Refleksi dari KHA Pasal 6

Semua anak berhak atas kehidupan. Pemerintah perlu memastikan bahwa anak bisa bertahan hidup dan tumbuh dengan sehat.

Laksmi Pamuntjak
Boys and a fallen mosque after the earthquake in Sulawesi 2018
UNICEFIndonesia/2018/KateWatson

14 November 2019

Sekarang, imaji-imaji itu telah lekat di benak kita. Anak-anak yang terperangkap di dalam lubang tatkala tanah di bawah kaki mereka mencair seperti agar-agar. Desa-desa yang menjelma tumpukan kayu dan beton. Menara masjid yang terkulai di tengah reruntuhan. Anggota Satuan Penyelamat yang menggarit di tengah puing mencari korban yang masih hidup. Kekacauan di bandara saat ratusan manusia mengemis-ngemis minta diterbangkan keluar. Orang-orang yang menenteng jerigen mengerumuni sebuah truk tangki, berebut bensin. 

Andai kau miskin, tak ada yang membuatmu lebih miskin sepesat dan sebrutal petaka alam dalam skala seperti ini. Tapi semua punya tanggal kadaluwarsa—bahkan bencana alam sekalipun. Setelah itu, imaji-imaji yang telah begitu lama menghantui kita pun akan pudar dari ingatan. Dan bersama itu, kisah-kisah manusia di baliknya. 

Dalam setiap narasi pasca-bencana, pemulihan adalah bagian terumit untuk dikisahkan. Dan ini bukan karena narasi pasca-bencana cenderung memusatkan perhatian kepada kisah-kisah ketahanan dan ketabahan manusia—sebuah aspek yang memberi penghiburan dan harapan—namun sebab di balik setiap kisah orang-orang yang selamat ada kisah tentang kehancuran dan penderitaan yang tak tercatat atau terucapkan. Mustahil setelah apa yang terjadi di Sulawesi—sebuah pulau dengan jumlah penduduk 18 juta orang, di mana lebih dari 2000 orang meninggal dunia, setidaknya 4400 orang luka-luka, dan 600.000 anak terpengaruhi hidupnya—untuk mencantumkan nilai moneter atas dampak fisik, finansial dan emosional pada para korban, apalagi anak kecil. 

Akhir-akhir ini, kota Palu telah mulai pulih.  Pasar mulai sibuk, pantai semakin hidup, para turis mulai kembali. Bagi kebanyakan dari mereka yang selamat, proses ‘memulai lagi’ adalah proses yang memakan waktu: membangun atap di atas kepala, mencari pekerjaan, menabung kembali, kembali ke sekolah, memperoleh akses ke perawatan kesehatan dan jaminan sosial, belum lagi mencoba menyelamatkan apa yang tersisa dari kenangan, warisan budaya, dan hubungan emosional dengan komunitas. 

Waktu adalah penyembuh, namun tugas menata ulang kehidupan—atau, seperti wejangan pada akhir Candide, novel karya Voltaire yang termahsyur, ‘merawat kebun kita’ (‘Il faut cultiver au jardin’—sebuah tribut kepada korban Gempa Bumi Lisbon tahun 1855)—membutuhkan kekuatan iman, niat baik dan komitmen yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.


Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.


 

Convention on the rights of the child
UNICEFIndonesia/2018/ShehzadNoorani

Pada tahun 1989, pemerintah di seluruh dunia menjanjikan hak yang sama untuk semua anak dengan mengadopsi Konvensi PBB tentang Hak Anak (CRC).

Konvensi menjamin apa yang harus dilakukan oleh negara-negara agar semua anak tumbuh sesehat mungkin, bisa belajar di sekolah, dilindungi, didengarkan pandangannya, dan diperlakukan secara adil.

Untuk Indonesia, sebagai bagian dari memperingati 30 tahun CRC yang jatuh pada bulan November 2019, UNICEF meminta penulis Indonesia Laksmi Pamuntjak untuk membantu kami mewujudkan beberapa artikel CRC ini.

Dengan inspirasi yang didapat dari foto dan gambar yang tersedia di database kami, serta kolaborasi dengan para spesialis program kami, Laksmi menulis 15 teks fiksi pada beberapa artikel yang paling relevan untuk konteks Indonesia.

Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.