Sebuah sekolah di Papua Barat tetap beroperasi berkat tekad seorang guru

Dengan dukungan UNICEF, guru yang berdedikasi tinggi ini terus menyediakan pendidikan usia dini kepada sekelompok masyarakat yang berisiko tertinggal

Jimmy Kruglinski, Communications Officer
UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski

18 Desember 2019

SORONG, PROVINSI PAPUA BARAT, INDONESIA – Selama 24 tahun bekerja mengelola TK Intimpura, Yohanna Bitti Tupen telah menyaksikan desa asalnya, Maibo, mengalami perubahan besar. TK Intimpura yang dibangun oleh sebuah perusahaan kayu dan mempekerjakan puluhan keluarga di Maibo dahulu memiliki 45 murid. Namun, banyak warga pindah setelah perusahaan tutup pada tahun 2009. Jumlah murid pun berkurang hingga hanya 14 orang per tahun 2019.

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Yohanna Bititupen dan guru Novanti di TK Intimpura, Provinsi Papua Barat.

Meski cemas akan masa depan sekolah, Yohanna juga bertekad mempertahankannya demi keluarga-keluarga yang masih ada di desa. Tantangan yang ia hadapi tak mudah—mulai dari kekurangan dana, pengelolaan sekolah yang dilakukannya seorang diri, dan jarak sekolah yang jauh dari Kota Sorong.

Tak hanya itu, Yohanna pernah terjatuh dari motornya pada suatu pagi dalam perjalanan ke sekolah. Kakinya cedera; sejak itu, jalannya sedikit pincang. “Sulit juga bebas bergerak dengan anak-anak,” katanya. “Tapi, saya masih bersyukur.”

Lepas dari kesulitan yang ia alami, Yohanna bersikukuh ia tidak pernah terpikir untuk menyerah. “Para keluarga di desa tidak mau saya pergi. Mereka datang ke rumah dan membantu merawat saya setelah kecelakaan dulu,” jelasnya.

“Saya ingin ada perbaikan di sekolah ini agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain di kota,” kata Yohanna.

Berkat kegigihan Yohannalah sekolah masih beroperasi selama sepuluh tahun terakhir. Dua tahun lalu, pemerintah desa setuju memberikan dana untuk merekrut dua guru baru.

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Ledy memimpin doa di kelas.

Ledy yang berusia lima tahun adalah satu dari 14 murid di sekolah dan satu-sautnya murid perempuan di kelas hari ini. Sudah tiga tahun terakhir ia menjadi murid di TK Intimpura. “Ia dulu pendiam, tidak pernah bicara,” kata Yohanna saat mengingat bulan-bulan pertama Ledy bergabung. “Ia sulit berkomunikasi dengan orang lain.”

Sejak bersekolah, guru-guru melihat Ledy membuat kemajuan positif dalam hal perkembangan sosial dan emosionalnya. Menurut Yohanna, Ledy sekarang lebih banyak bicara, baik di sekolah maupun di rumah. “Ledy mulai lebih cerewet, dan selalu cerita pada ibunya tentang apa-apa saja yang ia pelajari di sekolah,” kata Yohanna. “Ia lebih percaya diri.” Kepercayaan diri itu jelas terlihat di kelas, saat Ledy memimpin empat teman sekelasnya—semua anak lelaki—untuk berdoa.

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Ledy dan gurunya, Novanti, bermain Play-Doh di kelas.

Mengingat anggaran sekolah yang minim, Yohanna terpaksa membeli keperluan sekolah sendiri. “Alat belajar yang kami punya terbatas,” katanya. “Anak-anak dulu bermain hanya dengan balok.”

Dengan dukungan dari UNICEF, TK Intimpura kini telah menambah ragam kegiatan untuk murid. Selain menyediakan sarana belajar, UNICEF juga melatih guru agar dapat menggunakan alat yang ada dengan lebih kreatif sehingga menarik minat murid.

Bagi Ledy, kegiatan kesukaannya di sekolah adalah bermain lilin Play-Doh bersama gurunya, Novanti. Menggunakan bahan-bahan yang ada, Novanti membuat lilin sendiri. Di waktu istirahat, Ledy bermain dengan lilin warna-warni. Ia menggulung lilin perlahan-lahan menggunakan tangannya untuk membuat kue mainan. Setelah itu, dengan rapi ia jajarkan beberapa lilin di atas meja—meniru ibunya yang berdagang kue di pasar setempat.

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Ledy mencium tangan gurunya sebelum pulang.

Seperti banyak anak Indonesia lain, Ledy ingin menjadi polisi saat dewasa nanti. Ibunya, Lusye, masih ingat betapa Ledy kagum saat melihat polisi wanita di kota sedang mengarahkan lalu lintas.

Lusye percaya bahwa TK Intimpura memberikan bekal yang baik pada putrinya. “Sekolah ini yang terbaik untuknya. Ledy kini punya kebiasaan dan perilaku yang lebih positif untuk masa depannya,” kata Lusye. Ia menambahkan bahwa sekolah itu telah menjadi tumpuan harapan—baginya dan semua keluarga lain di masyarakat setempat. “Setiap pagi, anak-anak bersalaman dan orang tua di desa merawat anak-anak dengan lebih baik,” katanya. “Sekolah in bagaikan rumah.”

UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Yohana dan Ledy berpisah di sekolah.
UNICEF Indonesia/2019/Jimmy Kruglinski
Ledy pulang dengan ibunya, Lusye.