Saat semua anak, termasuk anak dengan disabilitas, siap menghadapi bencana

Bangunan sekolah masih ada, namun kelihatan ringkih seolah dapat roboh setiap saat.

Lely Djuhari - UNICEF Communication Specialist
Mega & Chila, children with disabilities in UNICEF tent
Wilander/UNICEF/2018

22 Mei 2019

Pekan pertama itu berlalu nyaris bagaikan déjà vu. Saya sedang berada kembali ke tanah air untuk mendukung upaya tanggap bencana setelah gempa dan tsunami menghantam Sulawesi Tengah, Indonesia, pada 28 September.

Sekitar 14 tahun lalu, tugas pertama saya di UNICEF adalah mendukung tanggap bencana tsunami di Samudra Hindia yang berdampak pada Provinsi Aceh, ujung utara Pulau Sumatra. Sedih rasanya karena suasana yang saya saksikan pada tahun 2004 dan yang saya lihat sekarang tak jauh berbeda: berkilo-kilometer garis pantai rata tanpa apapun kecuali satu atau dua pohon, dan pondasi semen penopang bangunan yang berhasil lolos dari kekuatan tsunami yang luar biasa.

Akan tetapi, ada yang berbeda pada pagi hari Selasa itu.

Saya berada di salah satu sekolah penerima tenda bantuan dari UNICEF. Bangunan sekolah masih ada, namun kelihatan ringkih seolah dapat roboh setiap saat. Sepanjang pagi, saya berinteraksi dengan orang-orang hebat dari Sekolah Luar Biasa Marawola – sekolah untuk anak-anak dengan disabilitas – sebagian mengalami disabilitas netra, tuli, dan disabilitas belajar.

Anak-anak bertepuk tangan mengikuti lagu, mengikuti permainan, dan menjawab kuis serta berbagi pengalaman dari hari-hari mereka selama dua minggu terakhir. Untuk seorang anak, dengan ataupun tanpa disabilitas, kembali ke sekolah adalah salah satu langkah terpenting untuk mengembalikan rasa normal ke kehidupan masyarakat.

Silvana Mega Sari Longe, 17, tersenyum sembari dengan bahasa isyarat menyatakan bahwa ia senang bertemu lagi dengan temannya, Jessica Zefanya Tania.

.

“Langkah berikutnya setelah pertemuan adalah latihan evakuasi. Mega mungkin tidak bisa dengar suara sirene, atau teman-temannya yang tunanetra tidak bisa melihat jalur evakuasi,” 

Pak Jaya.

“Saya suka menjahit dan belajar menjadi perias,” katanya. Ia menambahkan bahwa ia senang kembali ke sekolah dan bertemu lagi dengan teman-teman walaupun hanya satu hingga dua jam per hari.

Setelah beberapa jam, ia terlihat lebih nyaman bersama saya. Tak lama kemudian, ia pun mengajarkan saya bahasa isyarat Indonesia untuk kata “teman”.

Pak Jaya, Kepala Sekolah, berkata ia terakhir mengajar kelas anak tuli lima tahun lalu. Tetapi, saat ini, semua orang harus turun tangan. Walaupun semua murid selamat, namun tak sedikit yang masih sibuk mencari keberadaan anggota keluarga mereka.

Menurut Pak Jaya, ia sebetulnya sedang merencanakan kegiatan latihan menghadapi yang sedianya berlangsung 5 Oktober. Malang, gempa bumi terjadi sepekan sebelumnya.

 “Pada pertengahan bulan September saya mengundang sekitar 100 orang anggota masyarakat mulai dari murid, guru, orangtua, juga sekolah-sekolah sekitar untuk membicarakan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Terlebih untuk murid-murid disabilitas di sekolah saya yang akan membutuhkan bantuan orang lain,” katanya.

“Langkah berikutnya setelah pertemuan adalah latihan evakuasi. Mega mungkin tidak bisa dengar suara sirene, atau teman-temannya yang tunanetra tidak bisa melihat jalur evakuasi,” tambah Pak Jaya.

Bagi saya, kata-katanya sungguh mengena. Setelah dua tahun sebagai Communication Chief di Provinsi Aceh, saya meninggalkan Indonesia untuk bekerja di negara lain di wilayah bencana dan konflik. Salah satu hal yang paling saya sukai adalah pelatihan kesiapsiagaan bencana: membantu sekolah-sekolah menyiapkan diri menghadapi situasi darurat, memastikan mereka berlatih evakuasi agar teori menjadi refleks setelah dilakukan berulang kali.

Penyandang disabilitas adalah salah satu kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Diperkirakan terdapat 1 miliar orang (atau 15% dari populasi global) dengan disabilitas dan sebagian besar ada di negara berkembang, di mana mereka mengalami kemiskinan ekstrem dan terkucil dari pembangunan.

Jika bicara perihal penurunan risiko bencana, anak-anak dengan disabilitas seringkali terlupa dan kapasitas mereka diremehkan—mereka dianggap lebih mungkin terkena dampak negatif dibandingkan orang tanpa disabilitas. Upaya penurunan risiko bencana yang inklusif masih sangat jarang terdengar.

Berpengalaman di bidang pendidikan inklusif di Eropa Timur dan Asia Tengah, saya ingin tahu bagaimana kemajuan UNICEF di Indonesia dalam isu ini. Salah satu program yang didukung oleh UNICEF Indonesia berlangsung di lima provinsi, termasuk Sulawesi Selatan dan Barat. Program ini menggunakan olahraga untuk memperkenalkan inklusi dan mengubah persepsi masyarakat terhadap anak dengan disabilitas.

Margarina Yasinta, a teacher at a school from children with disabilities.
Wilander/UNICEF/2018
Margarina Yasinta, a teacher at a school from children with disabilities, leads her students to sing an uplifting song “At a school tent, we are joyful and wherever we study we are happy.” UNICEF has already sent a first batch of 200 ‘schools in a tent’, 200 ‘school in a box’ kits and 50 Early Childhood Education kits. UNICEF was the first UN agency to reach the affected populations of Central Sulawesi with essential emergency supplies.

Melalui olahraga, anak dengan dan tanpa disabilitas belajar saling memahami dan menghormati, menghargai upaya, kerja tim, kerendahan hati, cita-cita, dan toleransi. Prinsipnya, melihat diri anak sebelum melihat disabilitasnya.

Senang rasanya mendengar otoritas di Sulawesi Tengah terus menyuarakan inklusivitas dalam pendidikan, termasuk penurunan risiko bencana.

Pejabat Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah Murniarni Nongtji adalah salah satu yang terdepan dalam hal ini. Ialah salah seorang yang membuat Sulawesi Tengah menerima dana dan mandat dari pemerintah pusat untuk melakukan program penurunan risiko bencana di sekolah luar biasa.

“Saya akan terus bekerja memastikan agar sekolah-sekolah di sini menyambung dengan baik anak dengan disabilitas. Saya juga ingin melihat semua sekolah menyiapkan diri menghadapi bencana agar anak, dengan atau tanpa disabilitas, bisa belajar dan tahu apa yang harus dilakukan sebelum bencana itu terjadi,” kta Ibu Murniarni.

 

Bagi murid Sekolah Luar Biasa Marawola, bencana datang lebih cepat. Namun, dalam beberapa bulan ke depan, mereka akan meneruskan kegiatan kesiapsiagaan bencana. Menjadikan penurunan risiko bencana lebih inklusif bagi semua orang sangatlah penting karena bencana dapat terjadi pada siapapun tanpa kecuali, termasuk anak dengan disabilitas.

Lely Djuhari adalah Communication and Advocacy Specialist di Kantor Pusat UNICEF New York. Ia kembali ke Indonesia pada bulan Oktober hingga November untuk mendukung pelayanan tanggap bencana di Sulawesi Tengah.