalah diskusi ini menyoroti data utama, tantangan, dan peluang untuk mendukung anak-anak penyandang disabilitas di Indonesia. Tulisan ini disusun untuk memicu dan menyediakan bahan diskusi diantara para pemangku kepentingan seputar agenda penting untuk anak-anak penyandang disabilitas dan langkah-langkah untuk mengembangkan masyarakat inklusif di Indonesia. Asia Timur dan Pasifik adalah rumah bagi 43,1 juta anak penyandang disabilitas, kedua setelah Asia Selatan dengan 64,4 juta anak penyandang disabilitas. Di Indonesia, perkiraan persentase dan jumlah anak penyandang disabilitas tampaknya belum menggambarkan situasi yang sebenarnya jika dibandingkan dengan situasi pada level regional dan global.  Tulisan ini mengkaji situasi anak-anak penyandang disabilitas pada enam pilar: pendidikan, kesehatan, gizi, air, sanitasi dan kebersihan, perlindungan anak dan perlindungan sosial. Analisis tersebut menemukan bahwa, meskipun kebijakan dan peraturan telah dikeluarkan untuk melindungi hak anak penyandang disabilitas agar mendapatkan manfaat dari layanan sosial, namun mereka masih mengalami ketidaksetaraan dibandingkan dengan anak-anak non disabilitas dalam hal akses dan pemanfaatan layanan sosial.  Untuk merespon hal ini, tulisan ini mengidentifikasi sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan inklusifitas bagi anak-anak penyandang disabilitas dalam mendapatkan manfaat dari layanan esensial. Hal ini dapat dicapai dengan peningkatan koordinasi kebijakan di semua tingkatan lembaga pemerintah untuk mempromosikan pendekatan sistem lintas sektor. Penting juga untuk memperkuat kapasitas lembaga pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mengoordinasikan kebijakan dan program intervensi untuk melindungi dan mendukung anak-anak penyandang disabilitas untuk berkembang secara setara dengan teman sebaya mereka yang tidak memiliki disabilitas. Keterbatasan kualitas data dan kesenjangan informasi tentang anak-anak penyandang disabilitas juga diidentifikasi sebagai hambatan bagi perumusan kebijakan dan implementasi program berbasis data yang diperlukan untuk memastikan kepentingan terbaik bagi anak-anak penyandang disabilitas di Indonesia. --- Dokumen hanya tersedia dalam Bahasa Inggris
22 Februari 2022

Dampak Sosial dan Ekonomi COVID-19 pada Rumah Tangga di Indonesia: Survei Monitoring Tiga Putaran

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan sosial dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Langkah-langkah pembatasan mobilitas telah membantu menekan penyebaran virus dan menyelamatkan nyawa, tetapi juga menciptakan krisis sosial-ekonomi bagi banyak keluarga Indonesia. Ketimpangan pendapatan telah meningkat selama pandemi sebagai guncangan ekonomi paling kuat yang berdampak pada rumah tangga termiskin dan paling rentan. Untuk memahami tantangan tersebut secara lebih mendalam, UNICEF, United Nations Development Program (UNDP), Australia Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera-DFAT) dan SMERU Research Institute melakukan serangkaian penilaian terhadap dampak COVID-19 pada dimensi sosial-ekonomi yang beragam termasuk pekerjaan, pendapatan, ketahanan terhadap guncangan, sekolah, jangkauan perlindungan sosial, dan akses ke imunisasi dan layanan kesehatan lainnya. Pada November 2020, survei representatif nasional dilakukan untuk memahami dampak sosial ekonomi COVID-19 terhadap rumah tangga dengan anak, perempuan, dan penyandang disabilitas. Antara Desember 2020 dan Januari 2021, tiga putaran survei cepat tambahan dilakukan dengan 2.400 rumah tangga yang sama dari survei awal, kali ini menggunakan Interactive Voice Response (IVR) bukan metode tatap muka yang awalnya digunakan. Survei-survei lanjutan ini memberikan gambaran bahwa di tengah upaya melanjutkan kegiatan ekonomi dan memulihkan ekonomi secara penuh, upaya pemulihan di tingkat rumah tangga di Indonesia tetap rapuh. Selama periode ini, setidaknya satu anggota dari setiap dua rumah tangga kehilangan pekerjaan. Sekitar 45 persen rumah tangga dengan anak-anak berjuang untuk menemukan makanan bergizi yang cukup untuk memberi makan keluarga mereka, kebanyakan makan dengan porsi lebih sedikit dari biasanya. Tantangan dalam belajar dilaporkan oleh sembilan dari sepuluh responden dengan anak usia sekolah.   Dokumen hanya tersedia dalam Bahasa Inggris.