Remaja dan inovasi: Kekuatan (super) dari coding

Ketika kemampuan coding menjadi kekuatan super bagi anak muda dalam memecahkan masalah di sekitar mereka

Sudeshan Reddy
Markoding participant learns coding
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
24 Februari 2020

Sabtu pagi saat itu hujan, tetapi hal itu tidak mengecilkan niat para peserta untuk hadir. 14 remaja laki-laki dan perempuan, dari usia 13 sampai 18 tahun, berkumpul di sebuah co-working space di daerah Jakarta Selatan untuk belajar cara meningkatkan kemampuan kerja sama, pemecahan masalah, dan komunikasi, demi mengubah masa depan menjadi lebih baik.   

Meskipun suasanya santai, para peserta terlihat sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengikuti Markoding Innovation Challenge (Tantangan Inovasi Markoding). Program ini adalah hasil kolaborasi antara Markoding dan UNICEF Indonesia, dengan dukungan dari ARM. Pelatihan ini mengundang remaja dari usia 10-19 tahun untuk menciptakan inovasi digital dan memberikan perubahan positif di lingkungan mereka. Selain kemampuan teknis, mereka juga dilatih untuk mengembangkan keterampilan penting abad ke-21, seperti kreativitas, empati, dan kerja sama.

Sebagian besar peserta berasal dari keluarga kurang beruntung – banyak dari mereka yang bahkan tidak tahu apa itu coding sebelum mereka mengikuti pelatihan ini. Inisiatif-inisiatif inovatif semacam ini memberikan kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan potensi mereka, di samping keterampilan-keterampilan lain yang diajarkan di sekolah. Melihat kemajuan era masa kini – anak-anak memiliki akses ke ponsel pintar, anak-anak bermain permainan daring, dan sekolah-sekolah memiliki lab komputer, pelatihan yang tepat dapat mengubah anak-anak dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi. Tantangan dimulai pada November 2019 dengan Lokakarya Guru dan akan ditutup dengan Demo Inovasi Digital pada akhir Maret 2020.  

Faizal

Terlihat lebih muda dari peserta-peserta lain, Faizal, 14 tahun, menjelaskan ketertarikannya pada teknologi, dan bagaimana ia sudah bermain permainan daring sejak usia muda dengan banyak pemain dari berbagai wilayah di Asia Tenggara. Dengan senyum malu-malu, ia bercerita bagaimana orang tuanya pada awalnya tidak suka ia bermain permainan daring, tetapi sekarang mereka “senang dan bangga” ia terpilih sebagai salah satu peserta di acara ini. Faizal, penggemar sepak bola dengan impian menjadi pemain sepak bola profesional ini menjadi semakin percaya diri saat berbicara tentang pengetahuan yang ia dapatkan dari program ini. Menurutnya, program ini sangat bermanfaat, katanya, “Ketika anak-anak belajar mandiri, mereka hanya bergantung pada diri sendiri dan mengandalkan Google untuk mendapatkan petunjuk, tetapi dengan Markoding, mereka mendapatkan mentor, dan hal ini tentu berbeda.”

Faizal menciptakan aplikasi yang diberi nama ‘Cinta Keluarga.’ Aplikasi ini menghubungkan pengguna dengan konselor untuk menceritakan masalah-masalah yang mereka hadapi. Faizal ingat betapa seringnya ia mendengar cerita bunuh diri, depresi, dan perundungan di kalangan anak-anak seusianya. Pengalamannya beberapa kali menyaksikan perundungan secara langsung menyadarkan Faizal akan bahayanya dan mengapa hal itu harus dihentikan. Faizal yakin aplikasi buatannya mampu membuat perubahan nyata dalam hidup anak muda dan membuat mereka merasa lebih aman.

Quotes peserta Markoding Faizal
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
Faizal, 14 tahun, menciptakan sebuah app bernama “Cinta Keluarga”

Rizki

Sama seperti Faizal, Rizki, 18 tahun, awalnya merasa kurang percaya diri, karena ia tidak bersekolah di sekolah umum, melainkan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Rasa percaya dirinya meningkat setelah ia dijadikan patokan dalam aplikasi yang dikembangkan oleh grupnya. Keluarga dan teman-temannya begitu suportif dan bangga setelah tahu dirinya terpilih sebagai peserta pelatihan. Lebih lanjut Rizki menjelaskan bahwa selain keterampilan teknis dalam coding, ia juga belajar banyak tentang kemampuan mengambil keputusan. “Saya merasa kini memiliki arah dan tujuan dalam hidup, karena Markoding telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mendaftar ke universitas untuk studi lanjutan dan membuat saya dan orang tua saya bahagia.”

Ketika usianya 9 tahun, teman Rizki melihat mayat dan melaporkannya ke polisi. Akibat kejadian itu, temannya, yang pada saat itu berusia 15 tahun, malah ditangkap dan dipenjara atas tuduhan pembunuhan yang keliru, dan baru dibebaskan 4 tahun sesudahnya berkat bantuan sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Ketidakadilan ini mendorong Rizki untuk menciptakan sebuah aplikasi yang menghubungan pengguna dengan LSM yang bisa membantu membela orang-orang yang ditangkap secara tidak adil dan memberikan bantuan hukum bagi mereka. “Sebelum saya mengikuti pelatihan ini, saya hanya bermain-main,” kata Rizki. “Tapi sekarang, saya banyak belajar hal baru dan saya yakin anak-anak lain harus punya kesempatan yang sama seperti saya.”

Quotes peserta Markoding Rizki
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
“Saya banyak belajar hal baru,” ujar Rizki

Kristianti

Dukungan dari para mentor juga memberikan perubahan bagi Kristianti, 16 tahun. Dengan senyum lebar dan kemampuan berbicara yang baik, Kristiani menceritakan kisah awalnya bergabung dengan program ini, yaitu ketika ia memutuskan ikut tes wawancara di detik-detik terakhir karena temannya berhalangan hadir. Awalnya, ia mengira pelatihan ini adalah program satu hari, tetapi akhirnya ia menyadari bahwa, “Ini bukan seminar biasa.” Kristianti menjelaskan dengan percaya diri bahwa pelatihan ini membantunya meningkatkan kemampuannya dalam membuat presentasi, mengedit, dan mengatur waktu. “Sekarang saya bisa tidur lebih cepat dan bisa menyeimbangkan waktu antara sekolah dan coding, dan masih mempunyai waktu untuk keluarga dan teman-teman,” jelasnya. Selain itu, setelah mengikuti pelatihan ini, Kristianti berhasil meminta sekolahnya untuk memasukkan coding ke dalam materi pengajaran yang belum pernah ada sebelumnya.

Salah satu poin utama dari program ini adalah menciptakan solusi digital yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. Kristianti melihat di daerah sekitar rumahnya ada banyak kantong plastik yang dibuang sembarangan, sehingga ia memutuskan untuk menciptakan aplikasi yang dapat melacak keberadaan kantong plastik yang masih bisa digunakan. Begitu seseorang menemukan kantong plastik, ia bisa mengembalikannya ke toko tertentu dan mendapatkan imbalan hingga Rp. 30.000,00. “Potensi anak muda hingga kini masih terkubur karena kita belum paham bahwa kita punya potensi yang begitu besar,” kata Kristianti. Ia menambahkan bahwa program ini turut mendorongnya memutuskan untuk mengambil jurusan Teknologi di universitas. “Saya mau jadi orang sukses,” ujarnya dengan mantap.

Quotes peserta Markoding Kristianti
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
“Ini bukan seminar biasa,” kata Kristiani

Mentor-mentor

Quotes mentor Markoding Kevin
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
Kevin Kusuma, mengajar dan belajar dari peserta pelatihan

Kevin Kusuma yang menjadi salah satu mentor mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari remaja-remaja yang mengikuti program ini. Bagi Kevin, program ini menyatukan dua hal yang menjadi minat utamanya, yaitu pengembangan permainan daring dan mengajar. “Ini seperti proses timbal-balik,” jelas Kevin, “Ketika saya mengajar, saya juga belajar banyak dari mereka.” Setelah mengikuti Lokakarya Pengajar pada Desember 2019, Kevin melihat program ini sebagai pelengkap dari sistem pendidikan saat ini, ia pun menyatakan bahwa, “Kita perlu meningkatkan kemampuan anak-anak untuk menjalankan peran mereka dan menghentikan kemiskinan.” 10 mentor yang terdiri atas pengembang peranti lunak dan pemrogram ini sudah memiliki pekerjaan tetap, namun mereka memiliki antusiasme yang sama dalam hal mengajar dan inovasi. Masukan dari para mentor bagi para peserta adalah meskipun peserta menunjukkan minat tinggi dalam mempelajari kemampuan nonteknis, mereka masih menemukan kesulitan dalam kemampuan teknis, yaitu coding. Untuk itu, dibutuhkan usaha ekstra untuk mengatasi hal ini.

“Ide-ide yang muncul begitu spesifik, relevan, dan di luar ekspektasi kami,” jelas Amanda Simandjuntak, salah satu pendiri Markoding. “Saya melihat ada perubahan dari pertama kali peserta mengikuti pelatihan ini dua bulan lalu hingga sekarang, mereka kini lebih bersemangat. Kami ingin mereka belajar bagaimana caranya menggali sebuah isu, bagaimana mencari solusi, dan bagaimana menerapkannya ke tindakan nyata,” jelas Amanda. Ia menambahkan, “Saya percaya bahwa kemampuan coding adalah kekuatan super anak muda. Dengan memberikan pelatihan ini, Anda memberikan keterampilan bagi mereka untuk memecahkan masalah di sekitar mereka dan mengubah dunia.”

Quotes mentor Markoding Amanda
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
Amanda Simandjuntak mengembangkan keterampilan anak muda dalam memecahkan masalah

Dari masalah sampah, pencegahan bunuh diri, hingga bantuan hukum, program ini menunjukkan bahwa peserta kini punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah yang mereka temui.