Mengenal “Sharenting”

Dapatkan tips dari pakar seputar melindungi privasi anak di era digital

Child playing in the park with face covered with a 3D emoji
UNICEF/2025

Menjadi orang tua di era digital tidak mudah. Perkembangan media sosial, ponsel pintar, dan teknologi terasa jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan anak, dan tak orang tua tak selalu tahu cara menggunakan hal-hal ini dengan aman, meski niatnya baik.

Banyak orang tua atau pengasuh yang membagikan foto anak dan remaja karena mereka ingin agar kerabat dan teman bisa ikut merasakan momen bahagia yang mereka alami. Namun, kita perlu mengetahui risiko dari membagikan unggahan konten yang menampilkan anak di ranah daring, atau “sharenting”. 

Kami berdiskusi dengan seorang pakar sharenting, Stacey Steinberg, tentang cara-cara melindungi privasi anak di ranah daring, menghormati pandangan mereka, dan mengajarkan mereka konsep penting tentang persetujuan (consent).

Apa yang dimaksud dengan sharenting?

Stacey Steinberg: Menurut saya, sharenting merujuk kepada tindakan orang tua yang membahas anaknya dengan orang-orang di luar keluarga sendiri: unggahan di media sosial yang disertai foto, tulisan di blog tentang anak, video anak yang dikirimkan melalu platform seperti WhatsApp, dan lain-lain. 

"Ketika kita mengedarkan informasi di internet tentang anak tanpa menanyakan pendapatnya, artinya kita kehilangan kesempatan berharga untuk mengajarkan anak dan mencontohkan praktik konsep persetujuan (consent)"

Apa yang perlu diketahui orang tua dan pengasuh saat hendak menggunggah konten tentang anaknya di ranah daring?

Ada dua hal utama yang harus dipertimbangkan sebelum membagikan konten tentang anak-anak kita.

Pertama adalah risiko bahaya yang secara nyata dapat dialami anak akibat peredaran konten tentang dirinya di ranah daring. Contohnya, ada orang-orang dewasa yang ingin berinteraksi atau mencelakai anak seseorang setelah melihat konten tentang anak itu di internet. Di beberapa negara, ada pula “makelar data”, mereka mengumpulkan arsip digital tentang anak-anak kita berdasarkan informasi yang kita bagikan sendiri, kemudian dengan informasi itu memprediksi apa yang kira-kira akan dikatakan anak, atau masalah kesehatan apa yang mungkin dialami anak di masa depan.

Gambar-gambar palsu juga mengkhawatirkan. Gambar anak-anak kita terancam digunakan untuk tujuan ilegal atau jahat, yang bisa merugikan, atau digunakan seseorang untuk membuat meme yang viral dan memperlihatkan anak secara negatif. Untungnya, hal-hal ini, saat ini, tidak sering terjadi. Namun, kita juga tidak tahu akan seperti apa perkembangannya di masa depan, terlebih dengan kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (articial intelligence).

Risiko kedua adalah, ketika kita mengedarkan informasi di internet tentang anak tanpa menanyakan pendapatnya, artinya kita kehilangan kesempatan berharga untuk mengajarkan anak dan mencontohkan praktik konsep persetujuan serta menunjukkan bahwa kita menghargai privasi. 

Ketika anak memasuki usia yang memungkinkan dirinya menggunakan media sosial sendiri, kita ingin mereka juga menjaga privasi kita, dan tidak mengedarkan foto yang menurut kita tak perlu disebarkan. Kita juga ingin anak dapat menghormati privasi teman-temannya dan tahu bahwa mereka tidak boleh mengunggah foto anak atau orang dewasa lain tanpa persetujuan.

Bagaimana pandangan anak tentang sharenting?

Berapa pun usia kita, kita semua ingin punya otonomi. Kita semua menganggap citra diri penting, baik pada usia empat atau lima tahun ketika kita ingin memakai baju berwarna merah muda dan bukan ungu, atau ketika kita berusia 12 atau 13 tahun, dan kita ingin diketahui atau justru tidak mau diketahui sedang menggandeng tangan nenek. Untuk orang dewasa, ini mungkin masalah sepele, tetapi tidak untuk anak. Ketika anak merasakan sesuatu, perasaannya sangat kuat, dan kita perlu memberikan mereka ruang untuk mengekspresikan perasaan itu. Anak yang masih kecil tidak bisa memberikan persetujuan secara sadar tentang peredaran konten. Kitalah yang harus bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka jika mereka bisa diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya.

Selain itu, jika kita mengunggah konten tentang suatu kegiatan pada waktu yang terlalu dekat dengan berlangsungnya acara, dan kita menunjukkan kepada anak gambar atau video yang kita rekam, saya sedikit khawatir tindakan ini berefek seperti menuliskan ulang masa kanak-kanak. Jadi, saya sarankan agar kita amat berhati-hati dengan apa pun yang diunggah ke internet. Saat sedang bersama anak, sebaiknya kita juga tidak sibuk dengan gawai, agar kita bisa hadir sepenuhnya alih-alih memperhatikan isi internet, dan dengan begitu anak-anak bisa menciptakan kenangannya sendiri, terpisah dari gambar dan video yang kita buat.

Bagaimana orang tua bisa melindungi privasi anak di dunia digital?

Orang tua bisa menghindari berbagi informasi yang terlalu personal tentang anak, misalnya cerita atau foto yang memalukan, meski lucu bagi orang tua. Orang tua perlu mencoba membayangkan sudut pandang anak. Orang tua juga sebaiknya tidak mengunggah gambar anak dalam keadaan tidak berpakaian yang seperti apa pun juga karena, sayangnya, pelaku kejahatan dapat menggunakan gambar untuk tujuan-tujuan yang buruk. 

Orang tua juga dapat berdiskusi dengan anak-anaknya tentang konten yang diunggah orang tua sendiri, menceritakan proses berpikir hingga akhirnya memutuskan suatu hal pantas diedarkan. Anggap saja seolah-olah kita sedang mengerjalan soal matematika; kita tak ingin hanya tahu jawabannya dari kalkulator, kita juga ingin paham alur berpikir. Inilah kesempatan yang sangat baik untuk orang tua menunjukkan pertimbangan-pertimbangannya dalam mengunggah konten kepada anak.

Akan tetapi, perlu diingat, orang tua tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Tanggung jawab pelindungan di ranah daring utamanya berada di pundak pembuat kebijakan dan pemilik platform; mereka perlu membuat ruang digital yang aman untuk keluarga. Tak adil jika kita menuntut orang tua untuk memahami cara kerja platform dan teknologi, terlebih karena keduanya berubah dengan amat cepat.

> Lihat aspek privasi digital yang perlu diketahui orang tua

Bagaimana orang tua dapat meminta agar foto anak-anaknya tidak sampai diunggah oleh orang lain?

Berdiskusilah secara terbuka dengan teman dan keluarga tentang preferensi kita seputar konten digital. Namun, jangan lupa, perilaku mengunggah informasi seputar anak di media sosial relatif baru, dan tidak semua orang punya perhatian yang sama terhadap isu ini. Saat berdiskusi, ingatlah bahwa kita perlu mengedepankan komunikasi, bukan menguranginya, agar keinginan kita dapat dihormati oleh orang-orang yang terlibat di dalam kehidupan anak.

Orang tua juga dapat bertanya apakah sekolah atau organisasi lain punya kebijakan media sosial. Jika tidak ada, orang tua bisa menawarkan bantuan untuk menyusun kebijakan, karena bisa jadi ada orang tua lain di organisasi atau sekolah itu yang ingin punya kendali atas gambar dan informasi yang menyangkut anak-anaknya.

Bagaimana orang tua dan pengasuh bisa berbagi foto dan video anak secara aman?

Membagikan konten digital tidak bisa dijamin keamanannya 100 persen. Orang tua harus selalu bisa menyeimbangkan antara risiko dan kegunaan yang diyakini akan dihasilkan dari berbagi konten.

Bagi keluarga-keluarga yang memang berencana untuk berbagi konten tentang anaknya secara daring, pertimbangkan dulu khalayak yang akan mengonsumsi konten (termasuk, misalnya, seperti apa pengaturan privasi pada akun, apakah orang tua kenal langsung dengan orang-orang yang diterima sebagai teman atau pengikut di media sosial, dll.), seberapa jauh informasi yang akan dibagikan (misalnya, lokasi dan informasi lain yang mudah dikenali, seperti logo sekolah), dan apakah isi konten akan memalukan atau merugikan bagi anak, baik sekarang maupun di masa depan.

Kita sering kali menganggap anak sebagai bagian dari identitas orang tua, padahal anak merupakan individu terpisah yang punya perasaannya sendiri. Orang tua bebas saja berbagi konten tentang dirinya, tetapi pikirkanlah ulang jika konten itu menyangkut orang-orang lain di rumah kita.

"Anak-anak kita adalah generasi pertama yang proses tumbuh kembangnya bisa dijadikan konten. Kita adalah generasi pertama orang tua yang membesarkan anak bersama dengan keberadaan media sosial, dan ini adalah hal yang menantang."

Apa yang bisa dilakukan orang tua yang terlanjur sering menggunggah konten tentang anaknya, tetapi sekarang ingin berubah?

Cobalah tarik napas, tenangkan diri. Orang tua pada umumnya berbagi banyak informasi tentang anak bukan karena adanya niat jahat. Sering kali, jika ini terjadi, penyebabnya adalah orang tua tak sadar pentingnya jejak digital anak.

Jika ada orang tua yang sedang mengevaluasi kembali perilakunya dalam berbagi konten dan sejauh apa konten yang sudah diunggah, langkah pertama adalah cek kembali, apa saja yang pernah diunggah, dan mungkin menghapus konten kalau bisa. [Di sebagian platform, pengguna yang tidak bisa menghapus kontennya sendiri bisa meminta bantuan platform.]

Orang tua yang anaknya berusia 9-10 tahun juga bisa mulai mengajak anak terlibat langsung dalam melihat isi akun orang tua, dan menghapus gambar-gambar yang sudah tidak relevan. Lakukan hal ini secara konsisten setiap beberapa bulan: cek kembali, lihat apa saja yang diunggah, dan jika perlu, hapuslah informasi lama.

Menurut saya, anak-anak akan senang dilibatkan di dalam proses ini. Tidak mudah memang. Anak-anak kita adalah generasi pertama yang proses tumbuh kembangnya bisa dijadikan konten. Kita adalah generasi pertama orang tua yang membesarkan anak bersama dengan keberadaan media sosial, dan ini adalah hal yang menantang.

>> Temukan lebih banyak tips pengasuhan


Stacey Steinberg adalah seorang ibu, profesor hukum, dan Direktur Pusat Anak dan Keluarga di bawah Universitas Florida. Ia adalah penulis buku pengasuhan terlaris: “Growing up shared: How parents can share smarter on social media and what you can do to keep your family safe in a no privacy world.”