Tangguh berkembang: Remaja Jawa Tengah menyambut kesehatan jiwa
Program kesehatan jiwa berbasis sekolah mendukung kesehatan jiwa dan kesejahteraan
- English
- Bahasa Indonesia
Suatu pagi yang lengang di Rembang, Jawa Tengah, matahari menyinari ladang padi. Namun di tengah pemandangan yang damai itu, ada pergulatan dalam kebisuan. Ada anak dan remaja yang berjuang menghadapi masalah kesehatan jiwa seorang diri.
Tata, 17 tahun, merasakan tekanan batin karena ia dikucilkan saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Saya didiagnosis menderita depresi. Saya bisa pingsan hingga tiga kali seminggu. Waktu itu saya sering merasa gugup,” kata Tata.
Di awal masa Sekolah Menengah Atas (SMA), seorang siswa merundung Tata dan merusak sepeda motor milik Tata. Meski merasa kecewa, pikiran untuk balas dendam atau membalas tindakan itu dengan kekerasan tidak pernah terbersit dalam benak Tata. Ia memilih untuk menyimpan penderitaan dan kesedihannya seorang diri.
Tata mulai belajar tentang dukungan kesehatan jiwa dan psikososial (DKMP) dari guru-guru terlatih yang penuh semangat dan siap membantunya ketika sekolahnya mengintegrasikan Program Kesehatan Jiwa di Sekolah (terintegrasi dengan UKS) dengan semboyan: "Remaja Sehat Jiwa Ceria" yang didukung oleh Kementerian Kesehatan dan UNICEF. Saat itu, Tata yang merasa terkucilkan dan kesepian karena perundungan yang ia alami merasa mendapat dukungan hingga ia merasa yakin untuk membuka diri dan menerima bantuan psikososial yang ia butuhkan.
Feby, seorang remaja puteri berusia 16 tahun yang juga berasal dari Rembang, selama ini berjuang melawan kecemasan seorang diri karena intimidasi dari sekelompok siswa di sekolahnya. “Selama bertahun-tahun, saya diintimidasi oleh teman-teman saya sendiri dan saya tidak pernah mengatakan sepatah kata pun kepada siapa pun, bahkan kepada orang tua saya,” ujar Feby. Stres yang menumpuk akibat mengalami perundungan setiap hari akhirnya memburuk menjadi ketakutan. Feby merasa takut jika harus bertemu orang baru sehingga ia selalu menghindari keramaian.
Ketika program DKMP diluncurkan di sekolahnya, Feby mendapatkan pemeriksaan kesehatan jiwa dan pendidikan kesehatan. Ia pun mendapat ruang untuk berbagi keluh kesahnya selama ini. “Melalui Ssurvei Mawas Diri (SMD) ini, saya percaya sekolah kini dapat mengetahui bahwa setiap siswa sangat mungkin memiliki masalahnya sendiri-sendiri dan mereka butuh seseorang untuk tempat bercerita,” ungkapnya.
Melalui dukungan dari tenaga kesehatan, pihak sekolah dan para guru, Feby menemukan semangat dan tujuan hidup baru.
“Setiap kali kamu punya masalah, cerita deh sama teman atau seseorang yang bisa kamu percayai. Bisa teman, keluarga, petugas kesehatan atau guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah. Waspadai kesehatan jiwa agar kamu bisa menikmati hidup.”
Masa depan yang lebih tangguh
Kesehatan jiwa di kalangan remaja di Indonesia semakin memprihatinkan. Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional tahun 2022 menemukan bahwa lebih dari 1 dari 5 remaja mengalami masalah kecemasan. Jika tidak ditangani dengan baik oleh tenaga profesional, hal ini dapat mengarah kepada perilaku menyakiti diri sendiri. Studi yang sama menemukan bahwa 4,4 persen remaja mencoba menyakiti diri sendiri, sementara 1,2 persen berpikir untuk mengakhiri hidup.
UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa pada remaja. Program DKMP berbasis sekolah – yang diterapkan di 22 sekolah di seluruh Indonesia – bertujuan untuk memastikan deteksi dini pada remaja melalui pemeriksaan rutin. Pemeriksaan ini menunjukkan adanya atau potensi masalah kesehatan jiwa di kalangan peserta didik, yang dapat membantu menentukan pengobatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Di Rembang, program ini menunjukkan dampak yang positif. “Program penjaringan kesehatan (penjarkes) membantu kami mendeteksi dan mengidentifikasi siswa yang mungkin memerlukan perawatan khusus. Konselor sekolah kemudian dapat memberikan bantuan dan pendampingan sebagaimana yang diperlukan,” kata Ibu Endang, Kepala Sekolah SMAN 1 Rembang, tempat Tata bersekolah.
Program Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKMP) telah dilaksanakan di lima provinsi di Indonesia (Aceh, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan) dengan fokus kepada perawatan kesehatan jiwa remaja. Salah satu kegiatan itu antara lain intervensi pencegahan bunuh diri dan pendidikan kesehatan jiwa di sekolah-sekolah. Program ini juga memberikan pelatihan kesehatan jiwa bagi para guru dan tenaga kesehatan guna meningkatkan pengetahuan mereka mengenai pentingnya kesehatan jiwa di lingkungan sekolah.
“Dengan berjalannya program DKMP, saya berharap semua orang, dari petugas kesehatan, guru BK, hingga orang tua, dapat berkolaborasi untuk menemukan solusi atas permasalahan kesehatan jiwa yang menimpa siswa. Saya berharap program ini terus berlanjut, sehingga anak-anak tidak takut untuk bersuara tentang kesehatan jiwanya,” kata Rehulina, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kabupaten Rembang.
“Siapa pun yang masih berjuang dengan kesehatan jiwa dan telah mencari bantuan, cobalah terbuka dan bercerita mengenai apa yang kamu alami kepada orang lain. Bantu diri kamu dengan menceritakan masalahmu kepada orang, mungkin kepada teman, keluarga, atau psikiater. Tetap semangat dan tetap ceria selalu."