Anak Menjadi Pemimpin Dalam Program Inovatif “Petualangan Bergizi” di Sekolah
Para Kapten Bergizi muda di Jawa Tengah mengatasi obesitas melalui edukasi gizi yang menarik
- English
- Bahasa Indonesia
Di Semarang, Jawa Tengah, kota dengan prevalensi obesitas anak yang tinggi, pola makan Kenzo yang berusia sepuluh tahun dulu tidak berbeda dari banyak teman-temannya di sekolah—ia kerap mengonsumsi kudapan tidak sehat, yang tidak mengandung gizi esensial. “Saya tidak tahu kalau makan sayur dan minum air putih yang cukup setiap hari itu penting,” Kenzo mengaku.
Pola makan Kenzo berubah setelah ia menjadi Kapten Bergizi di sekolahnya melalui program Petualangan Bergizi UNICEF. Sebagai inisiatif baru di bidang gizi, program ini hendak membina perilaku sehat dan memperbaiki lingkungan makanan di sekolah-sekolah dasar dengan memanfaatkan program yang telah ada di sekolah, yakni Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M).
Di sekolah Kenzo, setiap kelas menunjuk dua Kapten Bergizi yang bertugas membantu kegiatan edukasi gizi melalui permainan yang menarik. “Setiap kali memimpin Petualangan Bergizi, saya rasanya tambah sehat. Saya bisa berbagi informasi dengan teman, dan sekarang saya pilih makanan tanpa penguat rasa,” kata Kenzo dengan bangga.
"Saya mengajak teman untuk bergaya hidup sehat dengan menjelaskan manfaat vitamin dan risiko makanan junk food, seperti mengganggu konsentrasi di kelas dan kesehatan kita,” ujar Khanza, yang juga ditunjuk menjadi Kapten Bergizi.
Memberdayakan Pemimpin Muda di Bidang Gizi
Petualangan Bergizi merespons isu kesehatan masyarakat yang mengemuka di Indonesia, yaitu kelebihan berat badan dan obesitas. Isu ini menambah deretan isu lain, khususnya kurang gizi dan kekurangan mikronutrien, yang telah sejak lama berdampak buruk terhadap kondisi gizi anak. Kelebihan berat badan dan obesitas sendiri diperkirakan dialami oleh hampir satu juta anak balita, satu dari lima anak usia 5—12 tahun, dan satu dari tujuh remaja usia 13—18 tahun.
Secara nasional, sekitar 56 persen anak usia 5—19 tahun mengonsumsi lebih dari satu minuman berpemanis dalam sehari. Yang lebih memprihatinkan, dari kelompok usia yang sama, hanya 2,3 persen anak dengan konsumsi buah dan sayur harian yang cukup (lima porsi sehari).
Diluncurkan pertama kali di Kota Tegal pada 2023, pada tahun 2024 Petualangan Bergizi diperluas ke tiga daerah lain di Jawa Tengah, yaitu Semarang, Solo, dan Kudus. Program ini hendak menjangkau lebih dari 1.000 pelajar kelas empat di 20 sekolah dasar.
Di Jawa Tengah, terdapat 21,3 persen anak usia 5—12 tahun yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Pada saat yang sama, masalah malnutrisi lain seperti stunting dan wasting juga masih meluas. Hampir 63 persen anak di atas tiga tahun mengonsumsi lebih dari satu minuman berpemanis per hari. Angka anak di atas lima tahun dengan konsumsi buah dan sayur harian rendah pun tinggi, yakni sedikit di atas 96 persen.
Program Petualangan Bergizi memiliki beberapa intervensi inovatif untuk mengatasi malnutrisi, termasuk edukasi gizi yang komprehensif, skrining kesehatan, sosialisasi kantin sehat sekolah, dan proyek kebun sekolah. Melalui kegiatan interaktif seperti acara sarapan sehat bersama dan berkebun, murid diajak berkenalan langsung dengan sumber-sumber makanan mereka dan belajar tentang pentingnya pola makan berimbang serta aktivitas fisik.
Program ini juga ingin mengubah secara signifikan lingkungan makanan di sekolah dengan menjadikan pilihan makanan sehat, seperti buah dan sayur serta air minum aman, lebih mudah diakses dan terjangkau harganya.
Pendekatan ini sudah memberikan pengaruh positif kepada pemahaman murid tentang gizi dan membantu mereka membuat pilihan yang lebih bijaksana. “Saya banyak belajar dari permainan gizi. Makan sehat jadi menyenangkan,” kata Ayla, 10 tahun, yang juga murid di sekolah Kenzo. “Biasanya, mama yang menyiapkan sarapan, tapi hari ini saya bantu siapkan nasi, ayam, dan tempe.”
Bersama, Membangun Masa Depan yang Lebih Sehat
Program tersebut juga membekali kader kesehatan dengan kemampuan untuk memberikan dukungan khusus kepada anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan, termasuk keterampilan memberikan konseling gizi dan psikologi. Sinta Wati dari Dinas Kesehatan Semarang berpendapat, “Melalui kolaborasi yang baik dengan UNICEF, kami sudah melihat hasil nyata. Mudah-mudahan, program ini bisa diadakan di lebih banyak sekolah.”
Saat ini, Petualangan Bergizi sedang diuji coba melalui kemitraan global antara UNICEF dengan Novo Nordisk. Kerja sama ini mendukung upaya-upaya UNICEF di Indonesia untuk memperbaiki lingkungan makanan sehingga mendorong asupan gizi yang lebih baik pada anak serta mencegah beban kesehatan yang kini kian meningkat di Indonesia akibat kondisi kelebihan berat badan dan obesitas.
Uji coba di atas dijadwalkan berlangsung hingga November 2024. Setelah fase uji coba selesai, UNICEF akan mendukung Pemerintah Indonesia untuk memperluas cakupan intervensi ke sekolah dan kota/kabupaten lain di Jawa Tengah, kemudian ke provinsi-provinsi lain mulai dari tahun 2025.
Kenzo senang menjadi bagian dari suatu gerakan yang tidak terbatas di sekolahnya saja. “Dengan belajar dan berbagi informasi tentang kebiasaan sehat, yang berubah tidak hanya diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar.”