Anak-anak di Jawa menyampaikan kekhawatiran dan aspirasi mereka kepada pemangku kebijakan
Dalam dialog virtual yang menitikberatkan pada suara anak, anak dan remaja berbicara secara langsung dengan pejabat pemerintah tentang tantangan yang mereka hadapi dan usulan solusi
- English
- Bahasa Indonesia
Sebagaimana begitu banyak anak di seluruh Indonesia, Hetin, 12, juga mencemaskan kemungkinan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan berlanjut untuk tahun ketiga akibat pandemi COVID-19.
“Saya tidak yakin akan bisa mengikuti pelajaran perkalian saat masuk SMP tahun depan,” katanya.
Hetin tidak sendiri. Aryo, 11 tahun, dan teman-teman sekelasnya, juga merasa kesulitan mengikuti PJJ serta berharap kelas dapat berjalan lebih interaktif. Kehawatiran Hetin dan Aryo mewakili situasi nyata yang harus dihadapi oleh jutaan pelajar di Indonesia yang belum dapat kembali ke ruang kelas sejak Maret 2020 akibat COVID-19 dan kebijakan pembatasan sosial.
Dalam acara Mendengar dan Menjawab Suara Anak: Aku dan Suaraku Adalah Masa Depanku yang diselenggarakan secara virtual pada 19 Agustus 2021, Aryo and Hetin akhirnya berkesempatan menyampaikan permasalahan mereka secara langsung kepada pejabat pemerintah.
Diselenggarakan oleh Akatara Jurnalis Sahabat Anak dan UNICEF, acara tersebut mengundang 40 anak dari Provinsi Jawa Timur untuk turut serta dalam dialog yang menjadikan anak sebagai narasumber utama. Anak-anak yang hadir pun memiliki latar belakang beragam, meliputi anak-anak dari kawasan kota dan perdesaan, anak dengan disabilitas, dan anak yang tidak bersekolah.
Dibagi ke dalam beberapa sesi, para peserta menceritakan pengalaman mereka menghadapi pandemi COVID-19 kepada pejabat dari Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tingkat provinsi.
PJJ yang penuh dengan tantangan akibat koneksi internet yang tidak memadai, keterbatasan ketersediaan gawai dan literasi digital, dan orang tua yang tidak selalu dapat mendampingi anak, mendorong para peserta untuk meminta dukungan dan bantuan yang lebih baik. Nadhiva, 12 tahun, menyatakan tidak punya tempat bertanya jika mengalami kesulitan dengan pelajaran karena kedua orang tuanya harus bekerja pada jam yang sama ketika ia bersekolah.
Dr. Andriyanto, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, menyatakan ia memahami kesulitan Nadhiva. Ia juga mengutip hasil survei yang menunjukkan bahwa hanya 3 dari 10 anak (36 persen) yang mendapatkan pendampingan dari orang tua selama melakukan PJJ pada masa pandemi.
“Kami mendengar dan mencatat curhatan dari adik-adik, jangan khawatir,” kata Dr. Andriyanto kepada para peserta.
Ia juga mendorong para pelajar untuk menjadi agen perubahan dan menunjukkan dukungan kepada teman-teman mereka pada masa pandemi. “Interaksi dengan guru dan teman-teman penting sekali, agar kita tidak merasa sendirian,” tambahnya.
Setelah sesi interaktif, anak-anak mendapat kesempatan bertanya dan memberikan saran kepada para pemangku kebijakan. Rania, 15 tahun, yang mewakili pelajar SMP, berharap langkah penanggulangan COVID-19 dapat lebih berorientasi kepada kebutuhan anak, dan agar orang dewasa dapat lebih membantu anak untuk beradaptasi.
Sementara itu, Ratu, 17 tahun, mengangkat dampak terselubung pandemi terhadap anak-anak, khususnya peningkatan anak yang terpapar risiko perwakinan usia anak. Ia pun meminta agar pendidikan seksual ditingkatkan. “Pendidikan seksual perlu diadakan,” jelasnya. “Kami berhak mendapatkan pelajaran tentang kesehatan reproduksi agar kami paham risiko-risiko yang terakit.”
Pada akhir acara, Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. Emil Dardak menyampaikan pesan kepada semua peserta. Ia menekankan pentingnya bekerja sama dengan anak.
“Sebagai orang dewasa, kita tidak boleh meremehkan pandangan dari anak-anak yang masih kecil sekalipun,” ujarnya dalam tayangan video. “Ada pengalaman anak yang tidak bisa sepenuhnya kita pahami, maka kita harus selalu memasang telinga kita untuk mendengarkan aspirasi anak-anak dan memberikan mereka kesempatan untuk terlibat di dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka.”
Sebagai wujud komitmen itu, Dr. Emil menandatangani pernyataan janji untuk selalu mendengar dan menjadikan suara anak-anak sebagai landasan untuk mewujudkan kota layak anak, termasuk dalam penanganan pandemi COVID-19.
Rizky, 17 tahun, fasilitator muda yang menjadi pemandu acara tidak dapat menutupi kegembiraannya setelah menyimak dialog yang berlangsung antara anak, remaja, dan pemerintah setempat.
“Saya terharu, bukan hanya karena menyaksikan respons dan komitmen pemerintah, tetapi juga melihat anak-anak yang berani, penuh inisiatif, dan kreatif dalam menyampaikan suara mereka,” kata Rizki dalam pernyataan penutupnya. “Kita telah menyaksikan pemerintah menandatangani komitmen mereka, kini waktunya kita terus menyuarakan hak-hak kita.”