Refleksi dari KHA Pasal 7

Tiap anak berhak dicatatkan kelahirannya secara resmi dan memiliki kewarganegaraan. Tiap anak juga berhak mengenal orangtuanya dan, sedapat mungkin, diasuh oleh mereka.

Laksmi Pamuntjak
Girl
UNICEF/2018/Noorani
29 Oktober 2019

Aku tak tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Aku tak ingat kali pertama ibuku mencium ujung hidungku, atau kali pertama bapakku melingkarkan jemarinya di ibu jariku yang mungil dan lembab.  Aku tak ingat kapan aku pertama kali melangkah, atau kata pertama yang kuucapkan. Namun orang-orang di sekitarku menganggapku manis, dan mereka menyebut namaku. Mereka berkata, anak-anak perlu diperhitungkan, maka hitunglah mereka.

Di TK, mereka kembali menyebut namaku, setiap hari; mereka juga menyebut namaku, setiap hari, di sebuah klinik setempat ketika aku harus menjalani operasi usus buntu setengah tahun kemudian. Pada pagi kedua, para perawat tak perlu lagi melihat papan nama di kaki ranjang untuk menyambutku, seolah mereka telah kenal aku selamanya. (Meskipun, pada saat itu aku telah terbiasa dengan namaku). Memang, namaku adalah nama yang diberikan orangtuaku kepadaku, bukan nama yang kuberikan pada diriku sendiri. Namun aku telah belajar menyahutnya dan menetap dalam tubuh yang menaunginya. Aku juga tak lagi mempertanyakan segala hak yang datang bersama nama itu, sampai suatu hari aku menyadari tak semua temanku bisa menuntut hak-hak itu: mendapat imunisasi, akses terhadap perawatan medis, masuk sekolah. Mengapa mereka tak bisa mendapatkan semua itu? Karena mereka tak punya akte kelahiran.

Dan tak hanya itu. Seorang teman sekelasku secara tak sengaja mengetahui bahwa ia diadopsi. Tapi ia tak akan pernah mengetahui orangtua kandungnya sebab mereka tak tercatat. Dalam akte kelahirannya, ia adalah anak orangtua angkatnya, meski yang  resmi belum tentu merupakan kebenaran. Selama hidupnya temanku telah hidup dalam sebuah dusta; ia mengira ia adalah orang lain. Entah mengapa, katanya, kita selalu tahu kalau ada yang kurang pas, ketika kita sendiri tidak pas. Mungkin ada dua sisi dalam diri kita—kita yang tahu dan kita yang tak pas.

Tapi bukan itu poinnya, tukasku. Sebelum kamu dapat mengetahui mengapa dan bagaimana kamu tidak pas, kamu harus diberitahu terlebih dahulu kamu siapa. Dan akte kelahiranmu seharusnya mencerminkan itu. Sedari awal kamu seharusnya memilikinya.

Anak-anak patut diperhitungkan, maka hitunglah kami.


Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.


 

Convention on the rights of the child
UNICEFIndonesia/2018/ShehzadNoorani

Pada tahun 1989, pemerintah di seluruh dunia menjanjikan hak yang sama untuk semua anak dengan mengadopsi Konvensi PBB tentang Hak Anak (CRC).

Konvensi menjamin apa yang harus dilakukan oleh negara-negara agar semua anak tumbuh sesehat mungkin, bisa belajar di sekolah, dilindungi, didengarkan pandangannya, dan diperlakukan secara adil.

Untuk Indonesia, sebagai bagian dari memperingati 30 tahun CRC yang jatuh pada bulan November 2019, UNICEF meminta penulis Indonesia Laksmi Pamuntjak untuk membantu kami mewujudkan beberapa artikel CRC ini.

Dengan inspirasi yang didapat dari foto dan gambar yang tersedia di database kami, serta kolaborasi dengan para spesialis program kami, Laksmi menulis 15 teks fiksi pada beberapa artikel yang paling relevan untuk konteks Indonesia.

Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.