Secercah Harapan dalam Pencegahan Kematian Bayi

Jaminan kesehatan nasional telah meningkatkan akses ke layanan ibu dan bayi bagi kelompok-kelompok paling rentan di Indonesia.

Jimmy Kruglinski, Communications Officer
Mirawali and her husband Salman hold their third son Kaelan Triyoga Makarim in their home in Hitu, Maluku.
UNICEF Indonesia/2019/Fauzan Ijazah
21 Oktober 2019

AMBON, Indonesia – Mirawali bangun pada suatu subuh untuk bersembahyang. Saat itulah, ia tersadar sedang mengalami perdarahan.

Dengan kehamilan yang sudah lanjut dan cemas akan kondisi bayi, Mirawali membangunkan suaminya, Salman. Mereka bergegas pergi ke puskesmas yang berjarak hanya beberapa ratus meter jauhnya. Namun, tidak ada dokter di sana sehingga mereka pun dirujuk ke rumah sakit terdekat—satu jam perjalanan.

Salman langsung menyewa mobil dan menyetir dengan kecepatan tinggi menembus hari yang masih gelap ke rumah sakit tempat Mirawali kemudian dirawat. Sehari kemudian, seorang bayi lelaki yang tampan lahir melalui operasi Caesar. Anak itu dinamai Kaelan, kata yang berasal dari bahasa Gaelik yang artinya “pejuang”.

Akan tetapi, Kaelan sesungguhnya lahir prematur pada usia kehamilan 35 minggu. Bobotnya hanya 1,3 kg, separuh dari bobot bayi sehat 2,5 kg menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Tulang rusuknya kelihatan,” kata Mirawali saat mengenang kali pertama ia sejenak melihat anaknya setelah dioperasi. “Tapi, saya ingin jadi kuat untuknya.”

Kaelan adalah anak ketiga Mirawali dan Salman, namun anak pertama yang lahir di fasilitas kesehatan. Seperti banyak ibu lain di Maluku, dua anak Mirawali yang lebih tua lahir di rumah. Pada tahun 2018, hampir separuh kelahiran di Maluku berlangsung tidak di fasilitas kesehatan—sebagian besar di rumah, dan separuhnya dibantu oleh dukun bayi.

Puskesmas Hitu, Maluku
UNICEF Indonesia/2019/Fauzan Ijazah
Puskesmas Hitu, Maluku, tempat Mirawali memeriksakan kehamilan. Terdapat 49 tenaga kesehatan dan 6 kader, namun hanya satu dokter di Puskesmas Hitu.
Sumira Wael, 26, ditangani Bidan Nurjannah saat memeriksakan kehamilan di Puskesmas Hitu.
UNICEF Indonesia/2019/Fauzan Ijazah
Sumira Wael, 26, ditangani Bidan Nurjannah saat memeriksakan kehamilan di Puskesmas Hitu.

Secara global, pada tahun 2017, perawatan saat kehamilan dan kelahiran masih menjadi penyebab penting kematian sekitar 2,5 juta bayi baru lahir dalam bulan pertama kehidupan. Hal ini terjadi meskipun kemajuan signifikan telah dicapai dalam dua dasawarsa terakhir. Para ahli sepakat bahwa risiko kelahiran mati atau kematian akibat komplikasi saat persalinan bisa diturunkan sekitar 20 persen apabila kelahiran dibantu oleh tenaga terlatih, yang umumnya meliputi dokter, perawat, atau bidan.

Sebelum kelahiran, saat menghadiri pemeriksaan hamil rutin, Mirawali pernah didiagnosis hipertensi dan menerima penjelasan mengenai risiko yang ia hadapi. Mengikuti nasihat yang diterimanya, beberapa waktu sebelum melahirkan, ia dan Salman pun mendaftar menjadi penerima manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Setiap bulan, mereka membayar iuran sebesar Rp25.000 untuk setiap anggota keluarga.

Diluncurkan pada tahun 2014 dengan tujuan menjadikan layanan kesehatan terjangkau untuk semua penduduk Indonesia pada 2019, JKN saat ini mencakup 223 juta penerima manfaat di seluruh negeri. Cakupannya yang luas menjadikan JKN sebagai skema asuransi kesehatan berbayar terbesar di dunia. JKN juga bercita-cita menyediakan layanan kesehatan sebanyak mungkin, termasuk kesehatan ibu dan bayi yang dilaksanakan oleh fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta kepada semua penduduk lepas dari tingkat pendapatan seseorang.

“Awalnya, saya khawatir juga soal iuran dan tidak terbayang bagaimana rumitnya proses administrasi,” kata Mirawali. “Ternyata, mendaftarkan diri tidak sulit. Pembayaran juga didebit otomatis sehingga, sepanjang ada uang di rekening, kami tidak usah bolak-balik ke bank hanya untuk membayar iuran.”

Selama dua pekan, Salman berjaga di rumah sakit, sementara Mirawali memulihkan diri di rumah. Dua kali sehari, masing-masing satu jam, Salman diperbolehkan melihat Kaelan—namun, hanya dari balik dinding plastik tebal mesin inkubator yang berisi Kaelan dan seorang bayi lain. “Suster bilang, kesempatan Kaelan untuk bertahan hidup adalah 50-50,” ujar Salman, mengingat kembali rasa frustrasi dan tidak berdaya yang ia rasakan.

Dr. Vivianto Hartiono, kiri, dokter anak di RS Dr. M. Haulussy, Ambon, yang merawat Kaelan di unit perawatan intensif.
UNICEF Indonesia/2019/Fauzan Ijazah
Dr. Vivianto Hartiono, kiri, dokter anak di RS Dr. M. Haulussy, Ambon, yang merawat Kaelan di unit perawatan intensif.
Seorang perawat dan bayi baru lahir di unit perawatan intensif.
UNICEF Indonesia/2019/Fauzan Ijazah
Seorang perawat dan bayi baru lahir di unit perawatan intensif.

Dr. Vivianti Hartiono, dokter anak di RS D. M. Haulussy di Ambon yang merawat Kaelan ingat keadaan anak itu yang rapuh. “Setelah beberapa hari, kondisinya terus memburuk,” kisahnya. “Kami terus memantau statusnya dan memutuskan mengganti antibiotik serta melakukan transfusi darah.”

Akhirnya, setelah bermalam-malam tidur di atas bangku beton di ruang tunggu yang muram bersama-sama keluarga lain, Salman menerima berita yang ia dambakan: putranya akan bertahan. Butuh satu pekan lagi hingga Salman dan Mirawali bisa membawa Kaelan pulang, namun Kaelan kini bisa bernapas tanpa bantuan di luar inkubator.

Biaya normal perawatan per hari bagi Kaelan di unit perawatan intensif adalah sekitar Rp1,5 juta. Bagi Mirawali dan Salman, yang keduanya bekerja di sebuah madrasah tsanawiyah, angka itu sangat besar dan akan sangat membebani keluarga. Sebelumnya, mereka memutuskan tidak melahirkan anak kedua di rumah sakit karena tahu potensi biaya yang harus dikeluarkan.

Namun, sebagai penerima manfaat JKN, Salman dan Mirawali hanya diminta membayar sekitar Rp1 juta untuk total satu bulan Kaelan berada di rumah sakit. Sebagian besar bentuk perawatan yang diberikan adalah pemberian obat-obatan dan antibiotik.

“Tanpa JKN, hidup kami pasti jauh lebih sulit,” kata Mirawali. “Dengan penghasilan kami yang terbatas, kami pasti akan menimbang ulang keputusan pergi ke rumah sakit.”