Perubahan Gizi yang Lebih Baik untuk Ibu Hamil di Jawa Timur

Program Suplementasi Makanan Berbasis Pangan Lokal Menyediakan Makanan dan Layanan Gizi untuk Ibu Hamil yang Kekurangan Gizi

-
UNICEF Indonesia
24 Januari 2025

Ketika fajar pertama menyelinap ke rumahnya, Titis sudah sibuk dengan jahitan. Dengan kehamilan anak kedua dan usia kehamilan sembilan bulan, Titis mengisi hari dengan beragam aktivitas di desanya di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meskipun gerakannya terbatas.

Ketika melakukan pemeriksaan awal kehamilan di Puskesmas, Titis diberitahu petugas kesehatan bahwa hasil pengukuran lingkar lengan atasnya lebih kecil dari semestinya dimana ini adalah indicator penting untuk status gizi ibu hamil. Titis didiagnosa mengalami kekurangan gizi. 

Diagnosa tersebut membuatnya khawatir. Selama kehamilan, Titis tidak mendapat informasi yang benar tentang makanan apa saja yang dibutuhkannya. “Saya (malah) diberitahu bahwa saya tidak boleh makan ikan dan berbagai makanan bergizi lainnya,” jelasnya. 

Novia, age 21, who is 17 weeks pregnant with her first child, together with her husband, Aji, at an ultrasound session as part of an integrated antenatal care visit at Puskesmas Pranggang, Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722414/Chair Novia, usia 21 tahun, yang sedang hamil 17 minggu dengan anak pertamanya, bersama suaminya, Aji, pada sesi USG sebagai bagian dari kunjungan antenatal terpadu di Puskesmas Pranggang, Kediri, Jawa Timur.

Di desa tetangga, Novi menghadapi tantangan yang berbeda. Pada usia kehamilan tiga bulan,  ia makan sangat sedikit. “Sulit baginya untuk makan,” kata suaminya Aji, yang sangat khawatir. “Saya harus terus membujuknya, tetapi sering kali dia memuntahkan semuanya.”

Novi didiagnosis mengalami kekurangan energi kronis akibat jumlah makanan bergizi yang dikonsumsi tidak mencukupi. Gejala ini dapat menyebabkan masalah kesehatan fatal bagi ibu dan janinnya.

Farida, Coordinator Midwife at Puskesmas Pranggang, Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722285/Chair Farida, Koordinator Bidan di Puskesmas Pranggang, Kediri, Jawa Timur.

“Memastikan ibu-ibu menghadiri kunjungan pemeriksaan kehamilan wajib menjadi hal yang sangat menantang,” jelas Farida, Koordinator Bidan di Puskesmas Pranggang di Kediri. “Ini mempengaruhi pemahaman mereka tentang kehamilan dan gizi,” tambahnya.

Farida, Midwife Coordinator at Puskesmas Pranggang

Di seluruh Jawa Timur, banyak ibu hamil menghadapi masalah serupa. Banyak warga yang mempercayai pengetahuan setempat, yang seringkali berisi mitos, dibandingkan datang secara rutin untuk memeriksakan kehamilan kepada tenaga kesehatan.

“Memastikan ibu-ibu menghadiri kunjungan pemeriksaan kehamilan wajib menjadi hal yang sangat menantang,” jelas Farida, Koordinator Bidan di Puskesmas Pranggang di Kediri. “Ini mempengaruhi pemahaman mereka tentang kehamilan dan gizi,” tambahnya.

Selama kehamilan, kebutuhan energi dan gizi seorang perempuan meningkat secara signifikan. Menurut Survei Kesehatan Indonesia, pada 2023 hampir 20 persen ibu hamil di Jawa Timur didiagnosa mengalami kekurangan energi kronis. Angkanya jauh melebihi rata-rata nasional, yaitu sebesar 16,9 persen.

Gizi ibu yang buruk dapat menyebabkan komplikasi serius seperti anemia, pre-eklampsia, dan bahkan kematian ibu dan bayi. Ini juga dapat menyebabkan berat badan lahir rendah, keterlambatan perkembangan, dan masalah kesehatan lain. Konsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya gizi seperti yodium, zat besi, asam folat, kalsium, dan seng sangat penting bagi ibu hamil.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi dan meningkatkan kesehatan bagi ibu dan bayi, Kementerian Kesehatan meluncurkan Program Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal pada tahun 2022. Dengan dukungan dari UNICEF, penguatan program PMT ini  ini telah dilaksanakan di tiga kabupaten di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Kediri pada tahun 2024.

Titis dan Novi merupakan penerima manfaat dari program tersebut. Keduanya didaftarkan oleh petugas kesehatan setempat untuk menjadi penerima dalam program penyediaan makanan bergizi harian. Program ini menyasar ibu hamil kekurangan gizi, yang diberi makanan tambahan selama 120 hari.

Program Makanan Tambahan berbasis pangan lokal tersebut memastikan bahwa semua makanan yang disediakan untuk ibu hamil yang kurang gizi dimasak menggunakan bahan pangan wajib terfortifikasi misalnya garam beryodium, tepung terigu dan minyak terfortifikasi.  Di beberapa area ada yang menggunakan beras terfortifikasi.  

Titis, age 28, who is 37 weeks pregnant, with her husband Sugeng, takes the Iron Folic Acid tablet at their home in Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722347/Chair Titis, usia 28 tahun, yang sedang hamil 37 minggu, bersama suaminya Sugeng, mengonsumsi tablet Asam Folat Besi di rumah mereka di Kediri, Jawa Timur.
Novia, age 21, who is 17 weeks pregnant with her first child, together with her husband, Aji, takes the Iron Folic Acid tablet at their home in Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722280/Chair Novia, usia 21 tahun, yang sedang hamil 17 minggu dengan anak pertamanya, bersama suaminya, Aji, mengonsumsi tablet Asam Folat Besi di rumah mereka di Kediri, Jawa Timur.

Ibu hamil juga mendapatkan manfaat dari layanan gizi essensial seperti Tablet Tambah Darah /Suplemen Multivitamin dan Mineral, Kelas Ibu Hamil dan konseling gizi. 

Titis, age 28, who is 37 weeks pregnant, with her husband Sugeng, learns about maternal nutrition from a video shared during a Mother Support Group session at their home in Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722276/Chair Titis, usia 28 tahun, yang sedang hamil 37 minggu, bersama suaminya Sugeng, belajar tentang gizi ibu dari video yang dibagikan selama sesi Kelompok Pendukung Ibu di rumah mereka di Kediri, Jawa Timur.

“Saya mendapatkan pengetahuan baru tentang apa yang harus saya makan, dan bagaimana menyiapkan makanan yang saya butuhkan. Yang menyenangkan adalah saya juga memiliki teman baru,” kata Titis dengan ceria. “Kami berdiskusi tentang kehamilan dan saling mendukung.”

Novia, age 21, who is 17 weeks pregnant with her first child, together with her husband, Aji, eats the local-based food supplementation for malnourished pregnant women (PMT lokal ibu hamil) provided by puskesmas health cadres in their home in Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722377/Chair Novia, usia 21 tahun, yang sedang hamil 17 minggu dengan anak pertamanya, bersama suaminya, Aji, menyantap suplemen makanan lokal untuk ibu hamil kekurangan gizi (PMT lokal ibu hamil) yang disediakan oleh kader kesehatan puskesmas di rumah mereka di Kediri, Jawa Timur.

Novi yang sebelumnya sering merasa kelelahan, telah mengalami peningkatan status gizi yang signifikan. “Sekarang makanan saya lebih bergizi dengan gizi seimbang dan pilihan menu beragam, dikombinasikan dengan zat besi dan asam folat untuk konsumsi harian,” jelasnya dengan percaya diri.

Romi (left), a Nutritionist at Puskesmas Pranggang, and her colleague deliver a presentation during a Mother Support Group session in a village hall in Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722411/Chair Romi (kiri), Ahli Gizi di Puskesmas Pranggang, dan rekannya menyampaikan presentasi selama sesi Kelompok Pendukung Ibu di balai desa di Kediri, Jawa Timur.

“Ibu-ibu sangat menyambut program ini,” kata Romi, tenaga gizi Puskesmas Pranggang di Kabupaten Kediri. “Mereka dengan antusias menunggu kunjungan kami untuk mengantarkan makanan dan memantau kehamilan mereka. Sangat mengharukan melihatnya.”

Program ini juga menyediakan pelatihan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan gizi dan mengelola program makanan tambahan dengan efektif.

Hingga saat ini, program gizi ibu ini telah memberi manfaat bagi lebih dari 56.000 ibu hamil di Kabupaten Kediri, Lumajang, dan Bondowoso. Secara nasional, inisiatif yang dipimpin pemerintah ini, dengan menggabungkan pemberian makanan tambahan dan layanan gizi ibu bertujuan untuk menjangkau 4,8 juta ibu hamil setiap tahun, dimana akan berkontribusi terhadap penurunan komplikasi kehamilan dan resiko kekurangan gizi pada bayi baru lahir.

Titis, age 28, who is 37 weeks pregnant, with her husband Sugeng, 28, in front of their home in Kediri, East Java.
UNICEF/UNI722351/Chair Titis, usia 28, yang sedang hamil 37 minggu, bersama suaminya Sugeng, 28, di depan rumah mereka di Kediri, Jawa Timur.

Titis dan Novi kini dapat merasakan kehamilan yang lebih sehat, sebagaimana ribuan ibu hamil lainnya yang terdaftar dalam program tersebut di Jawa Timur. “Tanpa bantuan dari Puskesmas, kami tidak akan memiliki banyak pengetahuan seperti saat ini,” kata Titis. “Kepada ibu hamil lain, saya sarankan untuk tidak ragu melakukan konsultasi dengan petugas kesehatan sebab lebih baik tahu daripada terus dalam kegelapan, semua demi bayi  dalam kandungan.

Embedded video follows
UNICEF/2025/Chair