Laporan Iklim Pertama oleh UNICEF dan Pemerintah Indonesia Menyerukan Aksi Terarah untuk Melindungi Anak-Anak

08 Agustus 2024
A goes to school through a flooded sidewalk
UNICEF/UN0735416/Wilander

Jakarta, 8 Agustus 2024 – UNICEF dan Pemerintah Indonesia merilis laporan inovatif yang mengkaji dampak perubahan iklim yang semakin parah terhadap anak-anak di Indonesia dan menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan kebijakan dan program iklim yang berfokus pada anak-anak.

Laporan berjudul Climate Landscape Analysis for Children, yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan UNICEF, mengungkap kesenjangan yang signifikan, dan menemukan bahwa banyak kebijakan, undang-undang, peraturan, dan rencana sektor sosial mengabaikan dampak perubahan iklim dan tidak mencakup tindakan yang berfokus pada anak untuk mengatasi perubahan iklim.

Laporan tersebut menguraikan mengapa sangat mendesak untuk melindungi anak-anak dari dampak gangguan yang semakin sering terjadi yang disebabkan oleh peristiwa cuaca ekstrem, termasuk kekeringan dan banjir, dan dari perubahan iklim jangka panjang seperti kenaikan suhu dan permukaan laut.

Gangguan ini memengaruhi layanan sosial penting yang menjadi sandaran anak-anak, seperti pendidikan, kesehatan dan air, sanitasi, dan kebersihan. Gangguan-gangguan tersebut mengurangi akses anak-anak terhadap makanan bergizi, yang dapat turut berpengaruh terhadap tantangan malnutrisi di Indonesia, dan juga berkontribusi terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air dan vektor.

Laporan baru tersebut juga menguraikan biaya ekonomi yang signifikan dari perubahan iklim, memperkirakan potensi pengurangan PDB Indonesia hingga 3,45% pada tahun 2050, dengan dampak yang tidak proporsional pada masyarakat termiskin.

Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 163 negara pada Indeks Risiko Iklim Anak yang dikeluarkan oleh UNICEF. Hal ini menunjukkan kerentanan tinggi anak-anak terhadap tekanan lingkungan dan peristiwa cuaca ekstrem. Sebagian besar anak di Indonesia terpapar polusi udara, sementara itu diestimasikan 28 juta anak terpapar banjir pesisir, dan 15 juta anak terpapar gelombang panas.

“Hak setiap anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat semakin terancam oleh dampak parah perubahan iklim di seluruh dunia dan di Indonesia,” kata Maniza Zaman, Perwakilan UNICEF Indonesia. “Sangat penting untuk mendidik anak-anak tentang perubahan iklim, melibatkan mereka dalam menciptakan solusi, dan menempatkan mereka di pusat semua aksi iklim.”

Laporan tersebut mengusulkan enam strategi untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dalam kebijakan dan program terkait iklim:

  • Mengintegrasikan hak-hak anak dalam kebijakan, program, dan keputusan pendanaan terkait iklim
  • Meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan masyarakat termasuk anak-anak untuk mengatasi dampak iklim dalam kebijakan dan program yang terkait dengan isu-isu iklim, lingkungan, dan energi serta sektor sosial.
  • Menghasilkan pengetahuan dan bukti tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.
  • Meningkatkan ketahanan layanan dan fasilitas sosial untuk menahan gangguan iklim dan terus melayani anak-anak dan keluarga.
  • Memastikan anak-anak dan kaum muda mendapatkan pendidikan tentang perubahan iklim dan menciptakan kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam aksi iklim dan lingkungan.
  • Meningkatkan pengumpulan data iklim dan sistem peringatan dini.

Kontak Media

Kinanti Pinta Karana
Spesialis Komunikasi
UNICEF Indonesia
Tel: +62 8158805842

Tentang UNICEF

UNICEF mempromosikan hak-hak dan kesejahteraan setiap anak melalui setiap kegiatannya. Bersama dengan para mitra, kami bekerja di lebih dari 190 negara dan wilayah untuk mengubah komitmen itu menjadi aksi nyata dengan fokus untuk menjangkau anak yang paling rentan dan paling terpinggir, demi semua anak, di mana pun mereka berada.

Untuk informasi lebih jauh tentang UNICEF dan kerja-kerjanya untuk anak, silakan kunjungi www.unicef.org.

Ikuti UNICEF di Twitter and Facebook