25 April 2022

Pelajar Indonesia mendobrak tabu dan kesalahpahaman seputar menstruasi

Sulit bagi Artika untuk menahan kegembiraannya saat tengah mengantre untuk pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki ruang kelas. Pagi itu, pada bulan Maret 2021, pelajar di Provinsi Banten, Indonesia, diizinkan kembali ke sekolah dan belajar secara tatap muka setelah menjalani pembelajaran jarak jauh selama hampir setahun penuh karena pandemi COVID..., Remaja Sebagai Agen Perubahan, Salah satu strategi utama dalam program MKM adalah pelibatan kader kesehatan remaja (KKR). KKR berperan menyusun, melaksanakan, dan memimpin beragam kegiatan dan kampanye seputar MKM. Strategi ini mencerminkan hasil survei UNICEF yang menemukan bahwa sebagian besar anak perempuan lebih nyaman berbicara perihal pubertas dengan sesama anak perempuan..., Perubahan Perilaku, Artika, Daniel, dan Cucuk sepakat bahwa program MKM telah menghasilkan perubahan perilaku di kalangan murid dan mendorong praktik baik di sekolah. Menurut Artika, dengan program MKM, murid perempuan sekarang tidak perlu lagi merasa malu karena menstruasi. Kebutuhan mereka pun dipenuhi oleh sekolah yang menyediakan pembalut dan toilet yang lebih..., Ingin Membantu Anak Lain Seperti Artika?, Kisah di atas hanyalah satu contoh kemitraan UNICEF dengan sekolah-sekolah yang dilakukan untuk membangun kesadaran tentang kesehatan reproduksi dan menurunkan perundungan di kalangan murid SMP. Masih ada begitu banyak remaja lain yang membutuhkan dukungan program serupa. Keberhasilan program MKM adalah tonggak penting yang memastikan program ini...
25 Januari 2021

Buku Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) dan pencegahan perkawinan anak

Berdasarkan data UNICEF satu dari empat anak di Indonesia tidak pernah mendapatkan informasi tentang menstruasi sebelum mereka mendapatkan menstruasi pertama. Banyak anak perempuan yang belum siap ketika mendapat menstruasi untuk pertama kali. Akibatnya mereka heran, bingung, sedih, menangis dan takut. Anak-anak lebih percaya kepada orang tua (ibu) sebagai informasi utama, sayangnya orang tua kurang memberikan informasi yang benar tentang menstruasi. Kurangnya informasi mengenai menstruasi pada anak terutama informasi penting bahwa menstruasi merupakan tanda secara fisik anak perempuan sudah bisa hamil menyebabkan tingginya angka perkawinan anak. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017,  satu dari lima anak perempuan tidak megetahui bahwa menstruasi adalah tanda bahwa secara fisik mereka sudah bisa hamil, bahkan berdasarkan penelitian UNICEF di Bone tahun 2019, satu dari dua anak perempuan (50%) yang tidak memiliki pengetahuan mengenai hal ini. Pimpinan Pusat Muslimat NU bekerja sama dengan UNICEF berikhtiar untuk memberikan pencerahan dan solusi terkait dengan persoalan di atas dengan menyelenggarakan menyusun buku Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) dan Pencegahan Perkawinan Anak. Buku ini dibuat sebagai upaya sosialisasi dan promosi tentang urgensi edukasi MKM kepada anak-anak remaja, dan sekaligus sebagai upaya preventif terhadap praktik perkawinan anak yang terjadi di masyarakat. UNICEF berharap buku ini dapat menjadi panduan para tokoh masyarakat, ustazhah, pimpinan/pengurus pondok pesantren, guru-guru dalam memberikan pencerahan serta solusi dalam menghadapi fenomena yang terjadi di masyarakat.
03 Juni 2019

Menstruasi di Tengah Masa Darurat

Saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 menghantam Pulau Lombok, Kadek Ariasti Widhiari, 14, sedang mengalami menstruasi. Dalam bulan-bulan yang ia gambarkan sebagai masa tersulit di dalam kehidupannya, ia dan keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan menghuni tenda pengungsian. “Sementara itu, saya juga tidak nyaman karena sedang datang..., Tabu dan takhayul, Menurut Stefani Rahardini, fasilitator UNICEF yang memimpin diskusi, sebagian besar peserta memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang menstruasi. Namun, masih ada kebiasaan dan keyakinan yang menghalangi partisipasi mereka di sekolah. “Orang tua masih berat untuk merelakan anak-anak kembali ke sekolah, takut akan ada gempa susulan,” katanya. “..., Memperluas ketersediaan fasilitas ‘WASH’ di sekolah-sekolah terdampak gempa bumi, Pasca gempa bumi, UNICEF—bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)—melaksanakan serangkaian kegiatan tanggap bencana. Bagian penting dari upaya tersebut adalah penyediaan prasarana seperti toilet sementara, tempat sampah, dan perlengkapan kebersihan diri—sabun, handuk, dan pakaian dalam—untuk keluarga-keluarga terdampak...., Membantu remaja putri merasa nyaman dengan siklusnya, Elemen penting lain dari upaya tanggap bencana yang dipimpin UNICEF adalah edukasi publik tentang kebersihan menstruasi. Dengan melibatkan sekolah, puskesmas, dinas kesehatan, dan sukarelawan dari kalangan warga, anak-anak perempuan didorong untuk kembali ke sekolah dan diyakinkan bahwa mereka bisa merasa nyaman dengan diri dan tubuhnya.  , Perundungan dan kurangnya keterbukaan, Menurut Stefani, salah satu hambatan terbesar dalam proses membangun kesadaran adalah kurangnya keterbukaan antara murid perempuan dan guru perempuan. “Murid perempuan tidak mudah bercerita tentang menstruasinya ke guru perempuan, apalagi guru laki-laki,” katanya. “Masalahnya, banyak guru perempuan yang bahkan tidak sadar murid-muridnya punya..., Ingin Membantu Remaja Perempuan Mengakses Sarana Air, Sanitasi, dan Kebersihan Kapan Pun, di Mana Pun?, Berkat sumbangan dari para dermawan di Indonesia, UNICEF dapat bekerja dengan tenaga dan pejabat bidang Air, Sanitasi, dan Kebersihan (WASH) di seluruh Indonesia untuk kebutuhan keluarga dan anak-anak perempuan di masa darurat, seperti pascabencana alam. Namun demikian, pemahaman dan praktik yang baik dari manajemen kesehatan menstruasi bergantung...