Kenali Faktor Risiko yang Dapat Menyebabkan Balita Mengalami Wasting (Gizi Kurang dan Gizi Buruk)
Wasting (gizi kurang dan gizi buruk) berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan balita, serta potensi mereka saat dewasa. Ayo kenali faktor-faktor risiko yang menyebabkan balita mengalami wasting.
Wasting (gizi kurang dan gizi buruk) berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan, sehingga anak wasting berisiko 3 (tiga) kali lebih tinggi menjadi stunting dibandingkan anak dengan gizi baik.
Salah satu upaya pencegahan wasting adalah melakukan deteksi dini wasting pada anak. Orang tua/pengasuh dapat melakukan 3 cara deteksi dini wasting secara mandiri di rumah dengan cara mengidentifikasi balita tampak kurus, rutin mengukur LiLA (lingkar lengan atas), dan mengecek bengkak pada kedua punggung kaki. Selain upaya pencegahan melalui deteksi dini, perlu diketahui bahwa ada beberapa kondisi yang menjadikan anak balita memiliki risiko mengalami wasting.
Faktor Risiko Wasting
Penting bagi para orang tua dan pengasuh—serta semua anggota masyarakat untuk memahami penyebab wasting dan faktor risikonya. Pemahaman ini memungkinkan pencegahan dan deteksi dini wasting dapat dilakukan dengan baik, sehingga balita dapat terhindar wasting dan bila telah mengalami wasting, maka kondisinya tidak memburuk.
Faktor-faktor yang membuat balita berisiko mengalami wasting adalah:
Bayi yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
BBLR adalah istilah yang digunakan pada bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dapat terjadi pada bayi yang lahir kurang bulan (prematur) atau bayi lahir cukup bulan namun mengalami hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan.
Upaya-upaya untuk mencegah agar tidak terjadi bayi lahir prematur atau BBLR sangatlah penting, seperti pemenuhan zat gizi untuk ibu selama masa kehamilan (termasuk secara rutin minum tablet tambah darah), rutin memeriksakan kehamilan ke puskesmas atau rumah sakit, dan menerapkan pola hidup sehat (termasuk tidak merokok atau menghindar dari paparan asap rokok).
Bayi lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami wasting karena organ tubuh dan fungsinya belum berkembang optimal seperti halnya bayi yang lahir normal, termasuk sistem pencernaan, pernafasan, dan daya tahan tubuh, sehingga mereka mengalami kesulitan menyusu, penyerapan zat gizi, dan mudah mengalami infeksi.
2. Anak dengan disabilitas
Masalah gizi, seperti wasting, dan disabilitas sangat erat kaitannya. Anak-anak dengan disabilitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah gizi, dan sebaliknya masalah gizi dapat menyebabkan atau berkontribusi pada terjadinya disabilitas.
Anak yang lahir dengan atau mengalami disabilitas setelah lahir berisiko masalah gizi dikarenakan beberapa hal berikut ini:
- Kesulitan makan dan/atau menelan, di mana hal ini menyebabkan gangguan makan dan minum dengan aman. Bahkan, pada beberapa kondisi diperlukan modifikasi diet (misalnya hanya bisa mengonsumsi makanan cair), sehingga dapat berdampak pada kecukupan asupan zat gizi.
Kondisi ini dapat ditemukan pada anak-anak dengan disabilitas, seperti bibir sumbing (celah bibir dan/atau celah langit-langit), penyakit jantung bawaan, cerebral palsy, sindroma Down dan Austism Spectrum Disorder (ASD).
Sebagai contoh pada anak dengan disabilitas fisik, seperti anak yang terlahir dengan bibir sumbing maupun celah pada langit-langit mulut akan sulit menelan makanan. Pada kondisi ini, pemberian ASI maupun makanan padat dengan cara biasa justru akan meningkatkan risiko tersedak yang akan lebih berbahaya bagi anak. Untuk itu pemberian makan harus dengan bantuan khusus yang telah dikonsultasikan dengan tenaga medis. - Gangguan sensorik yang berdampak satu atau lebih indra manusia, dan bila gangguan ini terjadi pada indera yang penting untuk proses makan, seperti indera penciuman, pengecap dan perasa, maka akan mengubah kesukaan atau ketidaksukaan terhadap makanan tertentu (misalnya pada rasa atau tekstur makanan tertentu). Contoh pada anak dengan disabilitas mental, seperti autisme, umumnya akan dijumpai kondisi hipersensitivitas atau ketidaknyamanan sensorik pada bentuk atau tekstur makanan tertentu. Akibatnya, diperlukan strategi dalam pemberian makan yang didampingi dengan terapi khusus untuk perbaikan hipersensitivitasnya.
- Kesulitan dalam mengolah emosi dan perilaku pada anak dengan disabilitas mental sehingga ada kondisi-kondisi, seperti mudah terdistraksi atau terstimulasi, terjadi penolakan terhadap makan atau adanya perilaku agresif, yang berdampak pada pola makan.
- Pengetahuan orang tua/pengasuh terkait kebutuhan gizi dan keterampilan dalam menyiapkan makanan khusus bagi anak dengan disabilitas, di mana hal ini dapat berdampak pada kecukupan asupan gizi anak.
Perlu diingat bahwa setiap anak balita dengan disabilitas memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penting dilakukan pemeriksaan lengkap oleh tenaga kesehatan terkait agar tata laksana, termasuk pemenuhan asupan zat gizi yang diberikan tepat untuk masing-masing anak tersebut.
3. Bayi yang lahir dari ibu berusia remaja
Kehamilan di usia remaja berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental psikologis remaja dan anak yang dilahirkan. Kehamilan remaja meningkatkan risiko bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), perdarahan persalinan dan risiko kematian ibu dan bayi.
Pada masa pubertas, terjadi peningkatan kebutuhan gizi dikarenakan percepatan pertumbuhan dan perubahan fisik serta fungsional tubuh anak remaja.
Saat remaja putri hamil maka asupan zat gizi tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga digunakan untuk pemenuhan kebutuhan gizi janin yang dikandung.
Sehingga dengan adanya kompetisi kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan ibu remaja dan janin yang dikandung, maka hal ini meningkatkan risiko kelahiran bayi BBLR. Dan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bayi BBLR berisiko lebih tinggi mengalami wasting.
Selain faktor asupan gizi, risiko wasting dan masalah gizi dapat disebabkan juga oleh beberapa faktor lain, seperti kesiapan, pengetahuan dan keterampilan ibu remaja dalam mengasuh anak. Seringkali pula kehamilan pada usia remaja berdampak pada kesehatan fisik dan mental ibu remaja, yang juga mempengaruhi kemampuan mereka dalam pemberian makan dan pengasuhan anak.
Seringkali juga, kehamilan pada usia remaja menyebabkan hilangnya kesempatan remaja putri untuk menempuh pendidikan lanjut dan bekerja mendapatkan penghasilan yang layak. Sehingga dapat membatasi kemampuan ibu remaja dalam memberikan makanan bergizi, sehat dan aman dengan jumlah dan kualitas yang sesuai kebutuhan anak balitanya.
Oleh karena itu, kehamilan remaja meningkatkan risiko wasting dan masalah gizi lain, dan mencegah kehamilan remaja akan berkontribusi dalam memutus mata rantai masalah gizi.
4. Bayi yang lahir dari Ibu dengan masalah gizi
Status gizi ibu selama masa kehamilan memiliki dampak langsung terhadap kesehatan dan pertumbuhan bayi, termasuk risiko terjadinya wasting pada balita. Masalah gizi pada ibu hamil, seperti kurang energi kronis (KEK) atau anemia, dapat menyebabkan berbagai komplikasi selama kehamilan, termasuk kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kurang energi kronis terjadi bila kebutuhan gizi ibu hamil tidak tercukupi baik secara jumlah dan kualitas.
Di sisi lain, anemia pada ibu hamil, yang sering disebabkan oleh kekurangan zat besi, juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya wasting pada balita. Anemia dapat menyebabkan kurangnya asupan zat gizi ke janin, yang berujung pada risiko kelahiran prematur dan BBLR.
Pentingnya intervensi gizi sejak dini, termasuk mencukupi asupan gizi bagi ibu hamil baik secara jumlah dan kualitas, menjadi kunci dalam mencegah wasting pada balita. Hal ini menekankan bahwa kesehatan gizi pada masa awal kehidupan, mulai dari kandungan hingga tahun-tahun awal pertumbuhan, berperan penting dalam menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan.
5. Anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi kurang
Wasting dapat terjadi pada semua anak, baik dari keluarga mampu atau kurang mampu. Namun anak-anak dari keluarga kurang mampu lebih rentan mengalami wasting dan masalah gizi lain.
Banyak faktor yang meningkatkan kerentanan anak-anak dari keluarga kurang mampu mengalami wasting, termasuk akses ke informasi terkait pemberian makan dan pengasuhan anak, akses ke makanan bergizi, akses ke layanan kesehatan dan gizi, serta akses ke sumber air minum dan sanitasi yang sehat.
6. Sulit atau tidak adanya akses ke layanan kesehatan
Fasilitas layanan kesehatan seperti posyandu dan puskesmas memegang peran penting dalam mendukung kesehatan dan gizi anak. Sulit atau tidak adanya akses ke layanan kesehatan merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko anak wasting.
Bagi anak-anak yang tinggal jauh dari fasilitas layanan kesehatan, dengan keterbatasan atau mahalnya biaya transportasi, tantangan menjadi lebih besar. Tidak hanya sulit dalam memantau kondisi tumbuh kembang mereka secara rutin, tetapi juga akses terhadap layanan kesehatan yang cepat dan tepat ketika anak sakit menjadi terbatas. Hal ini menempatkan anak-anak tersebut dalam risiko yang lebih tinggi terhadap masalah kesehatan serius, termasuk wasting, yang memerlukan penanganan segera.
Dengan memahami faktor-faktor risiko wasting, orang tua/pengasuh dan anggota masyarakat lain diharapkan dapat lebih menyadari dan bisa melakukan upaya pencegahan wasting. Dampak wasting pada anak sangatlah besar dan tidak boleh disepelekan.
Mari, pantau terus tumbuh kembang anak secara rutin di posyandu dan segera bawa ke puskesmas bila anak sakit.
Simak juga informasi lebih lanjut mengenai wasting dan bagikan informasi seputar wasting kepada lingkungan dan orang-orang terdekat.
Ayo, cegah dan obati wasting, biar ga stunting.