Teknologi inovatif percepat pencarian anak yang terpisah dari keluarga akibat tsunami

Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang terjadi di Sulawesi Tengah, Indonesia, pada 28 September mengakibatkan gelombang tsunami.

Lely Djuhari
Two people looking at the aftermath of Tsunami.
UNICEF Indonesia/2018/Wilander
22 Mei 2019

Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang terjadi di Sulawesi Tengah, Indonesia, pada 28 September mengakibatkan gelombang tsunami. Dalam kepanikan yang melanda, para orangtua berusaha keras mengamankan anak-anak mereka. Akan tetapi, tak sedikit anak yang akhirnya terpisah saat tengah menyelamatkan diri dari tiga ombak besar yang datang beturut-turut.

Pascabencana, keluarga yang berduka menempel poster pada jendela toko dan tiang lampu serta meminta informasi apapun juga tentang anak-anak mereka yang hilang pada orang-orang yang melintas. Begitu jaringan listrik dan telekomunikasi kembali bekerja, permohonan informasi pun beredar di berbagai saluran media sosial.

“Mengetahui secara utuh jumlah anak yang hilang itu sangat sulit. Permohonan yang masuk lebih banyak daripada informasi tentang anak yang ditemukan,” kata Febraldi, ketua tim dari Kementerian Sosial yang datang dari Jakarta untuk mengoordinasikan upaya perlindungan.

Febraldi, team leader from the Ministry of Social Affairs and I Made Sukawancita, UNICEF Technology for Development Officer, in front of the joint secretariat and child center in Palu.
UNICEF Indonesia/2018/Wilander
Febraldi, team leader from the Ministry of Social Affairs (left) and I Made Sukawancita, UNICEF Technology for Development Officer, in front of the joint secretariat and child center in Palu.

UNICEF mendukung Pemerintah Indonesia membentuk 12 pos di area terdampak bagi keluarga yang mencari dan yang punya informasi tentang anak-anak hilang. Lokasi 12 pos ini juga digunakan sebagai area aman untuk anak-anak bermain.

Setelah menyebarkan 2.700 poster dan mengunggah informasi ke media sosial disertai nomor kontak, per 30 Oktober tim menerima 117 permintaan pencarian anak.

Namun, saat seorang anak terpisah dari orangtuanya, setiap jam dan hari yang berlalu sangat berharaga.

Untuk mempercepat pencarian dan reunifikasi keluarga, diperkenalkan perangkat inovatif bernama Primero. Primero adalah platform bersumber terbuka untuk membantu pekerja sosial mengelola data terkait perlindungan.

 Apa saja keuntungan menggunakan platform ini?

“Lebih cepat, lebih praktis, dan bisa dibawa ke mana-mana. Jangkauannya juga luas. Penggunaannya cukup sederhana dan kita bisa dapatkan informasi dari Palu dan wilayah lain,” kata I Made Suwancita, Technology for Development Officer dari UNICEF Indonesia.

Sebanyak 56 pekerja sosial dari Kementerian Sosial dan kelompok pemberi bantuan dilatih memasukkan data melalui versi situs dan aplikasi seluler Primero yang berbahasa Indonesia. Petugas bisa memasukkan nama anak hilang, jenis kelamin, tanggal lahir, alamat, dan informasi dasar tentang orangtua serta kronologi singkat kejadian saat anak terpisah.

“Kami wawancara keluarga dan mencari-cari informasi di posting grup seperti Info Palu di Facebook,” kata  Fadlun Badjerey, seorang pekerja sosial. “Leher dan punggung saya sampai pegal dan penglihatan buram karena sibuk melihat ponsel serta bekerja sampai lewat tengah malam. Tapi, semua itu sepadan dengan hasilnya.”

Fikri's father, Iqbal, kiss his son with joy in UNICEF Child Protection Joint Secretariat Post
UNICEF Indonesia/Ed Wray

Tsunami besar terakhir di Indonesia terjadi pada 26 Desember 2004. Saat itu, jumlah kasus yang dihadapi pekerja sosial dan kelompok pemberi bantuan sangat tinggi, dan mereka melacak data berbekal hanya bolpoin dan kertas.

Primero telah digunakan di negara lain dalam situasi konflik serta setelah bencana alam sejak tahun 2013. Di Indonesia, Primero awalnya dirancang untuk pengelolaan data terkait perlindungan anak di luar konteks bencana.

Inovasi teknologi lain dari UNICEF di Indonesia adalah U-Report. Menggunakan Facebook Messenger, WhatsApp, dan SMS, platform ini diluncurkan tahun 2014 untuk mengumpulkan jajak pendapat, memberdayakan 85.000 anak muda agar suara mereka didengar oleh pembuat kebijakan, dan menyediakan mereka akses ke informasi terpercaya.

Pada tahun 2015, UNICEF menguji coba teknologi RapidPro untuk digunakan tenaga kesehatan mengumpulkan, memantau, dan menyebarluaskan informasi kesehatan seperti cakupan imunisasi anak melalui SMS.

Di Sulawesi Tengah, Made kemudian dibanjiri permintaan dari mitra Pemerintah untuk mengadaptasi U-Report dan RapidPro agar bisa digunakan oleh pekerja sosial dan tenaga kesehatan. Kini, mudah melacak jumlah anak yang bermain di ruang ramah anak setiap sore dan menerima layanan psikososial. Pekerja lapangan juga sudah dilatih memasukkan data untuk penilaian keselamatan sekolah.

Melaui unggahan di media sosial menggunakan U-Report dan komunikasi langsung dengan orang-orang di wilayah terdampak bencana dan wilayah lain, sebanyak tujuh orang anak telah dipersatukan kembali dengan keluarga mereka.

Primero sendiri sejauh ini telah mempertemukan kembali 28 anak (16 lelaki; 12 perempuan) dengan keluarga masing-masing dan membantu pengelolaan kasus mereka.

Inovasi-inovasi di atas terbukti mempercepat proses kerja dan efisien untuk menyelamatkan dan melindungi anak-anak.