Biaya Tidak Bertindak terhadap Obesitas Anak di Indonesia
Ringkasan untuk pemangku kebijakan
- English
- Bahasa Indonesia
Sorotan
Obesitas pada anak meningkat dengan cepat di Indonesia, memperparah tantangan lama seperti stunting, wasting, dan kekurangan zat gizi mikro. Pergeseran cepat dalam lingkungan pangan dan lingkungan fisik yang mendorong pola makan yang tidak sehat serta memberikan sedikit kesempatan untuk menjalani gaya hidup aktif menjadi pendorong utama tren ini. Dari perspektif gizi, anak-anak Indonesia semakin sering mengonsumsi makanan tidak sehat yang ditandai dengan konsumsi berlebihan makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) yang rendah nilai gizi. Meskipun besarnya masalah ini, beberapa kebijakan pencegahan berbasis bukti belum diterapkan secara efektif atau bahkan belum tersedia. Kebijakan tersebut antara lain cukai untuk produk tinggi gula, garam, dan lemak, termasuk minuman berpemanis (sugar-sweetened beverages/SSB), pelabelan gizi pada bagian depan kemasan yang interpretatif (front-of-pack nutrition labelling/FOPNL), serta pembatasan pemasaran makanan tidak sehat.
Untuk memperkuat dasar bukti dan mendukung pengembangan kebijakan, UNICEF dan University of Lausanne mendukung Kementerian Kesehatan dalam melakukan studi tentang biaya tidak bertindak (cost-of-inaction) pertama di Indonesia terhadap obesitas anak. Studi ini menghitung biaya ekonomi seumur hidup akibat kelebihan berat badan dan obesitas pada anak di Indonesia, serta memperkirakan potensi penghematan dari tiga intervensi kebijakan berbasis bukti, yaitu cukai minuman berpemanis dalam kemasan (cukai MBDK), pelabelan gizi pada bagian depan kemasan yang bersifat interpretatif (front-of-pack nutrition labelling (FOPNL) interpretatif), serta pembatasan pemasaran makanan tidak sehat kepada anak-anak.